| Photo by Conny Schneider on Unsplash |
Media sosial memberi ruang bagi siapa saja untuk
berbicara. Dalam hitungan detik, seseorang dapat mengomentari isu politik,
pendidikan, hiburan, hingga kehidupan pribadi orang lain. Kemudahan ini sering
dipandang sebagai bentuk demokratisasi informasi. Namun, di balik itu,
muncul pertanyaan yang jarang dibahas, yaitu ketika semua
orang ingin menyampaikan pendapat, apakah masih ada yang benar-benar mau
mendengarkan?
Fenomena ini terlihat hampir setiap hari. Setiap
kali muncul peristiwa viral, kolom komentar segera dipenuhi berbagai respons.
Sebagian memberikan dukungan, sebagian lain mengkritik, bahkan tidak sedikit
yang langsung menghakimi tanpa mengetahui informasi secara utuh. Kecepatan
menjadi lebih penting daripada pemahaman.
Budaya digital saat ini mendorong pengguna untuk
terus bereaksi. Algoritma media sosial cenderung memberi ruang lebih besar pada
konten yang memancing emosi, kontroversi, atau perdebatan. Akibatnya, banyak
orang terbiasa memberikan respons instan sebelum sempat memahami konteks
persoalan secara menyeluruh.
Kondisi tersebut bukan sekadar persoalan etika
bermedia sosial. Dalam jangka panjang, kebiasaan bereaksi cepat dapat
memengaruhi cara masyarakat berkomunikasi. Percakapan berubah menjadi ajang
saling menyampaikan pendapat, bukan ruang untuk saling memahami. Orang lebih
sibuk menyiapkan jawaban daripada mendengarkan.
Dampaknya terlihat jelas pada generasi muda.
Banyak pelajar dan mahasiswa hidup dalam lingkungan yang dipenuhi arus
informasi tanpa henti. Mereka terbiasa menerima ratusan konten setiap hari,
tetapi belum tentu memiliki kesempatan yang cukup untuk melatih kemampuan
mendengarkan secara mendalam. Padahal kemampuan tersebut merupakan fondasi
penting dalam membangun empati dan hubungan sosial yang sehat.
Kemampuan mendengarkan sering dianggap
keterampilan sederhana, padahal justru semakin langka di era digital. Mendengarkan
berarti memberi perhatian penuh kepada orang lain, memahami sudut pandangnya,
dan menahan keinginan untuk segera menghakimi. Dalam masyarakat yang serba
cepat, proses ini membutuhkan kesadaran yang tidak sedikit.
Fenomena ini juga terlihat dalam berbagai kasus
perundungan digital. Tidak jarang seseorang menjadi sasaran hujatan massal
hanya berdasarkan potongan video atau cuplikan informasi yang belum tentu
menggambarkan keseluruhan situasi. Sebelum fakta lengkap terungkap, penilaian
publik sudah lebih dulu terbentuk.
Karena itu, tantangan masyarakat digital saat ini
bukan hanya kemampuan mengakses informasi, tetapi juga kemampuan mengolahnya
secara bijak. Literasi digital tidak cukup dipahami sebagai kemampuan
menggunakan teknologi. Literasi digital juga mencakup kemampuan memverifikasi
informasi, memahami konteks, dan menghargai perspektif yang berbeda.
Di tengah derasnya arus komentar dan opini,
kemampuan mendengarkan justru menjadi keterampilan yang semakin penting.
Masyarakat yang sehat tidak dibangun oleh orang-orang yang paling sering
berbicara, melainkan oleh mereka yang mampu memahami sebelum menilai dan
mendengarkan sebelum bereaksi.
Barangkali masalah terbesar di era digital bukan
karena terlalu banyak suara yang muncul. Masalahnya adalah semakin sedikit
orang yang benar-benar mendengarkan.
***
Penulis: Ila Hijasabila,
Mahasiswi Program Studi Pendidikan Guru
Madrasah Ibtidaiyah Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Penyunting: Widya Bunga Aprilia