Barangkali Dewasa Membuat Kita Terlalu Sibuk Mencari Celah Paling Absolut di Balik Kata “Seandainya”

Ilustrasi: Pinterest

Ada satu kutipan yang aku suka dari Søren Kierkegaard, seorang filsuf asal Denmark, yang menggambarkan sebuah paradoks dalam kehidupan manusia, “Life can only be understood backwards; but it must be lived forwards.” Kutipan ini seolah mengingatkan bahwa hidup tidak pernah membuka dirinya sekaligus. Ia baru memperlihatkan maknanya ketika telah berubah menjadi kenangan. Sementara manusia tidak pernah diberi kemewahan untuk berhenti dan memahami lebih dulu; ia hanya diminta terus melangkah, bahkan ketika jalan di depannya masih diselimuti kemungkinan-kemungkinan yang tidak pernah pasti.

Ketika aku duduk di bangku sekolah dasar, aku selalu melihat ke atas. Ke atas dalam artian, aku selalu melihat dan menerka bahwa menjadi orang dewasa itu menyenangkan, ada kebebasan yang aku lihat ketika kita menjadi dewasa. Aku yang kecil pun optimis, menjadi dewasa adalah suatu hal yang paling dinanti-nanti. Pada usia itu, kedewasaan terlihat seperti garis akhir yang ingin segera kucapai. Namun, waktu adalah penulis yang gemar mengubah isi naskah tanpa meminta persetujuan tokoh-tokohnya.

Usia perlahan membawaku mendekati kehidupan yang dahulu begitu kunantikan, aku justru memahami bahwa menjadi dewasa tidak pernah sesederhana yang kubayangkan. Ketika di usiaku saat ini, aku banyak menghabiskan waktu dengan teman sebaya. Obrolan kami bukan lagi selalu tentang permainan seru yang menimbulkan gelak tawa, bukan lagi tentang permen gulali enak yang laris terjual, tetapi tentang langkah-langkah perencanaan akan masa depan dan bagaimana jika langkah tersebut tidak seperti yang kita rancang. Percakapan itu kemudian menimbulkan pertanyaan yang terus berulang; apakah hidup yang sedang kami jalani sudah merupakan pilihan yang tepat? atau akankah ada kebahagiaan yang lebih menjanjikan di antara kemungkinan yang tak sempat kita pilih?

Barangkali setiap generasi memiliki bentuk kegelisahannya sendiri. Namun, generasi hari ini hidup dengan satu beban yang berbeda. Kita tidak hanya menjalani kehidupan, tetapi juga terus-menerus menyaksikan kehidupan orang lain. Setiap hari kita berjalan melewati rak-rak yang dipenuhi dengan pencapaian, perayaan, atau sekadar cuplikan yang tampak lebih bahagia daripada kita. Tanpa disadari, kita mulai mengukur hidup berdasarkan kehidupan yang bahkan bukan milik kita. Kemudian, muncul satu kata yang diam-diam menjadi teman sehari-hari: seandainya.

Seandainya aku tidak menyerah waktu itu.

Seandainya aku mengambil kesempatan tersebut.

Seandainya aku menjadi orang yang berbeda.

“Seandainya” mungkin hanyalah sebuah kata. Namun di dalamnya tersembunyi seluruh semesta yang tidak pernah lahir. Kemudian muncul kekhawatiran; mengapa manusia begitu mudah terikat pada kehidupan yang tidak pernah ia jalani? Mengapa kita sering kali meyakini bahwa kebahagiaan selalu berada di jalan yang tidak kita pilih?

Pertanyaan-pertanyaan inilah yang kemudian kutemukan kembali ketika membaca The Midnight Library karya Matt Haig. Novel tersebut berkisah tentang seorang perempuan bernama Nora Seed, yang berada di ambang antara hidup dan mati, lalu memasuki sebuah perpustakaan yang menyimpan berbagai kemungkinan dalam kehidupannya. Setiap buku menghadirkan kemungkinan kehidupan yang berbeda, seolah memberinya kesempatan untuk mengulang pilihan-pilihan yang pernah disesali.

Sekilas, kisah itu tampak seperti fantasi tentang kesempatan kedua. Namun, jika dibaca lebih dalam, The Midnight Library justru berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih dekat dengan pengalaman manusia modern, yaitu kecenderungan untuk terus membayangkan bahwa selalu ada kehidupan lain yang lebih layak dijalani daripada kehidupan yang sedang dihidupi. 

Menariknya, kehidupan yang tidak pernah kita jalani hampir selalu terlihat lebih indah dan bahagia daripada kehidupan yang sedang kita jalani. Kemungkinan-kemungkinan itu tidak pernah mengalami kegagalan karena memang tidak pernah benar-benar terjadi. Kita bebas mengisinya dengan bayangan tentang karir yang lebih baik, hubungan yang lebih sehat, atau keputusan yang lebih tepat. Sementara kehidupan yang sedang kita jalani selalu dipenuhi oleh keterbatasan, konflik, dan ketidaksempurnaan yang nyata.

Barangkali karena itulah manusia begitu mudah jatuh pada ilusi bahwa kebahagiaan selalu berada di tempat lain. Kita memandang kehidupan alternatif sebagai sesuatu yang utuh, padahal nyatanya kita hanya melihat bagian-bagian terbaik yang kita ciptakan di dalam pikiran sendiri. Dengan demikian, persoalannya bukan terletak dari banyaknya pilihan yang ada, melainkan pada kecenderungan manusia untuk membandingkan kenyataan dengan imajinasi. Perbandingan seperti ini tentu tidak pernah adil, sebab kenyataan selalu memiliki kurangnya, sedangkan imajinasi hanya menyajikan sebuah harapan.

Kegelisahan akan kemungkinan kehidupan ini kemudian dijelaskan dengan pemikiran filsafat eksistensial. Bagi Jean-Paul Sartre, manusia adalah makhluk yang bebas menentukan dirinya sendiri. Akan tetapi, kebebasan itu bukanlah hadiah yang selalu membawa kebahagiaan sebagaimana yang telah dibayangkan. Setiap pilihan yang diambil sekaligus menutup kemungkinan-kemungkinan lain. Kebebasan dengan demikian melahirkan tanggung jawab, bahkan sering kali melahirkan penyesalan.

Sartre bahkan mengatakan bahwa manusia "dikutuk untuk bebas" (condemned to be free). Mula-mula kalimat ini terasa seperti paradoks. Bukankah kebebasan adalah sesuatu yang sejak kecil kita perjuangkan? Tetapi, bagi Sartre, kebebasan justru menjadi beban karena tidak ada seorang pun yang dapat sepenuhnya melepaskan tanggung jawab atas pilihannya. Setiap keputusan selalu mengandung konsekuensi di baliknya yang harus ditanggung sendiri. Tidak memilih pun sesungguhnya merupakan sebuah keputusan atas kemungkinan yang dipilih. Sehingga manusia tidak pernah benar-benar dapat menghindar dari kebebasannya.

Pemikiran ini menjelaskan mengapa rasa cemas sering kali muncul bukan ketika tidak adanya pilihan, melainkan ketika terlalu banyak kemungkinan terbuka di hadapan kita. Semakin banyak jalan yang dapat dipilih, semakin besar pula bayangan tentang kehidupan-kehidupan lain yang harus ditinggalkan. Kebebasan akhirnya berjalan beriringan dengan kecemasan.

Di sisi lain, Albert Camus memandang bahwa penderitaan manusia tidak hanya berasal dari kegagalan pencapaian atas keinginannya, tetapi juga dari kebiasaannya mengetuk pintu dunia sambil berharap menemukan kepastian di dalam dunia yang tidak pernah menjanjikan kepastian. Manusia, dalam tutur paling sederhana akan hidup dengan keinginan kehidupan yang sempurna, sementara dunia hanya diam dan justru dari keheningan itulah lahir apa yang disebut Camus sebagai absurditas. Dalam pemikirannya, Camus mencoba untuk menyampaikan bahwa, jika hidup memang tidak memiliki makna yang diberikan dari hidup itu sendiri, maka manusia bebas untuk menentukan sendiri bagaimana ia akan menjalani hidup. Dengan kata lain, makna tidak ditemukan, tetapi diciptakan.

Camus tidak mengajak manusia untuk berhenti berharap. Sebaliknya, ia mengajak manusia untuk berhenti menunggu kepastian yang tidak pernah dijanjikan oleh kehidupan. Absurditas muncul bukan karena dunia dipenuhi penderitaan, melainkan karena manusia terus-menerus meminta jawaban yang tidak mampu diberikan dunia. Dalam diamnya dunia itulah manusia dihadapkan pada kebebasannya sendiri. Tidak ada peta yang mampu memastikan bahwa satu jalan akan selalu lebih baik daripada jalan lainnya. 

Barangkali, kegelisahan muncul karena kita terus-menerus membayangkan kemungkinan yang secara sadar tidak kita pilih, bahwa persoalan terbesar manusia bukanlah tidak memiliki kesempatan untuk menjalani kehidupan lain, melainkan kesulitannya menerima bahwa makna hanya dapat dibangun dari kehidupan yang benar-benar sedang dijalani. Bahwa manusia yang sadar akan eksistensinya senantiasa bertanggung jawab atas keputusan yang diambilnya untuk kehidupan di masa depannya.

Pada akhirnya, mungkin kehidupan memang tidak pernah meminta kita untuk memilih jalan yang paling benar. Kita tidak akan pernah mengetahui seperti apa kehidupan yang tidak kita jalani, dan mungkin memang bukan itu yang perlu diketahui. Sebab makna tidak lahir dari banyaknya kemungkinan yang berhasil dibayangkan, melainkan dari keberanian untuk hadir sepenuhnya dalam satu kehidupan yang benar-benar kita miliki. 

Barangkali, mencintai hidup bukanlah tentang memastikan bahwa setiap pilihan akan berakhir sempurna, melainkan tentang menerima bahwa kehidupan selalu bergerak ke depan, sementara kita hanya dapat memahaminya ketika sesekali menoleh ke belakang. Barangkali, itulah yang dimaksud Kierkegaard di kutipan awal tulisan ini.

***

Penulis: Naila Sabrina Alyannisa, Mahasiswi Program Studi Psikologi, Universitas Pendidikan Indonesia

Penyunting: Melinda Sintawati

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama