![]() |
| Illustration by Art Attack on Unsplash |
Saya masih ingat, saat masih berseragam putih biru, saya sering tenggelam dalam tulisan-tulisan di novel romansa yang penuh adegan seru, lucu, dan bikin salting. Duduk di kamar sendirian sambil tersenyum-senyum geli menahan gemas setiap kali membalik halaman demi halaman yang menggambarkan cinta sebagai sesuatu yang baik, hangat, dan menjanjikan ruang aman serta akhir yang bahagia. Bagi saya saat itu, cerita-cerita tersebut membuat saya percaya bahwa cinta adalah sesuatu yang indah. Lagu dan film yang merayakan cinta pun semakin memperkuat keyakinan itu, sampai seolah-olah cinta merupakan salah satu bagian penting dalam hidup, yang jika hilang dapat membuat seseorang merasa tidak utuh.
Namun, bagaimana jika semua gambaran dan keyakinan itu ternyata tidak benar?
Pertanyaan itu menghantui pikiran saya ketika beranjak dewasa dan mulai melihat kenyataan yang sangat berbeda dari kisah-kisah romantis yang dulu saya baca. Tidak jarang saya menemukan cerita tentang hubungan yang awalnya tampak “sempurna” dan penuh kasih sayang, tetapi secara bertahap berubah menjadi jebakan yang menyesakkan—dimulai dengan isolasi yang perlahan-lahan memutus korban dari dunia luar, berlanjut ke pengawasan obsesif yang merampas sisa-sisa privasi, hingga puncaknya berupa penyiksaan fisik dan psikologis yang menghancurkan kewarasan—semuanya dibungkus rapi dengan kata “sayang”. Membaca cerita-cerita tersebut membuat saya merinding, sungguh mengerikan membayangkan seseorang yang awalnya kita percayai karena membuat kita merasa aman, secara perlahan berubah menjadi sosok yang tega merampas sisi kemanusiaan kita.
Mengingat situasi tersebut, saya merasa penasaran dan bertanya-tanya: apakah yang kita sebut sebagai cinta bisa menjadi wadah bagi kekejaman itu sendiri? Dan jika iya, apa yang selama ini kita salah pahami tentang cinta?
Menurut saya, jawabannya ada pada cara seseorang memahami konsep “kepemilikan”. Atas nama cinta, seseorang sering kali merasa berhak untuk memiliki pasangannya secara utuh. Batas antara "mencintai" dan "memiliki" sangatlah tipis, dan dalam hubungan yang tidak sehat batas itu sering kali disamarkan dengan sengaja.
Membahas tipisnya batas tersebut, filsuf Jean-Paul Sartre pernah menjelaskan dinamika ini. Ia mengatakan bahwa ketipisan batas itu bukan sekadar kegagalan kita dalam menjalin hubungan, melainkan sesuatu yang memang sudah melekat pada struktur dasar cinta itu sendiri. Saat kita mencintai seseorang, keinginan kita sebenarnya sangat rumit sekaligus egois: kita ingin mengatur kebebasan pasangan kita, tetapi pada saat yang sama, kita juga menuntut agar mereka tetap memilih kita secara sukarela. Ketegangan inilah yang membuat cinta selalu berada di batas antara memiliki dan dimiliki. Sadar atau tidak, keinginan untuk mengendalikan kebebasan orang lain sudah menjadi bagian dari apa yang kita namakan cinta.
Masalahnya bermula ketika keinginan untuk mengendalikan itu tidak lagi dipenuhi melalui cara-cara halus, seperti perhatian, pesona, atau janji-janji manis. Ketika kendali mulai lepas, Sartre menyebut ada jalan gelap yang sering diambil, yaitu sadisme. Ini adalah sebuah jalan pintas untuk mereduksi pasangan menjadi tidak lebih dari sekadar "objek". Kekerasan fisik kemudian menjadi cara paling "pasti" untuk menundukkan kebebasan seseorang yang tidak lagi dapat dikontrol melalui kata-kata.
Pola mengerikan itulah yang menjelaskan banyaknya kasus kekerasan ekstrem dalam hubungan. Hubungan yang awalnya tampak normal berubah menjadi ancaman, isolasi, hingga penyiksaan yang merenggut kemanusiaan korban. Fase ini bukan lagi sekadar cinta yang berubah bentuk, melainkan wujud nyata dari obsesi kepemilikan yang ekstrem. Untuk merebut kembali kekuasaan yang dirasa hilang, pelaku memilih metode yang paling mengerikan untuk memastikan bahwa pasangannya tidak lagi memiliki kendali.
Di titik krisis inilah, esensi penting dari consent atau persetujuan dalam hubungan sering kali hilang sepenuhnya. Kita sering kali lupa bahwa consent tidak hanya soal interaksi seksual, tetapi juga tentang bagaimana kita menghargai batasan pasangan. Dalam hubungan yang sehat, consent adalah ruang aman di mana kedua belah pihak memiliki hak dan otonomi penuh atas tubuh, pilihan, dan kehidupannya tanpa bayang-bayang rasa takut. Sayangnya, ketika hasrat telah berubah menjadi obsesi untuk mengontrol, kata "tidak" tidak lagi dianggap sebagai batasan yang harus dihormati, tetapi dianggap sebagai ancaman langsung terhadap ego pelaku. Akibatnya, pelaku mulai menggunakan taktik paksaan, seperti manipulasi, tekanan emosional, atau ancaman, untuk secara paksa merebut hak dari pasangan mereka. Korban sering kali akhirnya terpaksa mengalah karena merasa jauh lebih aman untuk menuruti keinginan pelaku daripada menolak. Ketika "persetujuan" lahir semata-mata dari rasa takut dan paksaan, di situlah sesungguhnya kekerasan telah berakar.
Namun, kita bisa keluar dari jebakan ego tersebut dengan konsep otonomi relasional. Kita bisa belajar untuk memandang pasangan bukan sebagai 'objek' yang harus dikendalikan, melainkan sebagai teman dialog dalam setiap pengambilan keputusan. Dari sudut pandang ini, kita tidak lagi menganggap kebebasan pasangan sebagai ancaman, melainkan sebagai ruang untuk saling mendukung. Hubungan bukan lagi soal siapa yang mendominasi, melainkan tentang bagaimana kedua pihak dapat berkembang secara bebas tanpa harus kehilangan jati diri.
Melihat kenyataan tersebut, mungkin kesalahan terbesar kita selama ini adalah terlalu naif. Kita terbiasa melihat cinta dan kontrol sebagai dua kutub yang berlawanan. Padahal, kenyataan pahitnya adalah keduanya sering kali berasal dari akar yang sama, yaitu keinginan egois untuk mengontrol jalan hidup orang lain. Pada akhirnya yang membedakan keduanya hanya metodenya, apakah ia dibungkus lewat romantisme yang lembut atau dipaksakan melalui kekejaman.
Sudah saatnya kita berhenti meromantisasi kontrol sebagai bentuk kasih sayang. Cinta sejati seharusnya membebaskan dan memperluas ruang hidup, bukan menjadi penjara pribadi yang secara bertahap merampas kemanusiaan kita. Sebab, sebuah hubungan yang sehat tidak akan pernah meminta kamu untuk menukar otonomi dengan rasa aman yang menipu.
***
Penulis: Anisah Triadinda Prima, Mahasiswi Program Studi Psikologi, Universitas Pendidikan Indonesia
Penyunting: Melinda Sintawati
Referensi:
Gómez-Vírseda, C., de Maeseneer, Y., & Gastmans, C. (2019). Relational autonomy: what does it mean and how is it used in end-of-life care? A systematic review of argument-based ethics literature. BMC Medical Ethics, 20(1), 76.
James-Hawkins, L., & Ryan-Flood, R. (Eds.). (2024). Consent: Gender, power and subjectivity. Routledge.
Siswadi, Gede Agus. (2023). Cinta dalam Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean-Paul Sartre. Sanjiwani: Jurnal Filsafat, 14(1), 1-12.

wow tulisannya keren banget! aku suka😍 semangat yaa buat penulis, anisah tp🤍
BalasHapus