| Environmental set save the earth Illustration by Free To Dive on Unsplash |
Seiring berkembangnya zaman, manusia
semakin sadar dengan pencemaran lingkungan. Manusia sebagai makhluk hidup yang
paling berakal, mulai memiliki kesadaran untuk menjaga serta melestarikan alam
dan membuat berbagai inovasi. Berbagai macam inovasi sudah diciptakan oleh
manusia untuk mengurangi pencemaran lingkungan, seperti halnya plastik.
Kita semua menyadari bahwa hampir
semua produk atau kemasan sering menggunakan plastik untuk bahan baku. Karena
plastik ringan, murah, dan pastinya tahan air. Daya tahan plastik terhadap air
inilah yang menimbulkan masalah bagi bumi dan umat manusia. Plastik tidak mudah
mengurai, bahkan butuh waktu puluhan sampai ratusan tahun agar bisa mengurai.
Hal inilah yang membuat manusia menciptakan tumbler dan tas belanja.
Kita sering melihat di warung,
restoran, sampai coffee shop pun menggunakan plastik untuk wadah botol
air mineral atau pesanan es teh dan es jeruk. Okelah kita katakan wajar kemasan
air mineral itu sekali pakai karena memang untuk diperjualbelikan. Namun,
ketika restoran atau coffee shop memilih menggunakan gelas plastik
sekali pakai untuk pesanan dine in atau makan di tempat rasanya aneh.
Karena mereka bisa menggunakan gelas kaca atau gelas plastik yang bisa dicuci
dan dipakai kembali.
Beralih ke kantong plastik. Beberapa
minimarket sudah menambahkan tarif untuk kantong plastik. Bahkan di Provinsi
DKI Jakarta sudah memiliki kebijakan untuk mengatur hal tersebut. Hal ini
diperuntukkan agar masyarakat mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan
lebih sadar terhadap lingkungan. Bagaimana dengan warung? Dari pengalaman saya
berbelanja di warung daerah Jogja, mereka masih menggunakan kantong plastik
sekali pakai. Mungkin kebanyakan warung juga seperti itu. Agar tidak kehilangan
konsumen, mereka tidak menambahkan tarif untuk kantong plastik.
Gelas plastik sekali pakai dan
kantong plastik menjadi limbah plastik paling banyak dihasilkan. Bayangkan, sampah yang dihasilkan oleh
restoran dan coffee shop yang menggunakan gelas sekali pakai, jangan lupakan warung yang masih menggunakan
kantong plastik sekali pakai dan menyediakan minuman kemasan. Bukankah itu
semua akan menimbulkan gunung dari limbah plastik atau bahkan mencemari
perairan kita? Solusi paling efisien untuk mengurangi pencemaran lingkungan
adalah menggunakan tumbler dan kantong belanja.
Tumbler mudah kita temukan di toko
serba ada seperti MR D.I.Y sampai e-commerce. Harga tumbler pun
terjangkau, tetapi banyak juga yang memasang harga lumayan mahal karena sesuai
keunggulan produk yang ditawarkan. Seiring berkembangnya zaman, banyak desain
tumbler sesuai kebutuhan konsumen. Ada yang sekedar untuk menampung air minum
saja, tahan panas atau es, sampai tahan banting. Semua dilakukan karena
persaingan produk tumbler. Bahkan ada yang menawarkan desain gemas sampai melakukan
kolaborasi dengan perusahaan untuk menarik target pasar. Hal ini menimbulkan
fenomena satu orang bisa memiliki lebih dari dua tumbler.
Katakanlah satu orang minimal
memiliki dua tumbler. Tumbler pertama berfungsi untuk air putih dan tumbler
kedua berfungsi menahan suhu minuman agar tetap panas atau dingin. Menurut
saya, hal ini masih dalam batas wajar. Ketika seseorang memiliki lebih dari dua
tumbler, rasanya janggal. Karena fungsi utama tumbler adalah wadah air putih
supaya kita tidak perlu membeli air mineral kemasan. Hal ini berhubungan dengan
salah satu alasan tumbler diciptakan, yaitu untuk mengurangi limbah plastik.
Jika seseorang bisa memiliki lebih dari dua atau bahkan sampai sepuluh tumbler
itu perlu dipertanyakan. Karena ya buat apa?
Bukankah bahan utama pembuatan
tumbler juga plastik? Bagian luar biasanya menggunakan plastik bebas BPA dan
bagian dalam baru stainless steel untuk menjaga suhu minuman. Jika
seperti ini kita hanya menimbulkan tumpukan plastik, tetapi dalam bentuk
botol-botol yang entah akan kita gunakan semua atau tidak. Rasanya juga seperti
‘mengkhianati’ alasan diciptakan tumbler. Memang mengurangi gelas plastik
sekali pakai, tetapi kita juga jadi menumpuk baotol-botol plastik di dalam rak.
Biasanya yang memiliki tumbler lebih dari dua mudah termakan iklan tumbler,
memneli lagi dengan alasan “belum memiliki yang seperti ini”, sampai ada yang
membeli tumbler hanya karena dasain yang gemas bukan karena fungsi utamanya.
Begitu pula dengan tas belanja. Saya
memiliki dua tumpuk berisikan tas belanja di lemari. Selain dari memesan
makanan lewat online, asal tas belanja pada tumpukan itu dari tas yang
sebelumnya digunakan untuk wadah sebuah hadiah, membeli di minimarket karena
lupa membawa tas belanja, pemberian beberapa toko karena sudah berbelanja di
sana, dan sebagainya. Saya rasa pengalaman orang lain tidak jauh berbeda dengan
saya. Tas belanja yang menumpuk itu hanya beberapa saja yang dipakai, sisanya
menumpuk di lemari. Menunggu untuk digunakan, entah kapan.
Nah, tumbler dan tas belanja ini
memiliki fenomena yang sama. Keduanya diciptakan untuk mengurangi limbah
plastik. Namun, disisi lain kebanyakan orang memiliki dua barang tersebut tidak
dalam batas batas wajar. Memang banyak faktor yang memengaruhi tindakan
seseorang ketika membeli suatu barang. Tetapi, sebagai manusia bijak kita harus
mengontrol keinginan sesaat dan lebih mementingkan kebutuhan.
Ketika melihat tren penggunaan
tumbler untuk menjaga lingkungan, itu sudah cukup bagus menurut saya. Namun,
banyaknya desain tumbler yang ditawarkan dan perusahaan tumbler yang saling
berkompetisi untuk menciptakan tumbler terbaik. Membuat konsumen berlomba-lomba
membeli tumbler sekedar supaya tidak ketinggalan tren atau beralasan dengan
“belum punya desain seperti ini”. Padahal kan fungsi utamanya sama saja. Hanya
desain yang membedakan.
Kita perlu mengingat kembali apa
tujuan utama terciptanya tumbler dan tas belanja. Selain itu, peran generasi
saat ini dan mendatang sangat memengaruhi bagaimana kondisi lingkungan dan alam
kita di masa depan. Sebagai generasi yang memiliki akses untuk melihat situasi
dan kondisi alam melalui layar sentuh. Kita seharusnya lebih peduli terhadap
lingkungan dan meng-influence orang-orang di sekitar kita soal
lingkungan. Rasanya percuma jika kita hanya sudah tahu fungsi tumbler dan tas
belanja, tetapi di sisi lain kita memiliki banyak tumpukan barang itu dan tidak
tahu akan dipakai kapan.
Jika sudah terlanjur memiliki banyak
tumbler maupun tas belanja, saya harap kita semua mampu mengontrol rasa keinginan
ketika melihat tumbler yang diperjualbelikan dan tidak lupa lagi membawa tas
belanja. Karena balik lagi, semua hal itu dilakukan untuk menjaga lingkungan,
alam, serta ekosistem di bumi. Memiliki banyak tumbler dan tas belanja hanya
menguntungkan penjual dan rasa senang kita sesaat ketika sudah mendapatkannya.
Selanjutnya? Barang tersebut hanya menjadi tumpukan di rak maupun lemari.
Menunggu untuk dipakai, mempertanyakan fungsinya, dan berakhir menjadi barang
koleksi layaknya lukisan. Mungkin di masa depan, akan ada pameran koleksi
tumbler atau tas belanja dari berbagai tokoh penting di dunia. Who knows?
***
Penulis: Ummi Hanifah, Mahasiswi Program
Studi Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Gadjah Mada
Penyunting: Melinda Sintawati