| Film Up (2009) |
Penulis Naskah: Bob Peterson dan Pete Docter
Studio: Pixar Animation Studios
Distributor: Walt Disney Studios Motion Pictures
Tahun Rilis: 2009
Durasi: 96 menit
Dalam hidup, kita sering menganggap titik ketika bertemunya kita dengan kebahagiaan adalah saat tujuan yang kita buat akhirnya tercapai. Mendapat pekerjaan impian, membeli barang yang sudah lama ada di wishlist, atau berhasil mewujudkan rencana yang bertahun-tahun disusun. Selama tujuan itu belum tercapai, kita sering merasa seolah hidup masih berada di ruang tunggu, menanti saat yang dianggap sebagai awal dari kebahagiaan.
Film Up (2009) menawarkan cara pandang yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Carl Fredricksen, tokoh utamanya, menghabiskan masa tua untuk memenuhi impian mendiang istrinya, Ellie, membawa rumah mereka ke Paradise Falls. Dalam perjalanan itu, Fredricksen bertemu Russell, seorang anak kecil yang tanpa sengaja ikut dalam petualangannya. Kehadiran Russell perlahan mengubah perjalanan yang awalnya hanya tentang memenuhi janji menjadi perjalanan yang mengubah cara Fredricksen memandang hidup. Di pertengahan cerita, film ini menghadirkan pertanyaan yang jauh lebih penting: bagaimana jika selama ini kita keliru, bukan tentang tujuan yang ingin dicapai, melainkan tentang keyakinan bahwa tujuan itulah satu-satunya sumber kebahagiaan?
Pertanyaan tersebut mengingatkan saya pada konsep eudaimonia dari Aristoteles. Konsep ini menarik karena menawarkan cara memandang kebahagiaan yang berbeda dari anggapan umum bahwa kebahagiaan baru hadir setelah tujuan tercapai. Dalam Nicomachean Ethics, Aristoteles menjelaskan bahwa eudaimonia merupakan tujuan tertinggi manusia. Kebahagiaan bukan sekadar hasil dari tercapainya suatu tujuan, melainkan kehidupan yang dijalani dengan baik melalui tindakan yang sesuai dengan kebajikan (virtue) dan relasi yang bermakna dengan orang lain.
Sejak Ellie meninggal, hidup Fredricksen seolah berhenti. Paradise Falls tidak lagi sekadar menjadi sebuah tempat, tetapi berubah menjadi simbol janji yang belum ditepati. Selama rumah itu belum sampai ke sana, ia merasa hidupnya belum benar-benar selesai.
Tanpa disadari, Fredricksen menggantungkan kebahagiaannya pada sesuatu yang bahkan belum pernah ia alami. Cara berpikir ini terasa sangat dekat dengan kehidupan banyak orang. Kita sering percaya bahwa kebahagiaan akan datang setelah target tertentu berhasil dicapai. Akibatnya, hari-hari yang sedang dijalani hanya dianggap sebagai masa menunggu menuju kehidupan yang diyakini akan lebih baik.
Padahal, Aristoteles memandang kebahagiaan secara berbeda. Menurutnya, tujuan memang penting, tetapi kebahagiaan tidak semata-mata bergantung pada satu pencapaian tertentu. Manusia mencapai eudaimonia melalui aktivitas menjalani kehidupan yang baik secara terus-menerus, bukan semata-mata melalui hasil akhir yang berhasil diraih.
Momen yang paling mengubah cara pandang Fredricksen terjadi ketika ia kembali membuka buku petualangan milik Ellie. Selama ini, ia mengira buku itu belum selesai karena impian mereka pergi ke Paradise Falls tidak pernah terwujud. Namun, ketika membuka halaman-halaman berikutnya, Fredricksen menemukan sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Buku itu ternyata dipenuhi foto-foto kehidupan mereka bersama. Rumah sederhana yang mereka tinggali, kebiasaan-kebiasaan kecil, hingga momen-momen yang selama ini tidak pernah Fredricksen anggap sebagai petualangan. Pada halaman terakhir, Ellie menulis sebuah pesan sederhana, "Thanks for the adventure. Now go have a new one."
Kalimat singkat itu menjadi titik balik perjalanan Fredricksen. Untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa petualangan yang selama ini ia kejar ternyata telah ia jalani bersama Ellie. Kehidupan sederhana bersama Ellie adalah petualangan yang sesungguhnya. Paradise Falls bukanlah satu-satunya syarat agar hidup mereka bermakna, melainkan hanya salah satu impian yang pernah mereka miliki.
Saya rasa inilah bagian paling menyentuh dari film Up. Bukan karena akhirnya Fredricksen berhasil mencapai Paradise Falls, melainkan karena ia menyadari bahwa kebahagiaan yang selama ini ia cari sebenarnya telah hadir dalam kehidupan yang pernah ia jalani. Sering kali kita baru menyadari nilai suatu momen setelah momen itu berlalu.
Perubahan Fredricksen mencapai puncaknya ketika ia memutuskan merelakan rumahnya demi menyelamatkan Russell. Keputusan ini terasa sangat kontras dengan tekadnya di awal film yang rela melakukan apa pun demi mempertahankan rumah tersebut. Rumah itu bukan sekadar bangunan, melainkan simbol seluruh kenangan bersama Ellie.
Namun pada akhirnya, Fredricksen memilih seseorang yang masih hidup daripada terus mempertahankan simbol masa lalunya. Ia memilih hadir bagi seseorang yang membutuhkan pertolongannya.
Keputusan tersebut menunjukkan bahwa Fredricksen tidak lagi sepenuhnya terikat pada masa lalu. Perhatiannya mulai tertuju pada kehidupan yang sedang berlangsung dan kepada orang-orang yang hadir di sekitarnya. Dalam pandangan Aristoteles, manusia berkembang melalui tindakan yang baik dan relasi dengan orang lain. Bahkan, dalam pembahasannya mengenai persahabatan (philia), Aristoteles menempatkan hubungan antarmanusia sebagai salah satu unsur penting dalam kehidupan yang baik. Karena itu, kehidupan yang bermakna tidak dibangun hanya dengan mengenang masa lalu atau mengejar satu tujuan, tetapi juga melalui kepedulian terhadap sesama.
Pada akhirnya, Fredricksen memang berhasil membawa rumahnya ke Paradise Falls. Namun, bagian yang paling berarti bukanlah ketika rumah itu akhirnya sampai di sana. Yang benar-benar mengubah hidup Fredricksen adalah kesadarannya bahwa kebahagiaan tidak pernah menunggu di ujung perjalanan. Kebahagiaan telah hadir jauh sebelum tujuan itu tercapai, melalui orang-orang yang ia cintai, pengalaman yang ia jalani, dan keberaniannya untuk kembali membuka diri terhadap kehidupan.
Melalui kisah sederhana ini, Up mengajak kita mempertanyakan cara kita memandang kebahagiaan. Mungkin yang selama ini kita anggap sebagai tujuan akhir hanyalah salah satu bagian dari perjalanan. Sebab, seperti yang ditunjukkan Fredricksen, hidup yang bermakna bukan hanya tentang berhasil mencapai impian, tetapi juga tentang mampu menyadari bahwa petualangan terbaik sering kali sudah berlangsung tanpa kita sadari. Barangkali, kebahagiaan yang selama ini kita tunggu di garis akhir sebenarnya telah hadir sejak awal perjalanan, hanya saja kita terlalu sibuk mengejar tujuan hingga lupa melihatnya.
***
Penulis: Febi Annisa Yunia, Mahasiswa
Program Studi Psikologi, Universitas
Pendidikan Indonesia
Penyunting: Melinda
Sintawati
Referensi:
https://plato.stanford.edu/entries/aristotle-ethics/