Pembalasan Pria Melankolis Untuk Nocturnal Animals

 

Poster Film Nocturnal Animals

“Revenge”, sebuah kata yang tepat untuk menggambarkan keseluruhan alur dalam film Nocturnal Animals. Film yang diadaptasi dari novel Tony and Susan karya Austin Wright ini menyuguhkan sebuah kisah cinta yang rumit dan berujung pada sebuah pembalasan. Magis, penuh misteri dan mungkin juga ironis. Plot twistnya berjalan dengan sangat halus sehingga penonton akan merasa kesal. Namun, secara keseluruhan, film ini cukup memuaskan.

Mengisahkan kisah cinta antara Edward dan Susan yang kandas dalam rumah tangganya. Awalnya hubungan mereka tampak menjanjikan. Edward yang berjiwa lembut serta ambisinya sebagai penulis bertemu dengan Susan yang gelora artistiknya selalu menggebu-nggebu. Apa yang diharapkan dari sebuah hubungan pria pemuja romantisme dengan wanita realis dan pragmatis? Tentu tidak ada. Ini bukan masalah gejolak dalam rumah tangga pada umumnya, tapi sesuatu yang lebih dalam. Ibarat dua orang yang berjalan bersama dengan tujuan dan tempo perjalanan yang berbeda.

Namun bukan itu inti dari film ini. Setelah bertahun-tahun berpisah, Susan mendapat sebuah paket berisi draf novel dari Edward. Novel itu berjudul Nocturnal Animals, julukan yang diberikan Edward pada Susan. Scene kemudian berpindah ke dalam alur novel tersebut, atau mungkin juga imajinasi Susan. Singkatnya, novel itu berisi kisah tentang Tony beserta anak istrinya yang melakukan perjalanan di Texas. Di tengah perjalanan, mereka dihadang oleh sekelompok orang. Anak dan Istri Tony kemudian diperkosa lalu dibunuh oleh orang-orang tersebut. Tony yang dihantui penyesalan berupaya menangkap penjahat itu dan memenjarakannya. Peristiwa demi peristiwa ditampilkan dengan begitu kelam. Terlebih emosi dan ketidak berdayaan Tony menghadapi itu semua. Meski pada akhirnya dua dari penjahat itu mati. Begitu juga Tony sendiri.

Susan merasa bahwa tokoh-tokoh dalam novel itu diambil dari kehidupan nyata Edward, termasuk ia dan anak perempuan mereka. Susan membayangkan dirinya dan anak perempuannya diperkosa lalu dibunuh oleh sekelompok berandal itu. Ia merasakan trauma yang dialami Tony seakan merepresentasikan diri Edward, yang ditinggalkan Susan waktu itu demi pria lain. Selain itu, Susan juga membawa anak perempuan mereka yang masih kandungan. Novel yang menurut Susan “ditulis dengan sangat brutal” itu memberinya gambaran penderitaan yang dirasakan oleh Edward. Kesepian, penyesalan dan ketidakberdayaan.

Membaca novel itu, Susan merindukan beragam romantisme pada diri Edward. Terlebih lagi Susan menemukan bukti perselingkuhan yang dilakukan suaminya sekarang. Seperti satu quote yang ada dalam film tersebut—cinta bertahan lebih lama daripada nafsu. Susan kemudian mengadakan janji makan malam dengan Edward. Di akhir film, Susan mendapati dirinya sendirian di sebuah restoran. Ia menunggu Edward hingga restoran itu sepi, namun Edward tidak pernah datang. Susan akhirnya menyadari sesuatu dalam dirinya. Edward mungkin telah mati, seperti Tony dalam novelnya.

Mengungkapkan rasa sakit dan kehilangan melalui novel, lalu mengirimkannya kepada orang yang membuangnya. Sebuah bentuk balas dendam yang datang dari pria melankolis seperti Edward. Lewat novelnya yang kelam, serta lanskap film minimalis. Edward menyajikan alegori balas dendam paling lembut dan membekas.

***


Penulis: Rizal AN

Penyunting: Merlyn Valencia Sekarwangi

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama