![]() |
| Ilustrasi: Pixabay |
Setiap Piala Dunia datang, timeline selalu jadi ajang perang saudara. Bukan cuma soal siapa juara, tapi soal pertanyaan abadi yang nggak akan pernah kelar sampai kiamat sepak bola tiba: Messi atau Ronaldo?
Sebagai anak muda atau biasa disebut Gen-Z yang nontonnya sambil rebahan tapi otaknya nggak bisa diajak kompromi buat sekadar menikmati tontonan, saya nggak bisa berhenti mikir kenapa dua orang ini bisa jadi representasi dua jenis manusia yang nyaris berlawanan total. Satu keliatan kayak dituntun dewa buat main bola tanpa usaha. Satunya lagi keliatan kayak dia membangun dirinya sendiri jadi dewa, brick by brick (istilah kekinian).
Dan ternyata, teman saya yang doyan baca buku filsafat bilang: ini bukan kebetulan. Ini persis apa yang dibahas Friedrich Nietzsche lebih dari 150 tahun lalu, jauh sebelum ada yang tahu apa itu "Siuuu".
Ronaldo, Sang Manusia Apollonian
Dalam bukunya The Birth of Tragedy, Nietzsche ngebagi dua kekuatan besar dalam seni dan kehidupan manusia: Apollonian dan Dionysian.
Apollonian itu representasi dari keteraturan, disiplin, bentuk, kontrol diri, dan kesempurnaan yang diraih lewat kerja keras yang sadar. Namanya diambil dari Apollo, dewa cahaya dan rasionalitas.
Kalau ada manusia hidup yang paling pas mewakili prinsip ini, ya jelas Cristiano Ronaldo.
Coba perhatikan. Badan Ronaldo bukan hadiah dari alam, itu hasil proyek konstruksi selama dua dekade. Dietnya diatur sampai ke detail gram. Jadwal tidurnya dipecah delapan sesi power nap sehari biar performa otot maksimal. Bahkan cara dia merayakan gol — lompat, muter di udara, teriak "Siuuu" — itu bukan spontanitas, itu koreografi yang udah dilatih ribuan kali di depan cermin sampai jadi identitas visual yang bisa dipatenkan.
Ronaldo adalah manifestasi dari will to power ala Nietzsche: bukan kekuatan yang datang begitu saja, tapi kekuatan yang direbut lewat kehendak yang nggak pernah berhenti menekan batas dirinya sendiri. Dia nggak percaya sama takdir. Dia percaya sama repetisi.
Makanya nggak heran kalau di usia 40-an dia masih maksa main dan cetak gol. Buat Ronaldo, berhenti berusaha itu sama aja dengan mati secara filosofis.
Messi, Anak Dionysian yang Kelihatan Selo Aja
Nah, sekarang bandingkan dengan Lionel Messi.
Dionysian, di sisi lain, adalah prinsip insting, kekacauan yang indah, aliran (flow), dan penyatuan dengan sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri tanpa perlu kontrol sadar. Namanya diambil dari Dionysus, dewa anggur, ekstase, dan tarian liar yang nggak direncanakan.
Messi main bola bukan kayak orang yang sedang mengeksekusi rencana. Dia main kayak orang yang lagi ngobrol sama bola, dan bolanya kebetulan ngerti bahasa dia. Nggak ada raungan urat leher, nggak ada pose di depan kamera, nggak ada teriakan yang jadi jingle. Dia cetak gol penentu final Piala Dunia terus jalan balik ke tengah lapangan kayak abis beli gorengan doang.
Genius Messi terasa nggak diusahakan. Dan justru di situlah letak keresahan filosofisnya: Nietzsche sendiri bilang, kekuatan Dionysian itu memabukkan karena ia menghapus batas antara diri dan dunia. Messi nggak kelihatan sedang berusaha jadi hebat. Dia kelihatan seperti sudah menyatu dengan permainan itu sendiri, sampai orang lupa bahwa di baliknya juga ada latihan yang luar biasa berat setiap hari — cuma dibungkus rapi sehingga terlihat seperti nggak ada usaha sama sekali.
Kenapa Keduanya Butuh Satu Sama Lain: Kata Hegel
Sampai di sini, mungkin ada yang bilang, "ya berarti Ronaldo kerja keras dong, Messi bakat doang." Tunggu dulu, jangan buru-buru comot kesimpulan sepihak, karena justru di sinilah letak twist filosofisnya.
Georg Wilhelm Friedrich Hegel, filsuf yang doyan bikin kalimat berbelit-belit, punya konsep bernama dialektika tuan-budak (master-slave dialectic). Intinya sederhana: identitas seseorang nggak pernah berdiri sendiri. Kita jadi "diri kita" justru lewat pengakuan dari pihak lain — lewat konfrontasi, lewat perbandingan, lewat the Other.
Ronaldo nggak akan sedahsyat itu tanpa Messi yang terus jadi cermin pembanding tiap musim. Setiap kali Messi cetak hattrick, itu jadi bahan bakar buat Ronaldo push diri lebih keras lagi. Begitu juga sebaliknya. Rivalitas Messi-Ronaldo bukan cuma dua individu yang kebetulan hebat di era yang sama. Rivalitas itu sendiri yang membentuk kehebatan mereka berdua.
Dengan kata lain: Messi butuh Ronaldo buat jadi Messi yang kita kenal. Ronaldo butuh Messi buat jadi Ronaldo yang kita kenal. Fandom yang berantem tiap hari di kolom komentar itu, tanpa sadar, sedang menyaksikan dua kesadaran diri yang saling mendefinisikan lewat konflik abadi ala Hegel.
Ronaldo Hidup untuk "The Look", Messi Hidup untuk Dirinya Sendiri
Ada satu lapis lagi yang bikin dikotomi ini makin runcing, dan ini kita pinjam dari Jean-Paul Sartre soal "the Look" (le regard) — gagasan bahwa keberadaan kita sebagian besar terbentuk lewat cara kita dilihat orang lain.
Ronaldo adalah atlet yang paling sadar kamera di generasinya. Ototnya diperlihatkan, angka-angka golnya dipamerkan di caption Instagram, statusnya sebagai GOAT diperjuangkan lewat argumen statistik yang dia bawa sendiri ke publik. Dia hidup, sadar atau nggak, untuk the Look — untuk bagaimana dunia melihat dan mengakuinya. Ini bukan celaan, ini justru bentuk kesadaran diri yang sangat modern: eksistensi yang dikonstruksi lewat validasi eksternal.
Messi sebaliknya. Dia introvert di depan mikrofon, jarang flexing, dan sering keliatan risih pas disorot terlalu lama. Dia main bola kayak orang yang eksistensinya nggak butuh pengakuan orang lain buat merasa lengkap — apa yang oleh Sartre disebut lebih dekat dengan authentic being, eksistensi yang nggak bergantung sama gaze orang lain buat merasa sah.
Kenapa Kita Nggak Akan Pernah Selesai Berantem Soal Ini
Jadi lain kali ada yang maksa nentuin siapa GOAT sesungguhnya, mungkin jawaban paling jujur bukan "Messi" atau "Ronaldo", tapi: keduanya lagi memerankan dua jalan hidup yang secara filosofis memang nggak bisa dibandingkan apel ke apel. Yang satu adalah kehendak yang membangun dirinya sendiri jadi mitos lewat disiplin baja. Yang satu lagi adalah bakat yang mengalir tanpa perlu dipamerkan, sampai orang lupa itu juga hasil kerja keras yang dibungkus rapi.
Piala Dunia cuma jadi panggung terbaru dari drama yang sebenarnya udah berlangsung dari zaman Yunani Kuno: Apollo lawan Dionysus, tapi kali ini pakai jersey dan sepatu bola.
***
Penulis: Alfi Syahrin Maulana Harahap
Penyunting: Widya Bunga Aprilia
