Hipotermia atau Kesurupan? Mengutamakan Logika di Alam Liar

 

Image by pngtree.com

Setiap kali menelusuri media sosial atau mendengarkan podcast horor, konten tentang pengalaman mistis di gunung seolah tidak pernah sepi peminat. Selalu saja ada cerita mengenai rombongan pendaki yang tersesat karena disesatkan penunggu, kawan yang tiba-tiba tertawa melengking di pos pendakian, atau drama kesurupan massal di alun-alun pegunungan.

Sebagai penikmat kegiatan mendaki, terkadang fenomena ini memunculkan keprihatinan tersendiri. Hal ini bukan berarti anti terhadap spiritualitas atau meragukan eksistensi hal-hal gaib, melainkan sebuah ajakan untuk memandang permasalahan dengan lebih rasional. Sering kali, apa yang disebut masyarakat sebagai "gangguan mistis" di ketinggian adalah akibat langsung dari kolaborasi minimnya persiapan fisik, buruknya manajemen logistik, dan kurangnya literasi keselamatan.

Mari bayangkan skenario yang cukup lazim terjadi: di tengah suhu lima derajat Celcius yang menusuk badan, ditambah hembusan angin kencang dan hujan gerimis, seorang pendaki pemula yang hanya mengenakan jaket tipis mulai bertingkah tidak biasa. Tubuhnya menggigil hebat, tatapannya kosong, lalu mulai meracau atau berteriak tidak jelas.

Dalam situasi kritis semacam itu, alih-alih memberikan pertolongan pertama secara medis, tidak jarang rekan-rekannya justru panik dan mengaitkannya dengan hal gaib. Pendekatan supranatural pun mendadak dilakukan, seperti komat-kamit baca mantra, sementara mereka mengira korban sedang dirasuki makhluk halus yang meminta tumbal tertentu. Padahal, respons ini justru menunda penanganan nyawa yang sesungguhnya sangat mendesak.

Di titik inilah kepekaan kita dalam menilai sebuah kebenaran sedang diuji. Ketika dihadapkan pada situasi gawat darurat, penjelasan yang paling masuk akal, sederhana, dan didukung fakta empiris di lapanganlah yang seharusnya dipilih. Dalam tradisi filsafat, kerangka berpikir ini sejalan dengan prinsip Pisau Ockham (Ockham's Razor). Prinsip tersebut menegaskan bahwa ketika kita dihadapkan pada sebuah fenomena misterius, penjelasan yang paling sederhana dan tidak menambah-nambahkan asumsi irasional adalah penjelasan yang paling mendekati kebenaran. Fakta di depan mata menunjukkan bahwa korban mengalami kedinginan ekstrem, kekurangan kalori, dan kelelahan. Penjelasan logisnya: ia terkena gangguan medis akibat cuaca. Menambahkan variabel gaib yang rumit pada sesuatu yang murni merupakan hukum fisika dan medis adalah bentuk keengganan kita untuk berpikir objektif. 

Terkadang, mitos gaib secara tidak sadar digunakan sebagai tameng untuk menutupi kelalaian persiapan diri sendiri. Ambil contoh Gunung Lawu yang berada di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur, yang sangat kental dengan urusan mistis. Mulai dari mitos burung jalak gading sebagai penunjuk jalan, hingga desas-desus Pasar Setan. Sebuah riset dari Universitas Negeri Surabaya bahkan pernah membedah seberapa kuat mitos dan nilai budaya menyelimuti gunung ini. Karena kuatnya narasi mistis tersebut di kepala kita, ketika ada pendaki yang celaka, masyarakat sering kali lebih suka menyalahkan "aturan gaib yang dilanggar" daripada mengkritisi fakta bahwa pendaki tersebut berangkat tanpa persiapan matang, tanpa alat navigasi, dan tanpa fisik yang mumpuni.

Padahal, jika kita bersedia membaca literasi medis pendakian, orang yang disangka "kesurupan" di gunung nyaris semuanya adalah korban hipotermia. Hipotermia terjadi ketika suhu inti tubuh manusia turun drastis di bawah 35 derajat Celcius. Saat otak tidak mendapatkan aliran darah yang cukup hangat, fungsi kognitif akan menurun drastis, menyebabkan kebingungan mental, bicara meracau, dan halusinasi parah sebagai gejala daruratnya.

Bahkan, pada stadium akhir hipotermia, terdapat fenomena biologis bernama paradoxical undressing. Otak korban yang kedinginan ekstrem salah menerjemahkan sinyal, sehingga mereka merasa tubuhnya seolah terbakar kepanasan. Akibatnya, mereka akan meronta-ronta dan melepas pakaiannya sendiri di tengah suhu beku. Bagi pendaki yang minim literasi keselamatan, pemandangan ganjil ini pasti akan langsung dihubungkan sebagai peristiwa kerasukan.

Lantas, mengapa sebagian masyarakat sangat gemar mengaitkan kelalaian fisik ini dengan hal mistis? Sains ternyata memiliki jawabannya. Sebuah riset yang dimuat di jurnal Heliyon (2020) menyebutkan bahwa kecenderungan seseorang mempercayai hal paranormal sangat berkaitan dengan keinginan mereka mencari cerita yang dramatis, namun malas melakukan evaluasi yang rasional. Pulang membawa cerita heroik tentang selamat dari gangguan gaib mungkin terdengar lebih membanggakan daripada harus mengakui kepada teman-teman bahwa pendakian gagal total karena kecerobohan lupa membawa sleeping bag dan kompor portable.

Selain itu, seberapa seram sebuah gunung sering kali hanya pantulan dari tingkat ketahanan mental pendakinya. Studi di Psychological Reports mengonfirmasi bahwa ketahanan mental (mental toughness) sangat memengaruhi cara seseorang mempersepsikan risiko dan kepercayaan pada hal gaib. Semakin lemah kondisi fisik dan mental saat mendaki, semakin mudah seseorang dilanda kepanikan. Saat panik menguasai, otak rasional menurun, sehingga bayangan pohon pinus atau suara angin pun dengan mudah diterjemahkan sebagai penampakan.

Oleh karena itu, bagi siapa pun yang berniat melakukan pendakian, bawalah peralatan lengkap dan yang terpenting: bawalah akal sehat. Membedakan mana mitos dan mana realita medis di pendakian adalah kewajiban mutlak demi keselamatan nyawa.

Jika suatu saat rekan mendaki mulai menggigil, bibirnya membiru, lalu mulai berbicara meracau di tengah badai, segeralah lakukan langkah penyelamatan medis yang nyata. Langkah pertamanya bukan merapal mantra, melainkan menyalakan kompor dan memasak air hangat!. Segera pindahkan korban ke dalam tenda yang kering dan tertutup dari angin. Lepaskan semua pakaian basahnya tanpa terkecuali, ganti dengan pakaian kering, dan masukkan ia ke dalam sleeping bag. Berikan minuman manis hangat sedikit demi sedikit untuk menaikkan kalorinya.

Jika situasinya makin kritis, lakukan skin-to-skin contact di dalam sleeping bag demi mentransfer panas tubuh. Hal ini menyangkut urusan nyawa yang jauh lebih berharga daripada sekadar rasa canggung.

Mari kita utamakan logika. Alam liar itu keras, dingin, dan tidak peduli dengan ego. Sudah saatnya kita berhenti mengkambinghitamkan hal gaib atas kecerobohan dan kurangnya persiapan kita sendiri di alam bebas.

***


Penulis: Zakki Ahmad Satria, Mahasiswa Program Studi Psikologi, Universitas Pendidikan Indonesia

Penyunting: Ayuk Wiji Safitri


Sumber

Betsch, T., Aßmann, L., & Glöckner, A. (2020). Paranormal beliefs and individual differences: Story seeking without reasoned review. Heliyon, 6(10), e04259. https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2405844020311038 

Drinkwater, K., Dagnall, N., Denovan, A., & Parker, A. (2019). The Moderating Effect of Mental Toughness: Perception of Risk and Belief in the Paranormal. Psychological Reports, 122(1), 268–287. https://journals.sagepub.com/doi/10.1177/0033294118756600 

Halodoc. (2019). 3 Gejala Hipotermia yang Dialami Pendaki Gunung. https://www.halodoc.com/artikel/3-gejala-hipotermia-yang-dialami-pendaki-gunung 

Superlive.id. (2025). Mitos vs Fakta di Gunung – Antara Cerita Mistis & Realita Pendakian. https://superlive.id/superadventure/artikel/place-gears/mitos-vs-fakta-di-gunung-antara-cerita-mistis-realita-pendakian


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama