![]() |
| Illustration: AI Generated by ChatGPT |
“Jangan ditunjukkan kalau kamu sedang sedih.”
Kalimat itu mungkin tidak pernah diajarkan secara langsung. Namun, banyak orang yang seolah-olah menjadikannya prinsip hidup. Di media sosial, kita terbiasa melihat foto-foto yang aesthetical, pencapaian yang dibagikan, dan senyum yang tampak tulus. Sementara itu, kegagalan, kesepian, dan kecemasan nya sering kali disimpan di balik layar.
Fenomena ini melahirkan sebuah paradoks. Dimana di satu sisi, generasi muda semakin terbuka membicarakan kondisi mental nya. Di sisi lain, masih banyak orang yang enggan menunjukkan bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja. Bukan karena tidak memiliki masalah, melainkan karena ada satu hal: mereka tidak ingin dikasihani.
Tidak sedikit orang yang memilih tetap terlihat kuat ketika hidup sedang berantakan. Seperti mereka yang datang ke kelas setelah semalaman menangis, juga mereka yang tetap menyelesaikan pekerjaannya walau pikirannya penuh cemas. Dari luar, perilaku ini sering dianggap sebagai bentuk kepura-puraan. Namun, benarkah begitu?
Dalam beberapa tahun terakhir, ungkapan “fake it till you make it” menjadi semakin populer. Ungkapan ini biasanya dipahami sebagai ajakan untuk bertindak seolah-olah telah memiliki kualitas tertentu hingga kualitas itu benar-benar terbentuk. Seseorang yang kurang percaya diri, misalnya, didorong untuk bertindak percaya diri terlebih dahulu. Meski sering terkesan klise, gagasan tersebut menyimpan pertanyaan yang menarik: “Apakah setiap tindakan yang belum sepenuhnya sesuai dengan kondisi batin dapat disebut sebagai kepalsuan?”
Media sosial yang semakin bergeser menjadi ruang dalam membangun citra diri di masa kini, membuat pertanyaan ini semakin relevan. Kita memilih foto terbaik untuk diunggah, menuliskan versi hidup yang ingin ditampilkan, dan sering kali menyembunyikan bagian-bagian yang dianggap tidak menarik. Akibatnya, muncul anggapan bahwa menampilkan diri yang kuat ketika sedang rapuh berarti sedang memakai topeng.
Padahal, hidup tidak selalu sesederhana itu.
Ada perbedaan antara menipu diri sendiri dan berusaha menjadi versi diri yang lebih baik. Seseorang yang sedang belajar percaya diri mungkin memang belum sepenuhnya percaya pada dirinya. Namun keberanian untuk tetap berbicara, mencoba, dan tampil di hadapan orang lain justru menjadi proses yang membentuk rasa percaya diri tersebut.
Gagasan ini sejalan dengan pemikiran filsuf Prancis; Albert Camus, dalam The Myth of Sisyphus. Dikisahkan Sisyphus (tokoh dalam mitologi Yunani) yang dihukum untuk mendorong batu ke puncak gunung hanya untuk melihatnya menggelinding kembali, sebagai gambaran kehidupan manusia dimana kita memiliki harapan, tujuan, dan rencana, tetapi dunia tidak selalu berjalan sesuai keinginan kita. Ada kegagalan yang datang tanpa aba-aba, kehilangan yang tidak dapat dihindari, dan usaha yang tidak selalu berakhir dengan keberhasilan.
Camus menganggap pertemuan antara harapan manusia dan ketidakpedulian dunia sebagai kondisi yang disebut “absurd”. Namun yang menarik, ia tidak menganggap absurditas itu sebagai alasan untuk menyerah. Sebaliknya, ia menulis bahwa “One must imagine Sisyphus happy”. (kita harus membayangkan Sisyphus bahagia).
Bagi Camus, kemenangan Sisyphus bukan terletak pada keberhasilannya mencapai puncak gunung. Kemenangannya terletak pada kesediaannya untuk terus mendorong batu tersebut. Ia sadar bahwa pekerjaannya tidak akan pernah selesai, tetapi memilih untuk tetap menjalankannya.
Di sinilah fenomena generasi yang tidak mau dikasihani itu menjadi menarik untuk dibahas. Ketika seseorang tetap menjalani hari-harinya di tengah fase “life after break up” nya, ketika seseorang tetap berusaha terlihat tenang saat menghadapi ketidakpastian hasil pengumuman PTN nya, mungkin ia tidak sedang berpura-pura bahagia, mungkin juga ia sedang tidak membohongi dirinya sendiri. Tapi bisa jadi, ia sedang melakukan apa yang dilakukan Sisyphus: terus mendorong batu.
Tentu, bukan berarti semua emosi harus dipendam. Kesadaran akan pentingnya mengeluarkan emosi mengajarkan bahwa meminta bantuan bukanlah tanda kelemahan. Ada saat ketika seseorang perlu berbicara, mencari dukungan, dan mengakui bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja. Namun di saat yang sama, tidak semua bentuk ketegaran dapat dianggap sebagai penyangkalan.
Sebagian orang bertahan bukan karena mereka tidak terluka, melainkan karena mereka memilih untuk terus bergerak meskipun terluka.
Mungkin itu sebabnya banyak orang tidak ingin dikasihani. Mereka tidak sedang menyangkal rasa sakit yang dimiliki. Mereka hanya tidak ingin identitasnya disimpulkan menjadi penderitaan yang sedang dialami. Mereka ingin dilihat sebagai manusia yang terus berusaha, bukan sebagai korban dari keadaan.
Pada akhirnya, hidup memang tidak selalu memberikan alasan yang cukup untuk tetap optimis. Dunia tidak menjanjikan bahwa setiap usaha akan berhasil atau setiap luka akan segera sembuh. Namun seperti Sisyphus yang terus mendorong batunya, manusia tetap memiliki kebebasan untuk menentukan sikap terhadap keadaan yang dihadapinya.
Dan mungkin, di tengah budaya yang menuntut kita untuk selalu memilih antara menjadi “apa adanya” atau “kuat”, ada kemungkinan lain yang sering terlewat: bahwa menjadi kuat, kadang merupakan bagian dari proses menjadi diri sendiri.
***
Penulis: Desyah Mahadhamis, Mahasiswi Program Studi Psikologi, Universitas Pendidikan Indonesia.
Penyunting: Melinda Sintawati
Daftar Pustaka
Camus, A. (1955). The Myth of Sisyphus and Other Essays (J. O’Brien, Trans.). Vintage Books.
Frankl, V. E. (2006). Man’s Search for Meaning. Beacon Press.
Turkle, S. (2017). Alone Together: Why We Expect More from Technology and Less from Each Other. Basic Books.
Goffman, E. (1959). The Presentation of Self in Everyday Life. Anchor Books.
