Membedah Kebebasan Mutlak Versus Kebebasan Terbatas Dalam Karakter Eren Yeager dan Armin Arlert

Photo by michaelnashville

Ketika membahas kebebasan, kita kerap dihadapkan akan dua pertanyaan besar mengenai hal ini. Apakah kebebasan adalah sesuatu yang seharusnya bersifat mutlak dan absolut, sehingga tidak berhak untuk dibatasi oleh apapun? Atau justru kebebasan adalah sesuatu yang harus dibatasi? Dalam artikel ini, kita akan membedah konsep mengenai kebebasan dari dua karakter dalam anime Shingeki No Kyojin/Attack On Titan yaitu Eren Yeager dan Armin Arlert.

Dalam ceritanya, Eren dan Armin adalah sepasang sahabat masa kecil yang sama-sama tinggal di pulau Paradis. Eren adalah seseorang yang sangat menginginkan kebebasan, karena dia percaya bahwa manusia adalah makhluk yang bebas dalam menentukan nasibnya dan tidak boleh ada satupun yang mengekang manusia dalam mencapai kebebasan tersebut. Pandangan Eren tersebut sangat berbeda dengan sahabatnya yaitu Armin. Bagi Armin, sebuah kebebasan haruslah dibatasi oleh moral yang ada. Karena jika kebebasan tersebut tidak dibatasi, maka akan memberikan dampak yang mengerikan. 

Gejolak pemikiran antara Eren dan Armin mengenai kebebasan tersebut sangat terlihat dalam peristiwa Rumbling. Dalam peristiwa tersebut, Eren menilai bahwa satu-satunya cara untuk mencapai kebebasan yang dia inginkan adalah dengan mengambil kebebasan yang dimiliki oleh orang lain. Dengan kekuatan Founding Titan yang dimilikinya, Eren mengendalikan seluruh Wall Titan di pulau Paradis untuk membinasakan umat manusia yang ada dan hanya menyisakan manusia di pulau Paradis, yang merupakan tempat kelahirannya. Eren sangat mengetahui bahwa membinasakan umat manusia adalah tindakan yang sangat kejam dan tidak bermoral. Namun, meski mengetahui akan hal itu, Eren terus maju ke depan, menghabisi setiap musuhnya demi mencapai kebebasan yang dia inginkan. Karena bagi Eren, kebebasan yang ingin dicapai tidak bisa dibatasi oleh hal apapun seperti moral. Tindakan Rumbling yang dilakukan oleh Eren, tentu ditentang oleh Armin yang masih memegang teguh prinsip bahwa untuk mencapai kebebasan, tidak etis jika dilakukan dengan membunuh dan merenggut kebebasan yang dimiliki orang lain. Dari sinilah terbagi dua kubu antara Eren dengan prinsip kebebasan mutlak melawan Armin dengan kebebasan terbatasnya. Peristiwa rumbling inilah yang menjadi bukti bahwa meskipun Eren dan Armin bersahabat, namun persahabatan mereka menjadi hancur karena perbedaan cara memandang sebuah kebebasan.

Menariknya, pertarungan gagasan antara kebebasan mutlak melawan kebebasan terbatas ini juga pernah terjadi dalam sejarah umat manusia. Manusia yang menjadi aktor dalam pertarungan konsep kebebasan ini adalah Jean Paul Sartre dan Albert Camus. Dalam karyanya yaitu Being & Nothingness, Jean Paul Sartre berpendapat bahwa manusia memiliki kebebasan radikal. Sartre berpendapat bahwa tindakan kekerasan adalah hal yang bisa dimaklumi untuk mencapai kebebasan dan perubahan dalam tatanan sosial politik. Namun, pandangan kebebasan radikal Sartre tersebut ditentang oleh Albert Camus yang berpendapat bahwa konsep kebebasan yang dibuat oleh Sartre adalah sebuah ilusi yang sangat berbahaya dan bisa memberikan dampak negatif seperti akan merusak solidaritas jika tidak dibatasi. Pandangan dua tokoh ini memantik kita untuk bertanya. Apakah benar sebuah kebebasan haruslah bersifat radikal dan tidak boleh dibatasi oleh hal apapun seperti yang diungkapkan Sartre? Atau justru, sebuah kebebasan tetaplah harus dibatasi agar kebebasan tersebut tidak kebablasan dan menimbulkan dampak negatif seperti yang diungkapkan oleh Camus? Kebebasan versi siapa yang paling benar? Tentunya itu akan tergantung kepada pemikiran dan prinsip yang kita pegang.

Melalui artikel ini, saya ingin mengajak teman-teman pembaca untuk tidak meremehkan kedahsyatan cerita dalam suatu karya fiksi. Karena, jika kita benar-benar mau untuk menganalisis cerita di dalam sebuah karya fiksi, maka kita akan dibuat takjub bahwa ternyata banyak sekali hal-hal baru yang bisa kita pelajari dan dapatkan dalam sebuah karya fiksi. Sehingga, pembelajaran yang kita lakukan bisa bervariasi dan tidak terpaku hanya dari sumber formal seperti sekolah, perkuliahan, dan sebagainya. Karena sejatinya, sebagai seorang manusia, kita akan selalu bisa untuk belajar dari berbagai hal yang ada di dunia ini.

***

Penulis: Defri Al Ausath Nugraha, Mahasiswa Program Studi Psikologi, Universitas Pendidikan Indonesia

Penyunting: Merlyn Valencia Sekarwangi

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama