Bumi yang Dipertaruhkan di Balik Keramaian Malam

ilustrasi: Pinterest

Malam turun perlahan di kampungku. Pelan, seperti seseorang yang tidak ingin ketahuan datang. Jam menunjukkan pukul tujuh. Di belakang rumah — di sudut gang yang diterangi lampu bohlam kuning redup, satu-satunya cahaya yang setia setiap malam — suara-suara mulai berkumpul. Beberapa lelaki duduk melingkar di atas bangku kayu, sebagian jongkok di pinggir selokan berbekalkan sebatang pena dan secarik kertas. Mereka tidak sedang menggambar, bukan pula menulis puisi. Mereka sedang meramal angka.

Angka HK. Hongkong. Sebuah ritual malam yang berulang tanpa henti, dari pukul tujuh hingga sebelas, tanpa hari libur, bahkan saat hujan turun deras sekalipun. Rokok menyala satu per satu. Bungkus kertas disobek, lalu dilempar begitu saja ke tanah. Puntung demi puntung jatuh ke aspal yang sama yang setiap hari kita injak dan tinggali bersama. Tidak ada yang merasa bersalah. Tidak ada yang merasa perlu merasa bersalah. Dan mungkin itulah bagian yang paling mengusikku — bukan sampahnya saja, tapi ketidakpedulian yang begitu tenang, begitu nyaman, begitu menetap.

Satu puntung rokok terlihat sepele. Begitu kecil hingga mata hampir tidak mau melihatnya. Tapi ia tetap ada — bertahan di sela-sela aspal, di pinggir got, di bawah sandal yang lalu-lalang. Tidak ada yang mengangkatnya. Tidak ada yang merasa itu urusannya.

Bungkus rokok menambah lapisan masalah yang lain. Plastik tipis itu ringan, kecil, mudah diabaikan. Angin membawanya sedikit lebih jauh dari titik jatuhnya, dari ke selokan, ke celah pagar, ke tempat yang tidak pernah kita pikirkan. Ia bertahan jauh lebih lama dari harapan yang ditaruh pada angka-angka itu. Dari malam ini, ke malam berikutnya, ke musim hujan yang akan menyapunya ke saluran air yang lebih dalam. Inilah kebodohan yang cerdas: orang-orang yang cukup pintar untuk menghitung peluang angka, tapi memilih untuk tidak berpikir tentang apa yang mereka buang ke bumi yang sama yang menghidupi mereka.

Para penjudi angka itu menaruh harapan besar pada sesuatu yang tidak pasti, tidak nyata, tidak bisa digenggam. Mereka menebak, meramal, berdebat soal mimpi semalam yang dianggap petunjuk. Sementara bumi yang pasti ada, yang nyata, yang terasa dingin di bawah kaki mereka saat malam semakin larut — justru mereka abaikan tanpa rasa. Inilah kegembiraan yang menyedihkan: orang-orang tertawa ringan menunggu angka keluar, sementara tanah di bawah mereka diam-diam menelan racun dari setiap puntung yang jatuh. Tawa itu nyaring. Selokan itu diam. Dan keduanya berbagi ruang yang sama setiap malam. Manusia memang punya kecenderungan seperti itu, memilih yang terasa nyata malam ini dibanding yang berdampak bertahun-tahun kemudian. Kemenangan kecil malam ini terasa lebih menggairahkan daripada kebaikan besar yang hasilnya baru terasa setelah waktu yang panjang. Maka mereka memilih angka, dan tidak memilih untuk memungut sampah yang ada tepat di depan mata mereka sendiri.

Tidak semua malam berakhir dengan tenang. Ada malam-malam tertentu, biasanya ketika angka yang keluar meleset jauh dari tebakan, atau ketika seseorang kalah lebih banyak dari yang seharusnya — suasana berubah. Botol-botol mulai muncul. Bukan botol air minum.

Mereka minum untuk melupakan. Atau mungkin untuk merayakan. Kadang tidak jelas mana yang mana. Satu dua orang mulai berbicara dengan nada lebih tinggi, lebih tajam, lebih mudah tersulut. Yang tadinya diskusi soal angka berubah jadi perdebatan yang tidak jelas ujung pangkalnya. Sesekali ada suara bantingan. Sesekali ada tawa yang terlalu keras untuk jam semalam itu.

Dan ketika mereka akhirnya pulang dengan sempoyongan, berpegangan pada dinding atau pagar orang — yang tertinggal bukan hanya kenangan kalah menang. Yang tertinggal adalah botol-botol itu. Bergabung dengan puntung rokok dan bungkus kertas yang sudah lebih dahulu menduduki gang seperti penghuni tetap yang tidak pernah diusir. Inilah kebebasan yang membelenggu: bebas melakukan apa saja, bebas pergi tanpa tanggung jawab, tapi justru kebebasan itu yang membelenggu bumi dengan lapisan sampah yang terus bertambah setiap malamnya.

Pagi datang dengan senyap. Bersih udaranya, setidaknya untuk beberapa jam pertama. Tapi yang tertinggal dari malam sebelumnya tidak ikut pergi.

Puntung-puntung itu masih di sana. Bungkus rokok yang terinjak hingga hampir transparan masih menempel di jalanan basah. Botol-botol yang tergeletak di tepi got masih menunggu tangan yang mau mengangkatnya — tangan yang tidak pernah datang dari orang yang menaruhnya di sana. Sesekali ada tetangga yang menyapu depan rumahnya sendiri, mendorong semua itu sedikit lebih jauh dari batas propertinya. Maka sampah itu berpindah. Bukan hilang — hanya berpindah.

Kebersihan yang berpindah bukanlah kebersihan. Ia hanya masalah yang digeser.

Kampungku bukan zona industri besar. Ia adalah kampung biasa, ada warung kecil, ada anak-anak yang bermain sore hari, ada ibu-ibu yang menyapu halaman tiap pagi. Tapi malam mengubah sebagian dari kampung itu menjadi sesuatu yang lain. Gang belakang yang siang harinya ramai anak-anak, malam harinya menjadi arena taruhan dan asap rokok.

Kerusakan lingkungan tidak selalu lahir dari cerobong pabrik atau tambang besar. Ia juga lahir dari gang-gang kecil seperti ini. Dari tangan yang membuang tanpa pikir. Ini adalah kerusakan yang akrab, familiar, dan justru karena itulah ia sering luput dari perhatian siapa pun. Termasuk perhatianku sendiri, di malam-malam ketika aku hanya menutup jendela dan berpura-pura tidak mendengar.

Mudah sekali untuk menunjuk jari. Sangat mudah. Tapi persoalan ini lebih dalam dari sekadar perilaku individu.

Pemerintah daerah punya regulasi soal kebersihan lingkungan. Larangan membuang sampah sembarangan bukan aturan baru, ia sudah tertulis, sudah diumumkan, sudah dipasang dalam bentuk spanduk yang warnanya sudah pudar. Tapi regulasi tanpa pengawasan nyata hanyalah teks di atas bahan yang akhirnya ikut menjadi sampah juga. Di sisi lain, tidak ada tempat sampah yang cukup di gang-gang kecil seperti itu. Tidak ada program yang menyentuh ruang sosial malam seperti kerumunan penjudi angka. Kita berbicara soal tanggung jawab individual, tapi kita lupa menyiapkan kondisi yang memungkinkan tanggung jawab itu tumbuh. Itu juga sebuah kegagalan nyata, tapi tidak pernah benar-benar diakui oleh siapa pun yang punya kewenangan untuk mengubahnya.

Mereka masih menunggu angka HK keluar. Setiap malam. Dengan rokok yang sama, dengan harapan yang sama, dengan cara yang sama. Tapi taruhan yang sesungguhnya bukan ada di angka-angka itu. Taruhan yang sesungguhnya adalah apakah anak-anak yang tumbuh di gang-gang seperti ini — yang berlari di aspal yang sama, yang menghirup udara yang sama, yang suatu hari akan mewarisi kampung ini mendapatkan tanah yang masih bisa menghidupi mereka dengan layak.

Bumi sedang berjudi dengan kita juga. Dan ia tidak punya angka cadangan untuk dipilih.

Perubahan bukan tentang gerakan besar atau slogan di spanduk. Ia tentang momen-momen kecil yang kita pilih atau tidak kita pilih. Setiap puntung yang dipungut adalah satu pilihan. Setiap botol yang dibuang ke tempat yang benar adalah satu pilihan. Dan pilihan-pilihan kecil itu, bila dikumpulkan dari banyak tangan di banyak malam, jauh lebih kuat dari angka mana pun yang keluar malam ini. Malam ini, gang itu masih ramai. Bohlam kuning itu masih menyala. Asap masih mengepul. Dan bumi masih diam — diam yang lebih keras dari semua suara yang ada di sana.

***

Penulis: Zakizain Purnama Kadhafi, mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Gadjah Mada. 

Penyunting: Widya Bunga Aprilia



Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama