| Photo by Dhiyo Nugraha on Unsplash |
Di balik viralnya konten Pandawara
Group atau biasa disebut Pandawara, menyingkap kebenaran tentang masalah sampah
yang tak kunjung selesai selama ini. Pandawara adalah kelompok relawan berisi 5
pemuda asal Bandung yang membuat konten viral di Tiktok dengan membersihkan
banyak tempat-tempat, terutama tempat saluran air seperti selokan, pantai, dan
sungai. Konten-konten mereka meledak di platform Tiktok dan banyak mendapatkan
perhatian dari warganet. Viralnya konten bersih-bersih Pandawara yang
seharusnya mampu menginspirasi banyak orang untuk menjaga lingkungannya, justru
malah mengungkap cara pandang masyarakat terutama di Indonesia tentang sampah
dan lingkungan.
Masalah sampah sepertinya sudah
menjadi hal yang tidak selesai-selesai dari waktu ke waktu. Misteri sampah yang
banyak bersarang di dalam selokan sehingga banjir menerjang, sampah yang
berenang-renang di sungai kecil hingga besar yang ironisnya berada di kota-kota
pusat mobilitas masyarakat Indonesia. Sebenarnya siapa yang harus disalahkan
dari permasalahan sampah ini? Pandawara yang mencoba membersihkan sampah-sampah
ternyata mampu menjawab rasa penasaran dari pelaku permasalahan sampah ini.
Tanggung jawab yang paling besar dipegang bukan oleh pemerintah saja, tetapi
juga masyarakat sendiri.
Konten edukasi Pandawara tentang
sampah tanpa pamrih, mereka membersihkan tempat-tempat itu secara ikhlas tanpa
mengharap balas. Kerelaan Pandawara dalam membersihkan sampah lucunya malah
dianggap sebagai tugas wajib yang memang dipegang oleh Pandawara. Tidak sedikit
warganet yang dengan tidak tahu diri mengajukan tempat di daerahnya yang penuh
sampah untuk didatangi oleh Pandawara alih-alih menggerakkan masyarakat sekitar
untuk membersihkan tempat itu sendiri. Selain meminta Pandawara datang,
warganet juga banyak sekali yang hanya bisa menyalahkan pemerintah. Menyalahkan
kurangnya peran pemerintah dalam menanggulangi masalah sampah seolah-olah
menjadi hal yang bisa dibenarkan.
Pada salah satu konten Pandawara,
mereka sedang melakukan aksi besar-besaran yaitu membersihkan sungai Citarum
yang padat oleh sampah hingga air di sana tidak bisa mengalir sama sekali.
Pandawara berhasil membersihkan sungai itu hingga 700 meter panjangnya, dan
berhasil mengangkat sampah seberat 351,4 Ton. Aksi ini menghabiskan tidak
sedikit biaya dan tenaga, biaya yang dikeluarkan untuk aksi ini sejumlah 100
juta rupiah. Mirisnya sungai Citarum kembali kotor setelah beberapa bulan
menjadi sungai yang normal.
Kegagalan menjaga sungai Citarum
menimbulkan kekecewaan oleh Pandawara. Pandawara mulai membuat konten
mengunjungi tempat-tempat yang pernah mereka bersihkan. Mirisnya banyak
tempat-tempat yang mereka sudah bersihkan kembali kotor dan alat yang dipasang
oleh Pandawara untuk menahan sampah yang mengalir malah banyak dicuri oleh
oknum tidak bertanggungjawab. Kemudian Pandawara kembali membuat konten yang
menyoroti bagaimana oknum-oknum tidak bertanggungjawab sedang membuang sampah
ke sungai atau ke selokan.
Masalah sampah yang disebabkan oleh
masyarakat lainnya juga ditemukan dalam konten yang disajikan Pandawara, banyak
oknum masyarakat yang menyepelekan untuk memilah sampah sebelum dibuang.
Memilah sampah berdasarkan kategorinya juga dianggap hanya dilakukan sebagai
formalitas di tempat sampah yang disediakan pemerintah saja. Padahal pemilahan
sampah sangat penting untuk dilakukan. Di konten Pandawara banyak ditemukan
sampah yang berbahaya yang dibuang sembarangan. Sampah seperti kaca, paku,
bahkan sampah medis yang mampu menularkan virus dan bakteri seperti jarum
suntik dan alat kontrasepsi.
Pandawara Group menjadi cermin yang
menunjukkan masih banyak masyarakat yang membuang sampah sembarangan. Bukan
hanya itu, konten Pandawara menunjukkan kepedulian dan empati masyarakat banyak
yang berhenti sekadar di media sosial. Pada kolom komentar, banyak orang
menjadi sosok yang sangat peduli terhadap kebersihan dan lingkungan. Mereka
marah ketika melihat sungai dipenuhi sampah, merasa prihatin melihat pantai
yang kotor, dan memuji aksi yang dilakukan Pandawara. Dukungan dan kata-kata
apresiasi terus memenuhi media sosial setiap kali video mereka diunggah dan
menjadi viral.
Namun, pada kenyataannya, banyak
dari mereka tidak pernah melakukan aksi nyata untuk melestarikan lingkungan.
Kepedulian yang ditunjukkan sering kali hanya bertahan selama video itu
ditonton. Setelah itu, kebiasaan lama kembali dilakukan. Sampah masih dibuang
sembarangan, penggunaan plastik sekali pakai tetap berlebihan, dan lingkungan
masih diperlakukan seolah-olah akan selalu ada orang lain yang membersihkannya.
Kesadaran masyarakat terhadap lingkungan akhirnya hanya menjadi bentuk
kepedulian sesaat yang ramai di media sosial, tetapi sepi dalam tindakan nyata.
Fenomena ini menunjukkan bahwa
masalah lingkungan bukan hanya tentang
banyaknya sampah yang menumpuk di sungai atau jalanan, tetapi juga
tentang pola pikir masyarakat yang belum berubah. Banyak orang ingin lingkungan
bersih, tetapi tidak ingin ikut menjaga kebersihannya. Mereka lebih nyaman
menjadi penonton yang memuji dibanding menjadi bagian dari solusi itu sendiri.
Aksi Pandawara menunjukkan bahwa
masalah sampah terletak pada tanggungjawab yang dilempar lemparkan tanpa adanya
kesadaran terhadap diri sendiri. Menyalahkan pihak lain, misalnya pemerintah
adalah aksi yang paling mudah dilakukan. Kolom komentar sosial media adalah
tempat yang paling mudah untuk memuji dan memberikan dukungan sekaligus tempat
yang paling mudah digunakan untuk melontarkan cacian dan hujatan. Konten
kebersihan Pandawara memperlihatkan kontras antara kepedulian di internet dan
kelakuan di dunia nyata yang tetap buruk. Dapat dilihat masalah sampah sangat
sulit untuk diatasi karena pola hidup masyarakat itu sendiri. Kurangnya kesadaran
bahwa sampah harus dibuang di tempatnya, bukan di selokan ataupun di sungai.
Juga kurangnya koordinasi antar masyarakat untuk menjaga dan membersihkan
lingkungan secara rutin.
Dari fenomena viralnya Pandawara
Group, seharusnya masyarakat menyadari bahwa masalah sampah merupakan tanggung
jawab yang harus diemban oleh seluruh elemen, mulai dari pemerintah,
masyarakat, hingga para pendatang atau imigran yang tinggal di suatu
lingkungan. Permasalahan sampah bukanlah persoalan yang bisa diselesaikan oleh satu
pihak saja. Pemerintah memang memiliki peran dalam menyediakan fasilitas,
membuat kebijakan, dan menjaga sistem pengelolaan lingkungan tetap berjalan.
Namun, semua itu tidak akan cukup apabila masyarakat masih memiliki kebiasaan
membuang sampah sembarangan dan tidak memiliki kesadaran untuk menjaga
lingkungan di sekitarnya.
Sampah tidak akan mampu diatasi jika
tidak ada kerja sama dari semua pihak. Lingkungan yang bersih tidak tercipta
hanya karena adanya petugas kebersihan, relawan, atau komunitas seperti
Pandawara, tetapi karena adanya rasa tanggung jawab bersama. Jika masyarakat
hanya menunggu orang lain bergerak, sementara kebiasaan buruk terus dilakukan,
maka masalah sampah akan terus berulang. Oleh sebab itu, viralnya Pandawara
seharusnya tidak hanya menjadi tontonan yang menghibur atau menginspirasi
sesaat, melainkan menjadi pengingat bahwa menjaga lingkungan merupakan
kewajiban bersama yang harus dimulai dari kesadaran diri masing-masing.
***
Penulis: Najwa Isyqa Haruma, Mahasiswi Program Studi Bahasa & Sastra Indonesia, Universitas Gadjah Mada
Penyunting: Melinda Sintawati