| Photo by Asher Legg on Unsplash |
Pencemaran lingkungan tidak selalu berasal dari sebuah cerobong pabrik. Terkadang kedatangannya dari halaman sebelah atau ruang sebelah? Pelan-pelan, diwajarkan, sampai tiba-tiba tidak ada yang ingat bagaimana bentuk ruang itu sebelumnya.
Kalau kamu berpikir bahwa kerusakan lingkungan selalu berasal dari hal besar dan dramatis seperti cerobong asap dari pabrik yang mengepul, sungai hitam berbusa, hutan digaruk alat berat, hutan berubah menjadi sawit, maka kamu belum pernah merasakan tinggal di sebuah kampung yang halamannya perlahan berubah menjadi gudang ban bekas.
Di sebuah kampung tepatnya di Bantul, Yogyakarta tempatku tinggal. Tidak ada industri besar. Tidak pula asap kendaraan hitam yang datang dari truk solar. Hanya ada sebuah usaha jual beli ban kendaraan bekas. Usaha yang sah, wajar, logis, dan awalnya tidak ada yang keberatan. Orang mencari rezeki, wajar. Apalagi di lingkungan kampung, saling mendukung seperti aturan tidak tertulis yang dipatuhi oleh semua orang.
Tetapi dalam aturan tersebut tidak tertulis bahwa : boleh menumpuk ban tersebut hingga orang lain menanggung akibatnya. Hingga orang lain rugi dibuatnya.
Awalnya memang satu dua ban. Kemudian seminggu berlalu, semakin bertambah. Sebulan, ada mobil dengan bak terbuka datang membawa muatan. Lama kelamaan halaman yang terasa lapang berubah menjadi kumpulan karet hitam. Semula satu dua, kini seperti gunung. Besar, kecil, layak, tak layak, semua bersatu, menumpuk, tanpa batas yang jelas. Tanpa pertimbangan tentang siapa yang tinggal di sekitarnya.
Tidak ada yang tau, kapan tempat itu berubah menjadi sebuah masalah. Tetapi, justru inilah yang paling berbahaya. Perubahan yang datang tanpa pengumuman. Tanpa aba-aba. Tidak ada momen dramatis di mana semua orang tersadar dengan perubahan tersebut. Tidak seperti di layar kaca dimana semua orang menjerit perlahan dibuatnya. Yang terasa adalah hari yang tiba-tiba berubah. Saat kamu perlahan keluar. Jalanan yang semula lebar, kini hanya seukuran bahu orang dewasa, bukan karena tanahnya menyusut, tetapi ban-ban itu telah merambat ke sana.
Setiap air turun dari langit, ban-ban tersebut menampung air yang menjadi kolam renang gratis bagi makhluk kecil bernama nyamuk. Makhluk tersebut berpesta pora. Merayakan kemenangan kecil bahwa mereka bisa berkembang biak sepuasnya. Lebih dari lima rumah mengeluh terkait hal tersebut. Bukan tentang tata letak rumah atau estetika yang berkurang. Tetapi dengung nyamuk sebelum tidur. Serta tangan yang tiba-tiba memiliki benjolan merah nan gatal.
Nyamuk tersebut tidak punya pikiran. Tidak mungkin hanya menggigit pemilik ban. Dampak yang ditanggung bersama itu mirisnya tidak ada yang mengaku salah siapa. Sebab, memang tidak ada yang merasa.
Cerita tersebut ternyata bukan hanya milik kampungku.
Coba ingat, kapan terakhir kali kamu melintasi jalanan sepanjang ringroad Yogyakarta. Kapan terakhir kali kamu melihat jalanan itu bersih? Sudah lupa bukan. Kantong hitam penuh lalat tersangkut di semak. Botol minuman menggelinding di bahu jalan. Bau menyengat sepanjang jalan. Tumpukan yang entah milik siapa, sejak kapan, siapa yang wajib membereskan?
Kalau kamu masih tidak ingat, kemungkinan besar ingatan itu memang tidak pernah ada. Kenyataan itu hanya mimpi belaka. Atau mungkin ilusi mereka yang merupakan “pelaku” sesungguhnya?
Sampah pinggir jalan besar tidak muncul hanya karena satu orang saja. Bukan seorang yang ingin merusak kota. Tetapi banyak orang yang masing-masing membuat keputusan kecil yang sama dan serupa : ini bukan halamanku, jadi bukan tanggung jawabku. Penjual membuang sisa dagangan ke semak. Pengendara melempar sesuatu di balik jendela. Atau motor-motor yang melempar kantong hitam berisi popok anaknya. Warga yang rumahnya berdampingan dengan jalan besar. Semua itu beranggapan bahwa wilayah itu bukan milik mereka, jadi kenapa harus bertanggung jawab? Mereka beranggapan “toh hanya sekali, besok tidak lagi.”
Kalau ruang publik dapat berbicara pasti mereka berkata “kenapa semua orang menggunakanku tapi tak ada satupun yang merasa bertanggung jawab atasku. Kalau aku berubah. Mereka semua justru acuh. Menjauh.”
Ban bekas di kampungku dan sampah berserak di jalanan Ringroad, terlihat seperti dua masalah dengan skala yang berbeda. Tetapi memiliki dasar yang sama, yaitu menempatkan kepentingan sendiri atas kondisi ruang yang digunakan bersama dan berharap “orang lain” yang membereskannya.
Yang membuat semakin bergeleng dan yang paling sulit agar terdengar tidak menggurui adalah bahwa kita semua tau. Tidak ada yang perlu diajari bahwa membuang sampah sembarangan itu salah. Merugikan orang lain itu salah. Menggunakan ruang bersama tanpa batas itu salah. Pengetahuan tersebut tentu sudah ada dalam pikiran. Tetapi yang tidak muncul adalah kesadaran.
Kesadaran tersebut bukan muncul karena orang-orang tersebut bodoh atau jahat. Bukan. Lebih dari itu. Kesadaran tidak muncul sebab tidak ada konsekuensi nyata. Tidak ada sanksi. Tidak ada tatapan jijik. Karena hampir semua melakukan hal yang sama. Ketika sebuah perilaku keliru dilakukan bersama, maka timbulah permakluman. Timbul rasa normal. Terjadi berulang-ulang.
Ketika para warga mulai menegur terkait ban tersebut. Dengan cara paling halus. Tanggapan yang muncul datar. Seolah dampak yang timbul dari ban tersebut adalah dua sesuatu yang tidak berhubungan. Seolah itu bukan merupakan tanggung jawabnya.
Sebenarnya itu bukan sikap yang lahir dari orang yang jahat. Pasti tidak ada niat untuk merugikan siapapun. Tetapi pikiran itulah yang patut dipertanyakan. Pikiran tentang selama dirinya tidak dirugikan, maka tidak ada yang perlu dipertanggungjawabkan.
Sebenarnya, sampah dan ban tersebut bukan sesuatu yang paling susah di bersihkan. Justru yang paling sulit dibersihkan adalah pikiran. Tanggung jawab. Kesadaran.
Ada yang dulu tidak pernah kami pikirkan. Sewaktu kanak-kanak. Halaman tersebut masih bisa berfungsi tanpa perlu ada akta atau papan nama sebagai milik bersama. Halaman tersebut lapang bukan karena tak ada fungsi. Melainkan hasil penjagaan dari setiap orang tanpa ada perjanjian. Tidak ada rapat. Tidak ada keputusan. Hanya prinsip bersama. Sederhana, tak perlu di tuliskan.
Jangan membuat hidupmu mudah dengan membuat orang lain susah.
Prinsip tersebut tidak butuh peraturan. Tidak butuh truk pengangkut tambahan. Tidak butuh CCTV di setiap sudut. Tidak butuh denda yang besar. Melainkan butuh hal yang lebih sulit dan lebih mahal dari itu, yaitu kesadaran.
Kesadaran untuk merawat. Bahwa setiap keputusan kecil yang kita buat akan berdampak. Dimana kita melakukan sesuatu. Membuang sesuatu. Merupakan keputusan yang harus kita lihat pula dampaknya di kemudian hari.
Ban bekas masih ada. Sampah sekitar ringroad masih berserak. Dan selama tidak ada yang merasa bahwa itu merupakan urusannya. Merupakan tanggung jawabnya. Keduanya akan terus betah bertahan disana.
Pertanyaannya hanya satu. Siapa orang yang sedang kamu tunggu untuk membersihkanya?
Karena sepertinya orang lain juga sedang menunggu kamu. Jadi gimana? Mau tetap saling menunggu?
***
Penulis: Nisrina Zulfa, Mahasiswi Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Gadjah Mada
Penyunting: Ayuk Wiji Safitri