![]() |
| Photo by Robin Edqvist on Unsplash |
Saya yakin bukan cuma saya yang baru ngedate sekali dan chattingan seminggu, tapi udah mikirin mau nikah adat apa dan bakal selucu apa anak kami nanti. Tapi belakangan ini saya justru bertanya, “kalau saya ga ngebayangin hal manis kaya gitu, saya tetap jatuh cinta sama orang itu ngga ya?”
Hubungan kami waktu itu bahkan belum dimulai. Kami hanya mengobrol sepanjang perjalanan saat dia mengantar saya sepulang sekolah. Namun malamnya, saya berbaring di kasur dan mengulik media sosial dia lebih dalam. Saya sibuk membayangkan hal-hal yang terlalu jauh: bagaimana nanti kami jadian, menikah, dan menjalani hidup bahagia berdua.
One night I was bored in bed, And stalked you on the internet
It's feminine intuition, 'Cuz I always had a vision of us standing like this
Lirik tersebut dalam lagu Drop Dead oleh Olivia yang belum lama ini rilis, membuat saya mengira sepertinya Olivia sedang membeberkan pengalaman pribadi saya. Secara garis besar, menurut saya lagu ini bercerita tentang perasaan yang begitu intens terhadap seseorang sampai-sampai bisa “mati mendadak” hanya karena dicium olehnya. Perasaan tersebut digambarkan Olivia dengan rasa penasaran, delusi, hingga mau muntah karena cemas apakah orang itu benar-benar nyata saking sempurnanya. Dalam lagu itu, saya sebagai orang yang sedang dimabuk cinta itu seolah hidup dalam kemungkinan yang saya ciptakan sendiri.
Fenomena ini sering dianggap sekadar delusi lucu khas Gen Z. Sampai-sampai, banyak pengguna media sosial yang menggunakan lagu ini sebagai tren yang menceritakan bahwa mereka juga sudah berfantasi dahulu sebelum menjalin hubungan sebenarnya.
Pada akhirnya, momen ini menunjukkan sesuatu yang cukup menarik bagi saya: manusia seringkali lebih jatuh cinta pada fantasi mereka sendiri dibanding mencintai orang yang nyata ada di hadapannya.
Jatuh Cinta Tidak Sama dengan Mencintai
Dalam The Art of Loving (1956) Erich Fromm membedakan antara Falling in Love dan Loving.
Jatuh cinta digambarkan Fromm sebagai pengalaman ketika batasan “dinding” antara dua orang yang sebelumnya asing mendadak runtuh. Proses ini terjadi secara spontan dan tanpa direncanakan. Orang yang jatuh cinta biasanya akan merasa hari-harinya berjalan seperti bunga yang bermekaran. Namun layaknya bunga segar pada umumnya, ia akan layu juga seiring waktu berjalan.
Sementara itu, mencintai adalah proses yang jauh berbeda. Mencintai adalah keputusan yang seseorang ambil untuk menyatukan dua belah jiwa menjadi satu kesatuan. Mencintai bukanlah hanya perasaan, melainkan kemampuan yang membutuhkan perhatian, tanggung jawab, dan usaha untuk benar-benar mengenal orang lain sesuai realitanya. Orang yang mencintai sudah tidak hanya berfokus pada apa yang dia terima, tetapi apa yang bisa dia berikan.
Kalau saya merefleksikan definisi ini pada diri saya dulu, mungkin saya memang belum benar-benar mencintai cowok itu. Saya hanya baru berada pada fase jatuh cinta, dimana saya seolah sudah merasa sangat dekat dan membangun cerita berkepanjangan di kepala saya dengan hanya berpijak pada satu obrolan yang menyenangkan. Drop Dead menggambarkan gejala ini dengan akurat. Lagu ini bukan menceritakan hubungan yang sudah matang, melainkan tentang gempita ketika seseorang menjadi pusat dunia kita.
Jatuh Cinta pada Kemungkinan yang Belum Menjadi Kenyataan
Fromm menjelaskan jatuh cinta sebagai kejadian yang alami bagi manusia. Namun, kalau memang Drop Dead memotret fenomena jatuh cinta, mengapa saya merasa sebuah kemungkinan yang saya ciptakan sendiri bisa terasa begitu nyata?
Di sinilah pemikiran Søren Kierkegaard terasa relevan. Dalam The Sickness Unto Death (1849), Kierkegaard banyak membahas bagaimana manusia hidup di antara kenyataan dan berbagai kemungkinan yang ia bayangkan.
Manusia memiliki jiwa dan pikiran yang tidak dibatasi realitas. Dengan hal itu, manusia dapat menghidupkan kemungkinan yang akan tampak selalu lebih indah dari kenyataan yang terbatas. Dalam kemungkinan atau fantasi, tidak akan ada pertengkaran, perbedaan nilai atau perbuatan yang mengganggu. Membayangkan masa depan yang indah dapat menjadi kegiatan yang menyenangkan bagi manusia.
Tak heran jika imajinasi kita sering kali melesat lebih jauh daripada kenyataan. Baru beberapa kali bertemu, kita sudah membayangkannya bertemu orang tua. Baru seminggu chattingan sudah membayangkan tinggal serumah. Saya ternyata sedang jatuh cinta pada hubungan sempurna yang saya tulis sendiri.
Lalu Apakah Berfantasi itu Salah?
Dalam keseharian, kita sering mengejek orang yang terlalu cepat membayangkan masa depan sebagai “halu”. Padahal mungkin yang sedang kita lihat bukan sekedar delusi romantisnya, melainkan cara manusia bekerja. Harapan yang tumbuh sebelum hubungan itu benar-benar terjadi seringkali bermula dari kemungkinan yang kita rangkai sendiri. Dalam arti tertentu, yang membuat kita berani jatuh cinta bukan hanya keberadaan seseorang, tetapi juga kemampuan kita membayangkan kemungkinan hidup bersamanya.
Namun satu hal yang tetap harus kita waspadai, kesenangan hasil dari berimajinasi bisa saja bersifat menipu. Barangkali, fase jatuh cinta memang terasa begitu memabukkan karena pada saat yang sama kita sedang hidup di dalam kemungkinan yang kita ciptakan sendiri. Masalah muncul ketika kita terlalu sibuk jatuh cinta pada kemungkinan tersebut sampai lupa untuk mencintai orang itu dengan sungguh-sungguh.
Mungkin itulah yang saya coba ulik lebih dalam tentang Olivia dan Drop Dead. Bagaimana jika Drop Dead bukan hanya tentang jatuh cinta, tetapi tentang betapa mudahnya kita mencintai masa depan bersama seseorang yang bahkan belum kita cintai sepenuhnya.
Jika kamu sedang jatuh cinta, coba tanyakan kembali pada dirimu, "Apakah aku sedang mencintai dia, atau hanya sedang mencintai versi dirinya yang kubuat sendiri?"
Objek kajian:
Lagu: Drop Dead
Penyanyi: Olivia Rodrigo
Album: You Seem Pretty Sad for a Girl So in Love
Tahun rilis: 2026
***
Penulis: Cut Dzakira Afina, Mahasiswi Program Studi Psikologi, Universitas Pendidikan Indonesia
Penyunting: Melinda Sintawati
Referensi:
Fromm, Erich. The Art of Loving. Harper & Brothers, 1956.
Kierkegaard, Søren. The Sickness Unto Death. 1849 dalam artikel Kierkegaard's world part 8: God and possibility oleh Clare Carlisle https://www.theguardian.com/commentisfree/belief/2010/may/03/religion-philosophy-kierkegaard-possibility-god
