Ebonfall atau Arcania

 

Illustration by Алексей on Pinterest


“Aku lapar, kamu belum membacaku pagi ini.”

Aku menatap malas buku setebal hampir lima senti yang berdiri di atas meja bacaku. Setiap hari aku membacanya tapi belum juga selesai. Semakin lama aku semakin jenuh karena setiap hari diwajibkan membaca.

Tak memedulikannya, aku langsung menyambar tas yang kugantung di belakang pintu.

“Ayolah, Taku, baca aku lima belas menit saja, setelah itu kamu boleh pergi,” ucap buku itu lagi. Dia mendekatkan dirinya ke ujung meja agar aku mudah meraihnya. Tapi, seolah tak mendengar ucapannya, aku membuka pintu dan keluar dari kamar, bersiap untuk menyantap sarapanku.

“Taku! Takumi! Kamu mau dikirim ke Pulau Ebonfall karena tidak membaca?!”

Aku tak peduli. Mau Pulau Ebonfall, Pulau Arcania, atau negeri yang kutinggali saat ini, Eldoria. Negeri dengan sejarah panjang dan tradisi kuno. Di mana setiap anak yang baru bisa berjalan hingga berusia sepuluh tahun diwajibkan untuk membaca buku setiap harinya.

Aku sudah melakukan itu sejak usiaku satu tahun. Sampai usiaku genap sepuluh tahun, aku harus membaca buku setiap hari pada waktu pagi, siang dan malam sebelum tidur. Selama itu juga aku tidak pernah absen, kecuali pagi ini.

“Taku, buku yang kemarin Ibu beri sudah dibaca?”

Ah, sayangnya aku memiliki Ibu yang seorang penjaga perpustakaan. Setiap dua Minggu sekali pasti selalu membawa pulang buku tebal untukku. Ibu selalu memastikan apakah aku sudah membaca atau belum.

Aku mengambil segelas susu dan meletakkannya di meja depan kursi yang akan kududuki, “Belum, hari ini aku belum membacanya.”

Ibu berhenti dari aktivitasnya yang sedang mengoleskan selai kacang pada selembar roti tawar, “Belum membaca, Taku? Kamu tega melihat buku itu menangis kelaparan karena tidak dibaca?”

Aku merotasikan bola mataku, merasa jenuh karena setiap hari harus membaca, “Ayolah, Bu, tidak membacanya sekali tidak akan membuatku rugi, ‘kan? Lagi pula baru kali ini aku absen.”

“Taku, pernah kamu dengar tentang Simo yang dikirim ke Ebonfall karena tidak membaca?”

Tentu saja, cerita itu sudah tersebar di seluruh Negeri Eldoria. Tentang seorang anak laki-laki yang dua tahun lebih tua dariku. Simo melanggar tradisi kuno yang sudah ada sejak dulu. Dia tidak membaca sejak umur lima tahun. Makanya, pada usia sepuluh tahun, Simo dikirim ke Pulau Ebonfall.

Pulau Ebonfall terletak di ujung barat Negeri Eldoria, pulau yang diselimuti oleh malam. Di sana matahari tidak pernah terbit, dan hanya mengandalkan pencahayaan dari bulan dan bintang. Pulau itu dihuni oleh anak-anak yang melanggar tradisi kuno dan di sana mereka akan diperalat. Diminta bekerja tanpa henti dan tentunya mereka tak pernah merasakan lelah tapi, tidak bisa menikmati nikmatnya kehidupan. Orang bilang, masuk ke Ebonfall sama saja masuk ke neraka.

“Aku tahu, Ibu. Simo dikirim ke sana karena dia melanggar sejak usia lima tahun, sedangkan aku baru sekali ini, tentunya tidak akan terjadi apa-apa padaku,” jawabku santai. Aku memotong roti yang sudah disiapkan oleh Ibu dan memakannya.

Ibu masuk ke kamarku dan keluar membawa buku yang tadi memintaku untuk dibaca. Ibu mengambil roti dari tanganku dan menukarnya dengan buku tebal itu.

“Kamu boleh makan setelah membaca buku, Taku,” ucap Ibu lalu menyimpan sarapanku di pantry.

Aku menatap Ibu dengan tidak suka, “Bu, aku lapar.”

“Itu juga yang dirasakan oleh bukumu, lapar karena tidak kamu baca. Sekarang baca buku itu dan kamu baru bisa makan.”

Aku menatap jengkel pada buku tebal itu. Lihatlah dia sekarang, wajahnya berseri karena mendapatkan apa yang dia inginkan.

Buku itu langsung terbuka sendirinya ke halaman terakhir aku membacanya. Tentang bagaimana caranya bertahan hidup jika hanyut di sungai, sangat tidak berguna. Siapa juga yang akan pergi ke sungai. Meskipun tidak suka, aku tetap membaca buku itu sampai selesai.

“Baca lebih lama lagi, Taku. Aku masih lapar,” ucap buku itu setelah aku letakkan di atas meja.

“Sudah lima belas menit, lagi pula nanti siang dan malam aku membacamu lagi,” jawabku lalu mengambil sarapan yang Ibu simpan di pantry.

Setelah sarapan, aku memasukkan buku tadi ke dalam tas dan membawanya ke sekolah. Ingatkan aku untuk membacanya nanti siang. Ah, pasti aku membacanya dan tidak akan lupa. Semua anak yang berusia di bawah sepuluh tahun mempunyai rutinitas yang sama, membaca buku tiga kali sehari.

Aku berangkat sekolah bersama Ibu, karena Ibu bekerja di perpustakaan sekolahku.

“Kabari Ibu kalau buku itu sudah selesai kamu baca,” ucap Ibu saat aku ingin membuka pintu mobil.

“Iya.”

Aku langsung ke kelas tanpa mampir ke kantin atau ke taman sekadar untuk duduk menunggu bel masuk.

“Taku, kamu sudah tahu berita hari ini belum?” Gael, teman sebangkuku menyambut kedatanganku dengan pertanyaan yang sepertinya akan menjadi berita panas pagi ini.

Aku meletakkan tas lalu duduk, tak lupa mengeluarkan buku tebal yang nanti akan kubaca, “Belum, ada berita apa?”

Gael mendekatkan kursinya padaku dan berbicara dengan sedikit berbisik, “Kudengar Morla dikirim ke Ebonfall.”

Aku menatapnya tak percaya. Morla, anak perempuan seusia Simo yang hanya berbeda beberapa bulan. Morla terkenal sebagai anak yang rajin, pintar dan cantik. Dia rajin membaca, bahkan sebelum waktunya. Siapa sangka, Morla dikirim ke Ebonfall.

“Yang benar saja, El, Morla anak yang rajin, seharusnya dia dikirim ke Arcania,” ucapku yang masih tak percaya.

“Ini benar, aku mendengar sendiri perbincangan orang tuaku pagi tadi. Katanya Morla hanya berpura-pura membaca, sebenarnya dia bermain ponsel, hanya saja tertutup oleh buku, jadi banyak yang mengira Morla sedang membaca,” jelas Gael.

Ini berita besar. Aku yakin, jika ini benar, tidak lama lagi akan tersebar di seluruh Eldoria.

“Aku takut dikirim ke Ebonfall, makanya aku berusaha untuk konsisten membaca setiap hari, walau bosan,” keluh Gael.

Bukan hanya Gael, aku juga bosan. Buku yang kubaca rasanya tak lagi menarik, aku ingin sesuatu yang berbeda. Tapi, aku harus bersabar, setelah usiaku sepuluh tahun, aku sudah tidak diwajibkan membaca sehari tiga kali lagi.

Tak lama bel masuk berdentang dan guru pun datang, pelajaran pertama dimulai. Aku fokus mendengarkan materi yang disampaikan.

Dua tahun berlalu, bulan depan usiaku genap sepuluh tahun. Aku masih rajin membaca walau jenuh. Bukuku juga sudah ganti, aku sudah tidak lagi membaca buku yang berisi cara bertahan hidup jika hanyut di sungai. Sekarang aku membaca buku yang aku sukai, aku memilihnya sendiri dan bukan pilihan Ibu yang jika dipukulkan ke kepala akan membuat kliyengan.

“Takumi, besok adalah ulang tahunku ke sepuluh, aku akan pergi entah itu ke Arcania atau Ebonfall, tapi aku harap aku ke Arcania,” kata Gael memberitahuku sehari sebelum dia dikirim yang belum diketahui tujuannya.

“Iya, El. Kamu anak yang rajin, aku yakin kamu akan dikirim ke Arcania,” jawabku memberikan semangat untuknya.

Gael tersenyum menatapku, memperlihatkan lesung pipinya yang menjadikannya semakin manis, “Semoga saja, aku harap bulan depan kita bisa bertemu di Arcania.”

Aku mengangguk mengiyakan ucapannya. Aslinya aku berdebar-debar memikirkan nanti aku akan dikirim ke mana. Tapi, aku berusaha untuk tenang dan melakukan yang terbaik.

Pagi harinya, aku mendengar kabar kalau Gael dikirim ke Pulau Arcania, syukurlah. Arcania adalah pulau para penyihir. Pulau itu terletak di ujung timur Negeri Eldoria, sebuah pulau yang diselimuti kabut tebal. Di balik kabut itu ada menara yang menjulang tinggi dan laboratorium magis. Arcania mempunyai akademi yang berisi anak-anak baik dan rajin, serta tidak pernah absen dalam membaca. Untuk masuk ke sana tidaklah mudah, kita harus konsisten membaca sampai usia genap sepuluh tahun.

“Bulan depan usiamu genap sepuluh tahun, selama ini kamu selalu membaca buku, ‘kan, Taku?” tanya Ibu ketika selesai sarapan pagi ini.

Aku mengangguk, “Iya, Bu, aku selalu membaca buku.”

“Baguslah, kamu tidak perlu khawatir nanti akan dikirim ke mana,” ucap Ibu lalu membereskan peralatan makan yang selesai dipakai.

Sekarang aku tahu, buku-buku yang Ibu beri itu ternyata berisi pembelajaran yang sangat penting. Tentang kehidupan yang akan aku jalani, tapi ... aku tidak membaca semuanya, ada beberapa bab yang aku abaikan. Ini ... tidak masalah, ‘kan?

Mendadak aku jadi merasa kalau aku akan dikirim ke Ebonfall, karena ada beberapa bab yang tidak aku baca. Tapi, seharusnya itu tidak jadi masalah, aku selalu membaca buku tiga kali sehari. Tapi ....

“Apa yang kamu tabur, itu yang akan kamu dapat, Takumi.”

Aku menatap buku yang baru saja selesai kubaca, “Apa maksudmu?”

“Kamu mengabaikan beberapa bab, kamu tidak tahu, sepenting apa bab yang kamu abaikan itu,” jawab buku itu.

Buku itu berdiri dan menunjuk cermin besar yang ada di lemari, “Lihatlah, mungkin sekarang kamu membaca semuanya, tapi dulu?”

Di dalam cermin itu, aku dibuat bisa melihat saat aku melewati bab-bab pada buku yang sedang kubaca.

“Ingat Taku, apa yang kamu tabur, itu yang kamu tuai.”

Cermin lalu kembali seperti semula. Memperlihatkan aku yang sedang menatapnya dengan raut gelisah. Aku takut, takut dikirim ke Ebonfall dan akan dijadikan alat.

Aku menyesal, andaikan waktu bisa diputar kembali, aku akan membaca semua bab-bab itu tanpa terkecuali. Tapi, terlambat. Besok ulang tahunku ke sepuluh, siap atau tidak aku harus terima akan dikirim ke mana. Aku harap, aku dikirim ke Arcania, bertemu Gael dan anak-anak rajin lainnya. Tapi, sepertinya di Ebonfall tidak jadi masalah, aku akan bertemu dengan Simo dan Morla.

***

Penulis: Rita Ameylia, penulis cerpen asal Kebumen yang menjadikan tulisan sebagai ruang berbagi cerita. Instagram: @rtmeyl


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama