Menuntut Bakti Ibu Pertiwi Lewat Sampah Popok dan Pembalut Sekali Pakai Tanpa Henti

 

lustrasi popok sekali pakai. Foto: Freepik

Kita ini manusia yang tidak tahu diri. Merusak alam dengan jutaan ton limbah popok dan pembalut sekali pakai, tapi masih saja menuntut alam untuk “berbakti”, memberikan udara segar, air bersih, dan makanan yang sehat untuk kita konsumsi. Tanpa sadar telah membebankan kerja ganda kepada Sang Ibu Pertiwi.


Beberapa waktu lalu, dalam kunjungan menuju destinasi paling populer di salah satu mal kota yakni toilet wanita, saya mendapati pemandangan yang membuat nafsu makan saya langsung merosot. Di atas tumpukan sampah yang menggunung, tergeletak berlembar-lembar residu dari popok dan pembalut sekali pakai yang prediksi saya berasal dari para ibu dan wanita dalam masa subur. Kondisinya begitu naas. Telanjang bulat, tidak dibungkus koran, tidak ditekuk apalagi dibasuh. Sampah sanitasi itu dibiarkan terbuka lebar begitu saja, mirip seperti mulut bapak-bapak yang tengah ketiduran di bus antarkota jalur pantura.

Yang jauh lebih menarik perhatian saya sebenarnya bukan sekadar keberadaan sampah tersebut, melainkan reaksi manusia di sekitarnya. Orang-orang berlalu lalang di depannya dengan wajah datar tanpa kekhawatiran, seperti hanya melihat seonggok daun kering yang jatuh dari pohon mangga. Fenomena ini telah menjadi pertanda bahwa kita telah sampai pada tahap rendah kesadaran terhadap lingkungan sekitar. Masyarakat Indonesia begitu mudah berkompromi dengan kehadiran sampah di sekitarnya. Asalkan bukan sampah yang ada di rumahnya sendiri, maka perkaranya dianggap bukan urusannya. 

Sikap abai ini terwujud secara masif dalam potret kehidupan sehari-hari masyarakat di Indonesia. Mulai dari selokan yang mampet penuh minyak jelantah saat hujan, kantong plastik toko kelontong yang tersangkut ranting pohon mlandingan bak dekorasi natal yang gagal, hingga tumpukan sampah liar di pinggir jalan yang jumlahnya kian lama akan menyusul pembangunan gedung pencakar langit kota. Sampah tidak lagi dipandang menjadi ancaman bagi lingkungan, melainkan perlahan diterima masyarakat sebagai bagian dari dekorasi yang wajar keberadaanya. 

Benarkah Mitos adalah “Penjara Pikiran” yang Melanggengkan Krisis Sampah?

Akar dari pembiaran ini sering kali bermula dari cerita turun temurun yang telah menjadi budaya kita. Itulah mengapa rakyat Indonesia sangat akrab dengan yang namanya “cerita”. Waktu masih berseragam putih-merah, Ibu saya pernah memberikan sebuah wejangan sebagai bekal beranjak masa pubertas, katanya pembalut itu wajib untuk disobek sebelum dibuang ke tong sampah. Jika dilanggar, benda itu dipercaya akan mengundang jin dan berakhir dengan fenomena ketindihan saat tidur atau ketiban sial selama tujuh turunan. Doktrin soal persampahan ini tidak sampai di situ saja, ada juga cerita lain yang menjelaskan bahwa cara terbaik membuang sampah popok konon adalah dengan melemparkannya ke sungai yang mengalir, agar pantat si bayi tetap adem dan terhindar dari ruam.

Karena nasihat itu diucapkan dengan sorot mata yang penuh keyakinan, saya yang waktu itu belum mampu menalar korelasi ilmiahnya tidak pernah punya cukup nyali untuk menginterupsi.  Jangankan berdebat dengan orang dewasa, menghafal perkalian tujuh saja sudah cukup membuat saya berharap untuk sekolah segera dibubarkan. Alhasil, menuruti perintah menjadi pilihan paling aman. Pilihan yang saya yakini juga diambil oleh jutaan anak lain yang tumbuh dalam lingkungan serupa.

Narasi-narasi mistis ini dapat bertahan lama di masyarakat Indonesia karena masyarakat kita lebih akrab dengan cerita lisan ketimbang literasi mengenai kesehatan. Informasi yang diwariskan dari Ibu ke anak, nenek ke cucu, hingga bermutasi menjadi pesan berantai di grup WhatsApp keluarga yang jauh lebih meyakinkan karena bahasanya mudah dipahami tanpa dipungut biaya apapun. Jika dibandingkan dengan membaca penelitian medis atau ekologis tentu usahanya harus lebih, membuka berita sendiri di internet, memilah mana yang tepat, dan bahasanya juga kritis, kalau begini informasi dari anggota keluarga sendiri daripada orang asing tentu akan lebih mudah untuk dipercayai. 

Secara objektif sebenarnya sebagian besar mitos yang berkembang seiring dengan budaya di Indonesia memang memiliki kegunaan yang baik untuk mengatur etika masyarakat. Ancaman menelan biji buah membuat pohon tumbuh di dalam perut, atau larangan menyapu di malam hari agar rezeki tidak seret, sebenarnya adalah solusi kreatif dari nenek moyang agar anak tidak tersedak dan rumah tetap bersih sebelum tidur. Namun, ketika cerita mitos justru melegitimasi tindakan perusakan lingkungan seperti membuang limbah ke badan air maka cerita lisan ini, seperti kata Tan Malaka dalam Madilog, dapat berubah menjadi penjara pikiran yang destruktif. Menurutnya, masyarakat yang masih berada dalam belenggu logika mistika adalah penyebab dari kemunduran bangsa.

Seberapa Bahaya Zat Kimia di Dalam Popok dan Pembalut Sekali Pakai?

Sifat adaptif masyarakat Indonesia terhadap mitos sayangnya tidak linier dengan sifat sampah residu yang sulit sekali dihancurkan. Pembalut dan popok sekali pakai mengandung plastik berlapis, serat sintetis, polimer super-penyerap (SPA), hingga zat perfluoroalkil dan polifluoroalkil (PFAS). Zat kimia yang terakhir ini dijuluki oleh ilmuwan sebagai forever chemical atau zat kimia abadi. Ikatan karbon-fluorin di dalam PFAS merupakan salah satu yang terkuat dalam kimia organik, sehingga membutuhkan waktu ratusan tahun hanya untuk memecah jalinan molekulnya. Berdasarkan imbauan dari Sekolah Sampah Nusantara jenis sampah ini tidak bisa di daur ulang seperti biasa karena mengandung kotoran manusia yang penuh bakteri dan materialnya sulit untuk dipisahkan menggunakan mesin daur ulang biasa. Meski sebagian masyarakat telah memanfaatkan gel dalam popok dan pembalut untuk kebutuhan paving, pot, dan campuran semen cara tersebut dinilai berbahaya bagi kesehatan jika langsung dimanfaatkan tanpa pengolahan yang benar, karena bakteri di dalam kotoran manusia tersebut masih belum benar-benar mati.

Mari kita tengok data yang dipublikasikan oleh The Conversation Indonesia. Di kota Yogyakarta, rata-rata seorang perempuan usia subur menggunakan sekitar 360 lembar pembalut setiap tahunnya. Sementara itu, jika menilik data Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai angka kelahiran Indonesia yang mencapai kisaran 4,6 juta bayi per tahun, volume limbah popok sekali pakai melesat jauh lebih tinggi. Jika dikonversi ke dalam kebutuhan logistik harian, terdapat potensi penggunaan popok hingga puluhan juta lembar dalam kurun waktu 24 jam. Skala kalkulasinya tidak lagi menggunakan takaran kilogram, melainkan telah menyentuh angka ribuan ton limbah per hari yang masuk ke dalam sistem pembuangan kita.

Sudah bisa terasa kan bahayanya sebesar apa?

Mengapa Sistem Pengelolaan Sampah Kita Selalu Berakhir Gagal Total?

Umumnya masyarakat masih sering kebingungan dalam mengolah sampah residu popok dan pembalut. Kebingungan yang saya maksud adalah masih salah kaprah terkait pengelolaan yang benar. Sampah popok akan diolah dengan cara dibersihkan kotorannya kemudian dibungkus rapat. Sedangkan sampah pembalut langsung digulung ke dalam dan dibungkus rapat. Tahap akhirnya, keduanya sama-sama dibuang ke tempat sampah jenis residu. Sangat mudah. 

Namun, itu adalah awal dari tragedi yang sesungguhnya. Ketika kantong-kantong sampah sudah dipilah dengan penuh kesadaran itu kemudian berpindah tangan ke truk pengangkut sampah. Maka yang terjadi, semua sampah residu akan dicampuradukkan menjadi satuan homogen bersama sisa sayur busuk, pecahan kaca, dan kotoran kucing. Memang benar semuanya ini termasuk jenis sampah residu. Tetapi popok dan pembalut memerlukan cara khusus untuk akhirnya dapat diolah. Proses distribusinya pun monoton dari tempat sampah rumah tangga, berpindah ke TPS, diangkut menuju TPA yang kelebihan muatan, berceceran, hingga akhirnya zat cair beracun atau air lendir hanyut menuju anak sungai dan berakhir di laut lepas. 

Kegagalan ini diperparah oleh keterbatasan infrastruktur teknologi kita. Wilayah padat seperti Kota Yogyakarta pun belum memiliki sistem pengolahan mekanis yang spesifik dan aman untuk mengolah limbah popok dan pembalut sekali pakai agar tidak berbau, aman bagi lingkungan sekitar (tidak mencemari udara) dan dapat diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat. Bahkan, mesin-mesin pengolah sampah yang digadang-gadang menjadi juru selamat perkotaan kerap kali mengalami kerusakan teknis saat mengolah limbah popok dan pembalut karena serat tekstil sintetis berkekuatan tinggi sering kali melilit poros pisau mesin pencacah hingga macet total. Dengan jumlahnya yang banyak, dan mesin pencacah yang terbatas dan masih belum terlalu canggih tentu ini menjadi hambatan dalam pengolahan sampah di Indonesia.

Dampak buruk dari macetnya sistem pengolahan ini menyebar luas ke jalur-jalur perairan di Indonesia. Lembaga kajian ekologi Ecoton (Ecological Observation and Wetlands Conservation) dalam ekspedisinya menyusuri Sungai Brantas di Jawa Timur menemukan jutaan popok bekas yang mengapung dan tersangkut di akar-akar pohon tepi sungai. Jalur air juga dipilih sebagai jalan pintas pembuangan limbah ketika ketersediaan tempat di daratan sudah tidak ada. Ini adalah bentuk egoisme manusia yang disebut-sebut sebagai makhluk paling berakal. Memanfaatkan akalnya untuk melepas tanggung jawab demi istirahat, dan selanjutnya biota air seperti ikan, udang, dan mikroorganisme dibiarkan hidup dalam perairan yang pekat akan kontaminasi feses manusia, bakteri E.coli, mikroplastik, serta deterjen kimia.

Idealnya, pengelolaan sampah di tingkat rumah tangga itu seharusnya juga dibagi menjadi dua jalur utama, yaitu sampah yang aman dibakar secara mandiri seperti daun kering dan ranting serta sampah yang haram didekatkan ke korek api seperti popok pembalut dan plastik. Namun, sebelum menuntut masyarakat memilah kedua jalur tersebut, negara Indonesia sebenarnya punya PR besar untuk menyediakan infrastruktur yang mumpuni berupa insinerator antipolusi standar medis di tiap daerah. Selain itu pemilahan tempat sampah warna-warni yang digagas pemerintah harus lengkap dan merata. Tanpa adanya penyediaan fasilitas yang merata serta tindakan disiplin hukum dari aparat, aturan tinggal aturan, masyarakat akan tetap mencampur adukkan semua jenis limbah dan tata kelola sampah di nusantara akan selalu berakhir carut-marut di tiap tempat pembuangan. 

Sebuah Petisi atau Refleksi?

Ketika membeli hasil laut di pasar, kita selalu menuntut kualitas ikan paling segar, bersih, dan bebas penyakit. Kalau tidak segar maka yang akan disalahkan restonya, diviralkan di media sosial, bisnis pun hancur. Munafik saya rasa, di saat yang sama kita menutup mata terhadap kenyataan bahwa kitalah yang meracuni habitat mereka, seharusnya kita cukup malu untuk sekadar membeli ikan. 

Tentu kita tahu betul, bahwa sebenarnya manusia masih begitu jemawa berasumsi bahwa alam akan baik-baik saja meski begitu banyak tanda-tanda bencana di sekitar kita. Kita begitu puitis menyebut bumi sebagai Ibu Pertiwi atau Mother Nature. Realitanya, sama seperti tindakan patriarki yang kerap terjadi pada wanita, alam pun juga menerima dominasi kekuasaan yang begitu parah dari manusia, dipandang begitu semena-mena. Padahal, UU No.18 tahun 2008 pasal 15 sudah ketuk palu memerintahkan para produsen untuk menggunakan bahan yang minim sampah dan mudah diurai alam. Tapi tahu sendiri, hukum di Indonesia sering kali bersifat hanya sebagai imbauan ramah tamah. Produsen tetap rajin mencetak jutaan popok dan pembalut sekali pakai demi cuan, sementara konsumen yang juga diwajibkan untuk memilih barang ramah lingkungan, tetap mengambil jalan pintas demi kenyamanan agar setelah selesai, tidak perlu dicuci, dibuang, dan beres.

Sudah saatnya masyarakat Indonesia keluar dari jurang kemunduran. Berhenti memperlakukan petugas kebersihan untuk melenyapkan dosa kita pada alam dalam semalam. Sebagai pelaku utama yang memproduksi, mendistribusikan, dan menikmati kepraktisan barang-barang sekali pakai, andil terbesar kita justru meluangkan waktu untuk memilah dan mengolahnya sendiri di rumah sesuai dengan prosedur wawasan lingkungan. Pada akhirnya, krisis lingkungan ini tidak hanya karena perkara minimnya fasilitas di Indonesia saja, melainkan juga seberapa sudi kita menukar sedikit kenyamanan kita demi keselamatan bersama di masa yang akan datang.

***

Penulis: Dita Ayu Rohimah, mahasiswi Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Gadjah Mada 

Penyunting: Melinda Sintawati


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama