![]() |
| Suasana di kawasan Puncak Gunung Lawu. Foto: Dokumentasi Pribadi Penulis |
Pada awal bulan April 2026, Pendakian Gunung Lawu secara resmi mulai menerapkan sistem e-Ticketing (Electronic Ticketing) atau e-simaksi. Kebijakan ini berlaku untuk jalur pendakian Candi Cetho dan Cemoro Kandang yang berada di Kabupaten Karanganyar. Sistem Ini dapat diakses melalui aplikasi maupun portal resmi yang dikelola oleh Badan Pemerintah Kabupaten Karanganyar dan Perhutani.
Gunung
Lawu dikenal sebagai salah satu tujuan yang cukup diminati oleh para pendaki di
Indonesia, terutama di Pulau Jawa. Gunung Lawu Letaknya berada di perbatasan
Jawa Tengah dan Jawa Timur menjadikan gunung ini kerap ramai dikunjungi oleh
para pendaki dari berbagai daerah. Dengan ketinggian sekitar 3.265 meter di
atas permukaan laut, Gunung Lawu menawarkan tantangan yang cukup seimbang
sehingga cocok bagi pendaki pemula maupun yang sudah berpengalaman
Dari segi jalur pendakian, Gunung Lawu memiliki beberapa rute yang umum digunakan, di antaranya Cemoro Kandang dan Candi Cetho. Jalur Cemoro Kandang berada tak jauh dari perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur cenderung memiliki jalur yang cukup panjang dengan variasi pemandangan beragam. Di sebelah barat terdapat jalur Candi Cetho yang memberikan pengalaman pendakian lebih tenang serta nuansa budaya khas karena terdapat beberapa situs budaya di sekitarnya.
Kedua jalur tersebut merupakan jalur yang cukup populer dan sering kali membeludak seperti pada saat musim liburan, akhir pekan maupun Golden Week. Tidak jarang kita mendapati tempat registrasi pendakian dipenuhi oleh pendaki yang ingin melakukan pendaftaran SIMAKSI (Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi) bahkan sejak dini hari. Akibat lonjakan pengunjung ini, banyak dampak yang bermunculan. Mulai dari pengurus yang cukup kewalahan, meningkatnya risiko kecelakaan dan trek padat yang dapat menyebabkan sulitnya proses saat evakuasi.
Untuk
mengatasi lonjakan ini, Pemerintah Kabupaten Karanganyar bersama Perhutani menginisiasi
sistem e-ticketing atau e-simaksi pada jalur Candi Cetho dan Cemoro
Kandang untuk mempermudah proses registrasi dan ketertiban pendakian. Sistem
ini mampu menyelesaikan beberapa masalah yang terjadi pada sistem pencatatan
manual yang kurang akurat. Contohnya seperti, dapat mengontrol jumlah pendaki
yang berkunjung tiap harinya dan dapat mengelola data pendaki seperti nama, alamat, dan nomor telepon dengan
terstruktur. Hal ini sangat penting karna dapat memudahkan pelacakan data saat
proses evakuasi
Inovasi sistem ini sedang berkembang pesat dalam bidang pariwisata dan mulai banyak digunakan oleh banyak obyek wisata termasuk gunung-gunung di Indonesia. Sistem pemesanan, pembayaran dan pengelolaan tiket berbasis digital ini mampu meningkatkan layanan, efisiensi operasional serta keakuratan data.
Sistem
ini dapat merekam data pengunjung seperti jumlah pendaki, waktu kunjungan dan arus
kunjungan secara digital dan akurat yang kemudian menghasilkan Big Data.
Kemudian dari data-data tersebut dapat dianalisis mengunakan ilmu sains data
seperti data mining ataupun machine learning untuk menemukan pola
kunjungan, memprediksi terjadinya lonjakan pendaki dan optimalisasi pengambilan
keputusan
Selain
metode machine learning, teknik pengelompokan data seperti clustering
juga dapat diterapkan. Metode ini berfungsi untuk mengelompokkan data pendaki
berdasarkan karakteristik tertentu tanpa memerlukan label sebelumnya. Dengan
adanya pengelompokan ini, pengelola dapat memahami pola dan tipe pendaki secara
lebih mendalam sehingga strategi pelayanan dan pengelolaan kawasan dapat
disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing kelompok
Selain itu dari sisi pendaki, sistem ini juga dapat menjamin keamanan data dan keselamatan pendaki, memudahkan proses registrasi tanpa perlu mengantri panjang dan tanpa adanya pungutan liar oleh oknum tak bertanggung jawab. Pendaki juga tidak akan merasakan ‘macet di trek’ yang sering dikeluhkan sebelumnya karna jumlah pendaki tiap harinya dapat dikontrol.
Namun sistem ini tidak terlepas dari berbagai kendala, di antaranya keterbatasan jaringan internet di wilayah pegunungan, kesiapan infrastruktur teknologi, serta rendahnya tingkat literasi digital sebagian pengguna. Oleh sebab itu, diperlukan penyediaan infrastruktur yang memadai disertai upaya edukasi kepada pengguna agar penerapan sistem e-ticketing dapat berlangsung secara optimal.
Secara umum, penerapan e-ticketing di Gunung Lawu membawa perubahan yang cukup baik dalam sistem pengelolaan pendakian. Sistem ini membuat proses administrasi menjadi lebih praktis dan membantu pendataan pendaki agar lebih terstruktur. Selain itu, data yang tersimpan secara digital memberikan informasi yang lebih jelas mengenai jumlah serta pola kunjungan pendaki.
Data tersebut dapat digunakan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan, seperti pengaturan kuota pendakian untuk menghindari kepadatan. Pengelolaan yang teratur juga mendukung aspek keselamatan serta menjaga kelestarian lingkungan. Namun, agar sistem ini dapat berjalan secara optimal, tetap dibutuhkan dukungan dan kesiapan pengguna dalam memanfaatkannya.
Penulis: Elvina Alya Muzhaffar, Mahasiswi Program Studi Sains Data Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta
Editor: Melinda Sintawati
Daftar Pustaka:
Faisal, Prayudhi, & Fuji Pratiwi. (2025).
Smart Tourism : Digitalisasi Sistem E-Ticketing untuk Meningkatkan Pengalaman
Wisata di Desa Waetuwo. Jurnal Pengabdian Masyarakat Dan Riset Pendidikan,
4(1), 7052–7060. https://doi.org/10.31004/jerkin.v4i1.2780
Fatkhudin, A., Khambali, A., Artanto, F. A.,
Putra Zade, N. A., & Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan, U. (2023).
Implementasi Algoritma Clustering K-Means Dalam Pengelompokan Mahasiswa Studi
Kasus (Prodi Manajemen Informatika). Jurnal Minfo Polgan, 12(2).
https://doi.org/10.33395/jmp.v12i2.12494
Jaylani, A. I., Marsalina, N., Harmin, A., &
Profesional Makassar, S. (2025). Penggunaan Data Mining untuk Menganalisis Pola
Pengunjung di Dinas Perpustakaan Umum Kota Makassar. Journal of Data
Analytics, Information, and Computer Science (JDAICS, 2(3).
