| Photo by appshunter.io on Unsplash |
Dalam perjalanan pulang di kereta yang bahkan tidak menyisakan saya kursi untuk duduk, saya melakukan ritual yang tampaknya sudah menjadi kebiasaan banyak orang, membuka TikTok untuk mengusir bosan. Alih-alih mendapat hiburan, FYP saya justru dipenuhi video-video yang mengajari bagaimana seharusnya sebuah hubungan asmara dijalani.
Belum lima menit menggulir layar, saya sudah diberi tahu, jika lelaki tidak membayar makan saat first date sebaiknya jangan dilanjut saja hubungannya. Video berikutnya menyebut pasangan yang tidak mau antar-jemput setiap hari berarti effort-nya kurang. Katanya, "Bukannya antar-jemput itu bare minimum?" Lalu muncul lagi tentang perempuan harus cantik, anggun, estetik, tetapi jangan terlalu banyak meminta, pokoknya stay low maintenance. Kemudian berseliweran istilah-istilah selain bare minimum, seperti red flag, green flag sampai princess treatment.
Belum selesai saya mencerna satu standar, muncul lagi standar berikutnya. Sosial media, terutama TikTok seolah tidak pernah kehabisan cara untuk mendefinisikan seperti apa pasangan yang layak dipertahankan dan seperti apa hubungan yang seharusnya dijalani. Semua video itu dibungkus dengan penuh keyakinan. Seolah-olah pembuat kontennya baru saja menemukan hukum Newton, tapi versi percintaan. Kemudian tak jarang audiens yang mengamini konten-konten singkat berisi wejangan hubungan dari orang tak dikenal yang sengaja lewat berandanya itu.
Saya mulai bertanya-tanya, sejak kapan urusan cinta yang rumit, penuh negosiasi, dan sangat dipengaruhi pengalaman hidup masing-masing bisa disederhanakan menjadi seperti daftar centang. Laki-laki harus begini, perempuan harus begitu. Yang satu dituntut selalu memberi, yang lain dituntut selalu sedap dipandang. Hal ini membuat saya tersadar, jangan-jangan yang membuat cinta terasa mahal hari ini bukan ongkos nge-date, harga bunga, atau biaya bensin untuk antar-jemput. Yang membuatnya mahal justru standar TikTok.
Lama-kelamaan saya merasa hubungan asmara di TikTok lebih mirip ajang kompetisi daripada relasi antarmanusia. Pasangan dinilai berdasarkan checklist tak berdasar, laki-laki harus inisiatif, harus mampu membaca isi kepala pasangan, harus siap menjadi sopir, ATM, sekaligus kurir bunga. Perempuan pun tak kalah sibuk, harus bisa cantik, anggun, estetik, mandiri, tetapi jangan terlalu mandiri. Belum lagi harus banyak perhatian, tetapi jangan terlalu banyak menuntut. Kita jadi lebih sibuk menghitung apa yang sudah dilakukan pasangan daripada memahami bagaimana setiap orang mencintai dengan cara yang berbeda.
Belum lagi narasi yang belakangan sering berseliweran, carilah seseorang yang cintanya lebih besar darimu.
Kalimat itu terdengar romantis, tetapi semakin saya pikirkan justru semakin membingungkan. Apa sebenarnya ukuran cinta yang lebih besar? Apakah yang lebih sering membayar? Yang lebih sering menghubungi lebih dulu? Yang lebih rela mengalah? Atau yang lebih peka membaca isi kepala pasangan tanpa perlu diberi tahu? Yang lebih masuk akal bagi saya justru bukan mencari seseorang yang cintanya lebih besar, melainkan membangun cinta yang setara. Dua orang yang sama-sama berusaha memberi yang terbaik sesuai kemampuan, bukan berlomba menjadi siapa yang paling banyak berkorban.
Pandangan ini mengingatkan saya pada teori cinta yang sempat saya pelajari dari seorang psikolog Robert Sternberg. Menurutnya, hubungan memiliki tiga komponen utama, yaitu passion, intimacy, dan commitment. Passion berbicara tentang ketertarikan, intimacy tentang kedekatan emosional dan rasa saling memahami, sedangkan commitment adalah keputusan untuk tetap bertahan dan mengusahakan hubungan ketika keadaan tidak selalu baik-baik saja. Tidak ada satu pun dari tiga komponen itu yang mengatakan bahwa kualitas cinta ditentukan oleh satu atau dua gestur, seperti siapa yang lebih sering membayar makan, siapa yang rutin mengantar-jemput, atau siapa yang paling sering mengunggah pasangannya ke media sosial. Semua itu bisa menjadi ekspresi cinta, tetapi bukan syarat mutlak sebuah hubungan yang sehat.
Justru ketika ketiga passion, intimacy, dan commitment hadir secara seimbang, Sternberg menyebutnya sebagai consummate love, bentuk cinta yang paling ideal. Dengan kata lain, yang membuat sebuah hubungan bertahan bukan checklist yang berseliweran di TikTok, melainkan kedekatan, ketertarikan, dan komitmen yang dibangun oleh dua orang yang menjalaninya.
***
Yang sering luput dari konten-konten tersebut adalah kenyataan bahwa setiap orang membawa sejarah hidup, kemampuan finansial, pola asuh, pengalaman masa lalu, hingga cara mengekspresikan kasih sayang mereka yang jelas berbeda-beda.
Ada yang menunjukkan cinta lewat hadiah.
Ada yang selalu memastikan pasangannya pulang dengan selamat.
Ada yang lebih banyak mendengarkan daripada berbicara.
Ada pula yang diam-diam mengirim lagu indie dari band favoritnya hanya karena satu lirik mengingatkan pada orang yang dicintainya.
Tidak semuanya terlihat romantis, tapi bisa sama tulusnya.
Psikolog sekaligus filsuf Erich Fromm, dalam The Art of Loving berpendapat bahwa cinta bukan sekadar perasaan yang kita temukan, melainkan kemampuan yang perlu dipelajari. Mencintai bukan soal menemukan pasangan yang memenuhi seluruh daftar keinginan kita, tetapi tentang terus belajar menghormati, memahami, merawat, dan bertumbuh bersama orang lain. Kalau begitu, rasanya agak aneh ketika media sosial justru menawarkan rumus-rumus instan untuk mengukur kualitas hubungan hanya dari video berdurasi singkat. Ironisnya, kita bisa saja sudah memberikan yang terbaik dari semua yang kita punya. Namun karena bentuknya tidak masuk checklist TikTok, usaha itu dianggap tidak pernah ada.
Buat saya, masalahnya memang bukan karena kita memiliki standar. Semua orang berhak menentukan seperti apa hubungan yang mereka inginkan. Saya pun punya standar. Rasanya mustahil menjalin hubungan tanpa standar sama sekali. Yang saya persoalkan bukan keberadaan standarnya, melainkan dari mana standar itu berasal. Yang menjadi masalah justru ketika standar itu tidak lagi lahir dari pengalaman, nilai hidup, dan proses mengenal pasangan, melainkan dari algoritma asing yang spontan kita terima tanpa pilah.
Sebab kalau cinta terus diukur dengan standar yang dibentuk media sosial, jangan heran jika hubungan yang sebenarnya sehat pun terasa gagal hanya karena tidak mirip dengan yang sedang viral. Sebab cinta tidak memiliki aturan mutlak, apalagi terlahir dari daftar-daftar gestur yang kita terima mentah-mentah dari luar. Ia lahir dari dua orang yang sama-sama belajar. Belajar memahami, menerima, meminta maaf, juga belajar bertahan. Jauh lebih rumit daripada konten-konten singkat di TikTok.
Mungkin hubungan kita memang tidak akan pernah cukup estetik untuk masuk FYP. Belum tentu selalu ada bunga setiap minggu, makan malam di restoran mahal setiap valentine, atau perjalanan lintas kota demi sebuah temu. Namun kalau pada akhirnya kita pulang kepada seseorang yang membuat kita merasa dipahami dan diterima, barangkali itu sudah lebih dari cukup.
***
Penulis: Eva Ronauli Fitria Manurung, Mahasiswi Program Studi Psikologi, Universitas Pendidikan Indonesia
Penyunting: Widya Bunga Aprilia
Referensi:
https://www.verywellmind.com/types-of-love-we-experience-2303200
https://lsfdiscourse.org/filsafat-cinta-pandangan-erich-fromm-dan-sokrates-mengenai-cinta/