![]() |
| Wanita Berbaring Di Samping Telepon. Foto oleh Andre Moura on Pexels |
“Beda
sedikit, langsung ribut.” Kalimat ini rasanya pas sekali untuk menggambarkan
isi media sosial kita belakangan ini. Perbedaan pendapat yang harusnya bisa
menjadi ruang diskusi yang seru, malah sering kali berubah menjadi ajang debat
panas dan saling serang. Mulai dari hal sepele yang sedang viral sampai isu
yang serius, semuanya bisa memicu konflik seolah-olah perbedaan adalah sebuah
kesalahan besar.
Padahal
kalau melihat laporan dari We Are Social tahun 2024, pengguna media
sosial di Indonesia itu sangat ramai, mencapai ratusan juta orang. Sayangnya,
ruang digital yang harusnya kita pakai untuk seru-seruan dan berbagi sudut
pandang baru, justru sering menjadi tempat adu mekanik demi membuktikan siapa
yang paling benar.
Sebenarnya,
kenapa sih kita susah banget untuk tetap tenang kalau melihat perbedaan? Mari
kita bedah beberapa alasan dibaliknya.
Terjebak
dalam Ruang Penilaian Personal (Kasus Outfit & Parenting)
Coba
perhatikan linimasa kamu hari ini, pasti ada saja hal viral yang diributkan
netizen. Contoh paling gampang adalah perdebatan tentang outfit
seseorang yang dianggap “terlalu terbuka” atau justru “terlalu tertutup”.
Pilihan yang harusnya menjadi urusan personal, malah dijadikan bahan tontonan
publik untuk dihakimi bersama. Jujur, fenomena ini kadang bikin kita sendiri
jadi ikutan krisis percaya diri dan takut untuk mengekspresikan diri secara
bebas.
Nggak
cuma outfit, lapak komentar soal cara asuk anak (parenting) juga
sering berubah jadi ring tinju. Begitu ada potongan video singkat yang viral
tentang cara mengasuh anak yang dianggap tidak biasa, netizen langsung auto
jadi hakim digital tanpa tahu situasi aslinya. Padahal, setiap orang tua pasti
punya pendekatan dan latar belakang yang berbeda-beda dalam mendidik anak.
Suka
Menjadikan Fisik dan Budaya Sebagai Bahan Bercandaan
Kebiasaan
body shaming di kolom komentar juga masih sering sekali terjadi.
Komentar miring soal bentuk tubuh, warna kulit, atau penampilan fisik seseorang
sering kali cuma dianggap sebagai candaan biasa. Padahal, jari netizen yang
asal ketik ini bisa banget melukai perasaan dan merusak mental orang lain.
Hal
yang sama juga sering terjadi pada keragaman budaya kita. Stereotip daerah,
logat bicara yang unik, atau kebiasaan adat tertentu sering kali di-roasting
secara berlebihan biar kelihatan lucu demi kebutuhan konten. Bukannya
membuat ketawa, hal ini malah memperkuat budaya saling menjatuhkan dan memicu
konflik yang lebih besar.
Efek
Kesenjangan Ekonomi di Balik Konten Gaya Hidup
Sadar
atau tidak, perbedaan latar belakang ekonomi juga berpengaruh besar pada cara
kita menyikapi perbedaan di media sosial. Di era digital ini, perbandingan
hidup sering banget di picu oleh konten gaya hidup mewah (flexing) yang
berseliweran di beranda kita. Dampaknya, ada kelompok yang merasa lebih unggul
karena status sosialnya, dan ada juga yang merespons dengan sinis karena merasa
tertinggal.
Data
dari Badan Pusat Statistik (BPS) sendiri menunjukkan kalau kesenjangan ekonomi
memang masih jadi realita yang nyata di Indonesia. Kesenjangan ini kahirya
berimbas pada ketidakmerataan akses Pendidikan. Nah, ketika orang-orang dengan
latar belakang tingkat Pendidikan dan cara berpikir yang berbeda ini
dipertemukan dalam satu ruang diskusi tanpa sikap terbuka, yang terjadi
bukannya tukar pikiran yang sehat, tapi malah debat kusir yang nggak ada
ujungnya.
Budaya
Serba Cepat, FOMO, dan Minimnya Literasi Digital
Kita
sekarang hidup di era yang serba instan. Begitu melihat sesuatu yang nggak sreg
di beranda, refleks pertama kita adalah langsung ketik komentar dan merespons
tanpa berpikir Panjang. Apalagi kalau topiknya lagi viral dan lagi
panas-panasnya, bawaannya ingin langsug ikutan war komentar biar tidak
kelihatan ketinggalan zaman alias FOMO (Fear of Missing Out).
Kondisi
psikologis netizen yang gampang kesulut ini dipertegaskan oleh kajian dari
Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), yang menyatakan bahwa
literasi digital masyarakat kita memang masih perlu banget ditingkatkan. Karena
jari bergerak lebih cepat daripada pikiran, akhirnya “beda sedikit” saja sudah
cukup bikin jagat maya ricuh berhari-hari.
Kita
Belum Terbiasa Mengahadapi Perbedaan
Alasan
yang paling mendasar adalah kita terlalu nyaman berada di lingkungan atau bubble
yang pemikirannya searah dengan kita. Begitu ada orang yang punya pandangan
berbeda, kita belum siap untuk memahami latar belakang mereka dan cenderung
langsung menghakimi.
Padahal
setiap individu itu unik dan dibentuk oleh latar belakang, pola asuh, serta
pengalaman hidup yang berbeda-beda. Apa yang menurut kita benar, belum tentu
sama di mata orang lain. Seorang filsuf politik terkenal, Will Kymlicka, pernah
menyampaikan kalau masyarakat yang beragama itu hanya bisa tetap bersatu kalau
ada kesadaran untuk saling menghargai. Jadi, masalah utamanya itu bukan pada
perbedaannya, melainkan pada bagaimana cara kita menyikapi perbedaan tersebut.
Nggak
semua perbedaan pendapat di media sosial harus berujung jadi keributan atau
aksi saling boikot (cancel culture). Ada kalanya kita cukup menahan diri
dan menerima kalau orang lain punya jalan pikiran yang berbeda dengan kita.
Lagi pula, dunia ini akan membosankan banget kalau isi kepala kita seragam
semua, kan?
Dibanding
terus-menerus menuntut lingkungan medsos yang berubah sesuai kemauan kita,
mending kita perbaiki dulu cara kita memandang perbedaan tersebut. Yuk, mulai
sekarang kita kurangi porsi menghakimi dan perbanyak porsi mendengar!
***
Penulis:
Naurah Syadiyah, Mahasiswi Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Universitas
Islam negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
Penyunting:
Melinda Sintawati
.jpg)