LANGKAH KECIL MENGATASI SAMPAH

Photo by Ariungoo Batzorig di Unsplash

Bayangkan bagaimana kondisi kota jika sampah terus menumpuk hingga tidak terkendali. Pepohonan hijau dan jalanan yang bersih serta nyaman tergantikan oleh gunung sampah, bau menyengat, dan hal-hal buruk lainnya jika persoalan penumpukan sampah masih belum terselesaikan. Bahkan saat ini sudah banyak Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang memutuskan untuk membatasi kiriman sampah agar menjaga daya tampung supaya tidak melampaui batas. Pembatasan diharapkan agar masyarakat memilah sampah yang ingin mereka buang. Seringkali sampah dianggap sebagai akhir dari sebuah konsumsi, sesuatu yang nantinya akan dibuang dan dilupakan setelah nya. Aktivitas membuang sampah mungkin terlihat normal dilakukan tetapi akan menyebabkan permasalahan yang besar jika dilakukan jutaan orang secara bersamaan namun tidak dibarengi dengan pengelolaan yang tepat. Terbukti dengan adanya penumpukan sampah yang hingga saat ini masih menjadi isu yang belum terselesaikan. Perlu diketahui jika Indonesia menjadi salah satu negara dengan penghasil sampah terbesar di dunia. Bahkan menurut data per 2025, timbunan sampah nasional dapat mencapai 71 juta ton per tahun dengan didominasi oleh sampah rumah tangga  sekitar 40-45% dan diikuti oleh sampah plastik sekitar 20%. Dengan perkiraan setiap individu menghasilkan 0,69 kg sampah per hari. Maka tanpa kita sadari, dari aktivitas yang rutin kita lakukan sehari-hari akan ada saja sampah yang kita hasilkan. Entah itu bungkus makanan, botol plastik, hingga sisa makanan yang terbuang sia-sia. 

Seiring dengan pertumbuhan penduduk yang pesat dan perubahan gaya hidup yang menjadi serba praktis, tentu saja akan berdampak pula dengan volume sampah yang terus meningkat secara signifikan dari tahun ke tahun. Dampak dari buruknya pengelolaan sampah akan semakin dirasakan oleh masyarakat jika tidak segera diatasi. Tidak hanya menumpuk seperti gunung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang dapat mencemari udara dengan timbulnya bau tidak sedap, tetapi dapat mencemari lapisan tanah, menyumbat saluran air yang akan memicu banjir, dan akan mengancam ekosistem jika sampah merambah hingga ke sungai bahkan laut. Hal ini menunjukkan jika sampah juga berhubungan dengan kelangsungan hidup manusia dan makhluk lainnya.

Adanya penumpukan sampah yang terjadi saat ini merupakan bukti nyata dari kurangnya pengelolaan sampah di Indonesia. Baik di kota-kota besar maupun pedesaan, permasalahan sampah ini sama-sama belum terselesaikan. Bahkan untuk di beberapa tempat telah terjadi penumpukan sampah di pinggir jalan ataupun meluapnya sungai yang dikarenakan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) tidak mampu menampung karena telah melebihi kapasitas. Tak sedikit pula masyarakat yang akhirnya memilih untuk membakar sampahnya karena tidak dapat membuang sampah mereka yang menyebabkan udara menjadi tercemar dengan asap bakaran sampah tersebut. Oleh karena itu, diperlukan kerja sama serta komitmen yang kuat antara pemerintah ataupun suatu organisasi dengan masyarakat agar dapat meningkatkan kesadaran bagi masyarakat umum mengenai pentingnya mengolah dan memilah sampah menjadi organik serta anorganik dari rumah agar tidak tercampur. Meskipun permasalahan sampah ini terlihat rumit, tetapi masyarakat dapat melakukan langkah kecil dengan mulai menerapkan prinsip 3R, yaitu Reduce (mengurangi), Reuse (menggunakan kembali), dan Recycle (mendaur ulang) untuk sampah anorganik sedangkan menggunakan biopori atau maggot sebagai solusi pengelolaan sampah organik skala rumah tangga. Akan tetapi, sangat disayangkan masih terdapat masyarakat yang belum menyadari betapa pentingnya memilah sampah dalam kehidupan sehari-hari, banyak dari mereka yang masih beranggapan jika harus memisahkan sampah antara organik dan anorganik terkesan ribet. Padahal dengan menerapkan memilah dan mengolah sampah bisa dijadikan salah satu solusi penyelesaian untuk isu penumpukan sampah yang hingga kini masih terjadi. Karena kebiasaan tidak memilah sampah justru dapat memperburuk kondisi limbah, seperti sampah yang seharusnya bisa didaur ulang berubah menjadi rusak karena bercampur dengan limbah  jenis lain.

Dalam kehidupan sehari-hari, setiap rumah pasti akan menghasilkan limbah yang berakhir di dalam plastik sampah dan kemudian dipindahkan ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Untuk mengatasi penumpukan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), masyarakat dapat memanfaatkan lahan pekarangan rumahnya untuk membuat lubang biopori. Yaitu salah satu cara yang cukup praktis dalam mengelola sampah organik tanpa butuh perhatian khusus dan dinilai sangat efektif. Cukup memasukkan sampah dapur ataupun daun kering ke dalam lubang, kemudian sampah akan terurai secara alami menjadi kompos dalam 15-30 hari hingga 3 bulan. Selain itu, lubang biopori ini juga sangat bermanfaat bagi tanah yang ada di sekitarnya karena akan memberi nutrisi dan dapat menjadi sumber resapan pula agar terhindar dari banjir ataupun genangan air.

Jika ingin menggunakan teknik yang cepat dalam mengolah sampah organik dapur dan tidak memiliki pekarangan rumah yang luas, penggunaan maggot dapat menjadi solusi yang sangat efektif. Maggot memiliki kemampuan untuk menguraikan limbah dalam waktu yang cukup singkat. Terlebih untuk sisa-sisa makanan yang sudah basi semisalnya, cukup potong-potong sampah organik agar memudahkan larva saat memakannya. Sedangkan untuk kotoran dan sisa sampah yang tidak termakan dapat diayak dan digunakan menjadi pupuk organik yang akan disebut sebagai kasgot. Maggot ini juga bisa dipanen menjadi pakan ternak untuk lele, ayam, dan burung karena tinggi akan protein jika sudah berumur 2-3 minggu, sehingga selain berfungsi sebagai solusi pengurangan sampah tetapi memiliki nilai ekonomi juga.

Pengelolaan sampah tidak berhenti pada sampah organik saja. Tentu saja sampah anorganik perlu mendapatkan perhatian khusus. Sampah anorganik seperti plastik, logam, ataupun kaca berasal dari bahan yang tidak mudah terurai oleh alam dan dapat mencemari lingkungan jika dibuang semabrangan. Maka keberadaan bank sampah disini akan sangat membantu masyarakat untuk mengelola sampah. Umumnya pengelola bank sampah akan mengolah limbah menjadi barang yang dapat memiliki nilai guna bahkan nilai jual yang tinggi. Bahkan untuk menarik minat masyarakat agar memperoleh limbah anorganik, beberapa bank sampah sampai menawarkan untuk menukarkan sampah dengan nilai ekonomi tertentu. Sehingga selain mengurangi jumlah sampah di lingkungan masyarakat, kegiatan ini dapat meningkatkan minat dan kesejahteraan masyarakat secara tidak langsung.

Permasalahan sampah di Indonesia menjadi isu yang cukup serius seiring dengan meningkatnya pertumbuhan penduduk dan gaya hidup yang praktis. Jika tidak segera diatasi dan mencari solusinya dengan baik serta sesuai, limbah tentu saja akan semakin membludak dan dapat menimbulkan dampak yang buruk bagi lingkungan maupun masyarakatnya sendiri. Seperti bisa terjadi banjir, pencemaran lingkungan, hingga kerusakan ekosistem. Oleh karena itu, upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terkait pengelolaan sampah dapat diawali dengan komitmen dan kerja sama yang baik antara masyarakat dengan pemerintah. Isu ini tidak cukup jika diselesaikan hanya dengan membuat banyak Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang baru atau membuka kembali Tempat Penampungan Sementara (TPS), tetapi perlu dibentuk juga kesadaran diri masyarakat terhadap pentingnya mengolah dan memilah sampah untuk kenyamanan bersama.

Pada akhirnya, pengelolaan sampah merupakan tanggung jawab semua individu tanpa terkecuali. Karena tidak akan cukup jika hanya mengandalkan pemerintah atau pihak tertentu saja, tetapi dibutuhkan juga kesadaran dan peran aktif dari setiap individu. Dengan membiasakan diri untuk memilah sampah di kediamannya masing-masing hingga mengurangi penggunaan barang sekali pakai. Dari gerakan-gerakan kecil seperti kerja sama dan tindakan nyata itulah kita dapat  berkontribusi dalam menjaga lingkungan serta mengubah permasalahan sampah menjadi peluang yang akan membawa manfaat bagi lingkungan kita dan kehidupan kita di masa mendatang. 

***

Penulis: Aqilah Yasmin Trisandi Putri, Mahasiswi Program Studi Bahasa & Sastra Indonesia, Universitas Gadjah Mada

Penyunting: Merlyn Valencia Sekarwangi

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama