| The concept of social bullying Illustration by Svetlana Krivenceva on Vecteezy |
"Di atas kertas, kurikulum IPS tingkat dasar dirancang untuk mencetak warga negara yang ideal. Namun, realita di lapangan sering kali bicara lain: di balik hafalan nama pahlawan dan batas wilayah, koridor sekolah justru menjadi saksi bisu bagi intimidasi yang menimpa ribuan siswa setiap harinya." Ada kontradiksi yang menyesakkan saat kita membedah buku teks Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di MI/SD. Kita menuntut anak-anak menghafal nilai-nilai kemanusiaan dari sejarah masa lalu, sementara di bangku sebelah, praktik perundungan (bullying) dibiarkan tumbuh sebagai dianggap sebagai "bumbu pergaulan" belaka. Berdasarkan catatan KPAI per awal 2026, sekolah masih menjadi titik rawan di mana kekerasan fisik maupun verbal justru membudaya.
Di sinilah letak kegagalannya. Mata pelajaran IPS seharusnya tidak sekadar menjadi tumpukan teks yang kering. Ia memikul beban moral sebagai "ruang asah" empati. Jika di ruang kelas tersebut siswa tidak diajarkan cara memanusiakan sesamanya, maka sistem pendidikan kita sebenarnya hanya sedang memproduksi barisan penghafal angka yang kehilangan sensitivitas sosialnya.
Apa Sih Bullying?
Pembelajaran yang dikaitkan dengan situasi nyata melalui pendekatan kontekstual dan interaktif mampu membuat materi lebih bermakna bagi siswa. Kontribusi Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dalam membentuk profil pelajar berlandaskan Pancasila tampak dari kemampuan siswa dalam mengenali serta mencari solusi atas permasalahan sosial, ekonomi, dan politik sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku. Oleh sebab itu, IPS tidak hanya berfungsi sebagai sarana penyampaian pengetahuan, tetapi juga sebagai media untuk menanamkan karakter yang menjunjung tinggi nilai Pancasila. Hasil penelitian ini menegaskan bahwa pembelajaran IPS yang dirancang dengan baik dapat menjadi sarana strategis dalam membentuk generasi muda yang berkomitmen pada nilai-nilai Pancasila serta mampu berkontribusi sebagai agen perubahan yang positif di lingkungan masyarakat dan negara.
Catatan KPAI: Sebanyak 2.031 Kekerasan pada Anak di 2025
Menurut laporan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), sepanjang tahun 2025 tercatat 2.031 kasus kekerasan yang melibatkan anak. Dari jumlah tersebut, korban didominasi oleh anak perempuan dengan proporsi sekitar 51,5 persen. Sementara itu, anak laki-laki mencakup 47,6 persen, dan sekitar 0,9 persen kasus tidak mencantumkan informasi mengenai jenis kelamin korban. “Ini temuan yang sangat memprihatinkan,” kata Wakil Ketua KPAI Jasra Putra melalui keterangan tertulis, pada Kamis, 15 Januari 2025.
Jasra mengatakan pelaku kekerasan lebih banyak berasal dari lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif. KPAI menemukan sebanyak 9 persen ayah kandung dan 8,2 persen ibu kandung menjadi pelaku kekerasan. Selanjutnya, sebanyak 66,3 persen dari total kasus di 2025 tersebut tidak diketahui pelakunya.Selain itu, KPAI juga menemukan bahwa anak masih rentan menjadi target eksploitasi politik. Pada kerusuhan Agustus-September 2025, misalnya, KPAI mencatat banyak anak yang mengalami kekerasan dan penyiksaan saat ditangkap serta diproses hukum oleh Kepolisian Republik Indonesia.
“Realita ini merupakan pelanggaran Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 yang mengatur hak anak untuk berpartisipasi dan mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi,” katanya.
Belajar Empati Penting untuk Meminimalisir Kasus Pembullyan di Sekolah Dasar
Pendidikan empati telah menjadi solusi penting untuk mengatasi bullying yang kompleks yang mencakup elemen tubuh, ejekan, dan sosial. Melibatkan siswa dalam belajar empati berarti mereka bukan cuman belajar tentang perasaan dan pengalaman mereka sendiri, tetapi juga menjadi lebih peka terhadap apa yang dirasa dan dilihat orang lain. Hal ini, tidak hanya mengenali emosi Anda, tetapi juga menyadari positif perasaan dan kebutuhan orang lain. Dengan menanamkan nilai empati, seseorang dapat meningkatkan kemampuan berkomunikasi secara efektif sehingga mampu menyelesaikan konflik tanpa harus menggunakan tindakan yang merugikan. Dalam kasus perundungan, siswa yang memiliki empati tinggi cenderung lebih peduli, berinisiatif membantu korban, serta menjauhi perilaku bullying. Siswa dapat memahami arti keberagaman dan menghargai perbedaan melalui proyek dan kegiatan sosial. Inisiatif seperti ini membantu membangun sekolah yang inklusif dan mendukung di mana semua orang merasa dihargai dan diterima. Pembelajaran empati dapat diterapkan dalam program konseling yang dirancang khusus untuk menangani siswa yang melakukan perundungan. Melalui pendekatan ini, empati berperan sebagai langkah awal untuk menghentikan pola perilaku negatif sekaligus mendorong perubahan ke arah yang lebih baik, dengan membantu pelaku memahami alasan di balik tindakannya yang merugikan.
Di jenjang Sekolah Dasar (SD), penanaman empati sangat penting karena berkontribusi pada pembentukan karakter sekaligus menciptakan suasana belajar yang positif. Penerapannya bisa diintegrasikan dalam pembelajaran dengan cara yang menarik dan sesuai dengan tingkat perkembangan anak.
Salah satu strategi yang dapat digunakan guru adalah menghadirkan cerita atau dongeng yang mengandung nilai empati. Melalui cerita tersebut, siswa diajak memahami perspektif orang lain. Diskusi lanjutan dengan pertanyaan seperti “Apa yang kamu rasakan jika berada di posisi tokoh tersebut?” dapat membantu anak mengembangkan kepekaan emosional. Selain itu, aktivitas kolaboratif seperti permainan kelompok atau tugas bersama juga dapat melatih kerja sama, menghargai pendapat, dan membangun kesepakatan bersama.
Guru juga dapat memanfaatkan metode bermain peran atau dramatisasi untuk menumbuhkan empati. Dengan memerankan berbagai tokoh, siswa dapat melihat suatu peristiwa dari sudut pandang yang berbeda. Cara ini tidak hanya membuat pembelajaran lebih menarik, tetapi juga membantu mereka memahami perasaan secara lebih mendalam. Di samping itu, kegiatan sosial seperti sesi berbagi pengalaman atau minat dapat meningkatkan rasa saling menghargai. Penerapan disiplin positif melalui pemberian penghargaan terhadap perilaku baik juga dapat memperkuat perkembangan sikap empati pada siswa dalam kehidupan sehari-hari di dalam diri mereka sendiri.
Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) sangat berperan dalam membangun siswa yang memahami prinsip-prinsip Pancasila. Pelajar dapat mengerti arti prinsip-prinsip dasar Pancasila, seperti keadilan, persatuan, demokrasi, dan kemanusiaan, melalui materi IPS. Pelajar dapat memahami nilai-nilai Pancasila dengan lebih baik dan mengaitkan konsep-konsep dengan Pembelajaran yang dikaitkan dengan situasi nyata melalui pendekatan kontekstual dan interaktif mampu membuat materi lebih bermakna bagi siswa. Kontribusi Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dalam membentuk profil pelajar berlandaskan Pancasila tampak dari kemampuan siswa dalam mengenali serta mencari solusi atas permasalahan sosial, ekonomi, dan politik sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku. Oleh sebab itu, IPS tidak hanya berfungsi sebagai sarana penyampaian pengetahuan, tetapi juga sebagai media untuk menanamkan karakter yang menjunjung tinggi nilai Pancasila. Hasil penelitian ini menegaskan bahwa pembelajaran IPS yang dirancang dengan baik dapat menjadi sarana strategis dalam membentuk generasi muda yang berkomitmen pada nilai-nilai Pancasila serta mampu berkontribusi sebagai agen perubahan yang positif di lingkungan masyarakat dan negara.
Pada titik ini, sebuah pertanyaan krusial mesti diajukan, buat apa kita menjejali otak siswa dengan memori perang kolonial di buku sejarah, jika mereka sendiri tak mampu memadamkan "bara api" intimidasi di lingkaran pertemanan sendiri? Selembar ijazah atau skor sempurna di atas kertas ujian IPS hanya akan berakhir jadi sampah jika empati tak pernah berakar dalam diri siswa. Sekolah tidak boleh tereduksi hanya menjadi tempat transfer data dari kertas ke kepala, sementara nurani para penghuninya mati rasa terhadap penderitaan kawan di bangku sebelah.
Upaya memutus rantai perundungan ini terlalu besar jika hanya dibebankan sebagai "tugas sampingan" guru BK. Ia seharusnya menjadi napas yang menghidupkan setiap jam pelajaran sosial. Tanpa nyali untuk menyisipkan literasi empati ke dalam kurikulum, IPS hanya akan menjadi tumpukan narasi hampa yang gagal menjalankan fungsi paling mendasarnya, yaitu memanusiakan manusia. Jika kekerasan masih saja dimaklumi sebagai "ritus pendewasaan" yang lumrah, maka sebenarnya sistem pendidikan kita tengah berjalan menuju kebangkrutan fungsi yang sangat nyata.
***
Penulis: Naufal Dzakwan Nur Aqli, Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Penyunting: Widya Bunga Aprilia
Daftar Referensi:
Fatimatuzzahro, A. F. A., Suseno, M. N. M., & Irwanto, B. (2017). Efektivitas terapi empati untuk menurunkan perilaku bullying pada anak usia sekolah dasar. Diponegoro University.
Madani, R. A. (2026). Fenomena Sharenting pada platform TikTok perspektif Maqashid Syariah (Doctoral dissertation, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim).
Pradana, C. D. E. (2024). Pengertian tindakan bullying, penyebab, efek, pencegahan dan solusi. Jurnal Syntax Admiration, 5(3), 884-898.
Suarti, S., Aswat, H., & Masri, M. (2023). Peran pembelajaran ilmu pengetahuan sosial (IPS) menuju pelajar pancasila pada siswa di sekolah dasar. Edukatif: Jurnal Ilmu Pendidikan, 5(6), 2527-2535.