Belajar IPS di SD Sekarang Dibantu AI: Seru atau Malah Bikin Ketergantungan?

Illustration by Alghozy on Unsplash

Jujur aja, sekarang pendidikan lagi ada di fase yang agak “goyang”. Teknologi masuk cepat banget, bahkan sampai ke sekolah dasar. Salah satu yang lagi hype adalah penggunaan Artificial Intelligence (AI) dalam pembelajaran, termasuk di pelajaran IPS. Kedengarannya keren, modern, dan “maju”. Tapi pertanyaannya, kita lagi meningkatkan kualitas belajar, atau justru tanpa sadar bikin anak jadi serba instan?


Selama ini, IPS di SD sering dianggap pelajaran hafalan yang ngebosenin. Banyak teori, sedikit praktik. Nah, AI datang seolah jadi “penyelamat”. Materi bisa dibuat lebih visual, ada peta interaktif, simulasi kehidupan sosial, bahkan penjelasan yang lebih simpel. Anak-anak jadi lebih tertarik, lebih engaged, dan nggak cepat bosan. Dari sini, kelihatannya AI memang solusi. Tapi kalau dipikir lebih dalam, ada hal yang agak mengganggu. Jangan-jangan yang kita kejar cuma “biar kelihatan seru”, tapi lupa esensi belajar itu sendiri. IPS itu bukan sekadar tahu jawaban, tapi soal memahami kehidupan sosial, melatih empati, dan berpikir kritis. Kalau semua bisa dijawab cepat lewat AI, dimana proses mikirnya? Di mana usaha anak untuk mencoba dan memahami? Masalahnya, anak SD itu lagi di fase penting banget. Mereka lagi belajar cara berpikir, bukan cuma mencari jawaban. Kalau dari awal mereka sudah terbiasa dibantu terus sama teknologi, ada risiko mereka jadi kurang mandiri. Sedikit-sedikit tanya AI, sedikit-sedikit cari jawaban instan. Ini yang menurutku cukup bahaya, tapi sering luput dibahas.


Belum lagi soal realita di lapangan. Kita ngomongin AI, tapi faktanya nggak semua sekolah siap. Masih banyak sekolah yang fasilitasnya terbatas, bahkan akses internet aja belum stabil. Guru juga belum tentu semua paham cara pakai AI secara efektif. Jadi, kalau dipaksakan, yang terjadi bukan inovasi, tapi malah ketimpangan baru dalam pendidikan. Sebagai mahasiswa, aku melihat fenomena ini agak dilematis. Di satu sisi, AI memang peluang besar. Pendidikan bisa jadi lebih menarik, lebih fleksibel, dan lebih sesuai sama perkembangan zaman. Tapi di sisi lain, ada kecenderungan kita terlalu cepat “ikut tren” tanpa benar-benar siap. Seolah-olah yang penting pakai teknologi, tanpa mikirin dampak jangka panjangnya.


Menurutku, kita perlu lebih jujur melihat situasi ini. AI itu bukan solusi ajaib yang langsung bikin pendidikan jadi lebih baik. Kalau penggunaannya asal-asalan, justru bisa menggeser tujuan belajar itu sendiri. Anak jadi fokus ke hasil, bukan proses. Padahal, di IPS, proses memahami itu jauh lebih penting daripada sekadar jawaban benar atau salah. AI tetap bisa jadi alat yang sangat membantu. Tapi posisinya harus jelas, sebagai alat bantu, bukan pusat pembelajaran. Guru tetap jadi aktor utama. Interaksi, diskusi, dan pengalaman belajar langsung tetap nggak bisa digantikan.Tantangan terbesar bukan di teknologinya, tapi di mindset kita. Kita terlalu cepat menganggap sesuatu yang “canggih” itu pasti lebih baik. Padahal, belum tentu sesuai dengan kebutuhan siswa, apalagi anak SD. Mereka butuh proses, butuh bimbingan, dan butuh pengalaman nyata, bukan cuma jawaban cepat. 


AI di pembelajaran IPS ini memang bisa jadi inovasi yang keren. Tapi kalau nggak dikontrol, juga bisa jadi pintu masuk ke masalah baru, generasi yang pintar mencari jawaban, tapi kurang terlatih untuk berpikir. Dan ini jauh lebih berbahaya. Karena pada akhirnya, pendidikan bukan cuma soal siapa yang paling cepat menemukan jawaban, tapi siapa yang benar-benar paham dan mampu mengolah pemikirannya sendiri. Kalau anak sejak kecil sudah terbiasa bergantung pada AI, ada kemungkinan mereka jadi kurang terbiasa menghadapi proses belajar yang sebenarnya. Padahal, belajar itu tidak selalu instan. Ada fase bingung, salah, mencoba lagi, dan justru di situlah proses berpikir terbentuk. Jika semua dipermudah, proses penting ini bisa hilang.


Dampaknya juga bisa terlihat pada cara mereka memahami kehidupan sosial. Dalam pembelajaran IPS, siswa diajak untuk memahami realitas masyarakat, perbedaan, dan nilai-nilai sosial. Namun, jika semuanya hanya didapat dari AI tanpa pengalaman langsung atau diskusi, pemahaman yang terbentuk bisa jadi kurang mendalam. Informasi memang didapat, tapi maknanya belum tentu benar-benar dipahami. Karena itu, penggunaan AI dalam pembelajaran perlu diarahkan dengan jelas. Teknologi seharusnya menjadi alat bantu, bukan pengganti proses belajar. Jika tidak dikontrol dengan baik, bukan tidak mungkin pendidikan justru menghasilkan generasi yang cepat dalam menemukan jawaban, tetapi kurang kuat dalam berpikir dan memahami.


***


Penulis: Dian Ayu Ningtias, Mahasiswi Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta 


Penyunting: Azizah Octimilena


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama