Ketika Cita-Cita Tak Lagi Menghadirkan Cinta

Gambar: Soccrates Images

“Saya tidak lagi mencintai sepak bola seperti dulu.”

— Kevin De Bruyne

Sebuah Kalimat singkat, tetapi menyisakan banyak pertanyaan.

Bagaimana mungkin seorang atlet profesional yang telah memenangkan berbagai gelar, berkarier di level tertinggi, serta mewujudkan impian dari jutaan anak justru mengaku bahwa ia tidak lagi mencintai sepak bola seperti dulu?

Namun, semakin saya memikirkan kalimat itu, semakin saya merasa bahwa Kevin De Bruyne sebenarnya tidak hanya berbicara mengenai sepak bola. Ia juga berbicara mengenai sesuatu yang jauh lebih dekat dengan kehidupan manusia.

Barangkali kita pernah mengalaminya dalam bentuk yang berbeda. Mahasiswa yang dahulu begitu bersemangat memasuki jurusan impiannya, kini mulai kehilangan gairah belajar. Musisi yang dulu memainkan lagu karena kegembiraan kini lebih sering memikirkan tenggat dan tuntutan industri. Dokter, guru, penulis, bahkan atlet yang pernah begitu mencintai profesinya suatu hari bisa bertanya, "Mengapa saya tidak lagi menikmati hal yang dulu sangat saya impikan?"

Ironisnya, semua itu sering kali terjadi bukan karena mereka gagal.

Justru karena mereka berhasil.

Selama ini kita sering percaya bahwa tantangan terbesar adalah meraih cita-cita. Kita membayangkan bahwa jika suatu hari berhasil menjadi apa yang selama ini kita impikan, kebahagiaan dan semangat akan bertahan selamanya. Padahal, yang jarang kita sadari adalah bahwa setiap cita-cita yang berhasil diwujudkan perlahan akan berubah menjadi kehidupan sehari-hari. Yang dulu terasa istimewa menjadi rutinitas, yang dulu terasa menyenangkan, dan yang dulu selalu membuat kita berdebar, kini berubah menjadi tanggung jawab.

Di titik inilah saya teringat pada Albert Camus. Melalui The Myth of Sisyphus, ia menggambarkan manusia yang terus menjalani pengulangan sambil tetap mencari makna dalam hidupnya. Bagi Camus, persoalannya bukan bahwa hidup dipenuhi rutinitas, melainkan bagaimana manusia memaknai rutinitas tersebut.

Jika memakai lensa itu, pengalaman De Bruyne tidak lagi terdengar aneh. Kehidupan seorang atlet profesional memang dipenuhi pengulangan. Bangun pagi, berlatih, menjaga pola makan, menjalani pemulihan, bertanding, lalu mengulang semuanya lagi keesokan hari. Rutinitas yang dahulu terasa seperti permainan perlahan berubah menjadi pekerjaan.

Namun, bukankah hal yang sama juga terjadi pada kita?

Mahasiswa mengerjakan tugas demi tugas hingga lupa alasan mengapa dulu memilih jurusannya. Seorang dokter lebih sibuk menyelesaikan administrasi daripada mengingat alasan ia ingin menolong orang lain. Seorang penulis mengejar tenggat hingga lupa rasanya menulis tanpa tekanan. Bahkan seorang atlet yang sejak kecil tidak pernah ingin meninggalkan lapangan bisa suatu hari merasa datang ke latihan hanya karena memang harus datang.

Mungkin yang berubah bukan cita-citanya.

Yang berubah adalah hubungan kita dengan cita-cita itu.

Kita terlalu sering menganggap passion sebagai perasaan yang harus selalu menyala. Ketika semangat mulai memudar, kita buru-buru menganggap ada yang salah dengan diri kita atau dengan jalan yang kita pilih. Padahal, bisa jadi yang kita alami hanyalah bagian yang paling manusiawi dari perjalanan, yaitu ketika mimpi berhenti menjadi angan-angan dan mulai menjadi kenyataan yang harus dijalani setiap hari.

Karena itu, mungkin pertanyaan yang lebih penting bukanlah, "Mengapa saya tidak lagi mencintai cita-cita saya seperti dulu?" Melainkan, "Bagaimana saya tetap menemukan makna ketika perasaan itu telah berubah?"

Camus menutup kisah Sisyphus dengan sebuah kalimat yang terkenal: "One must imagine Sisyphus happy." Bukan karena bebannya menjadi lebih ringan, melainkan karena manusia masih memiliki kebebasan untuk memberi makna pada apa yang ia jalani.

Barangkali menjadi dewasa memang bukan tentang mempertahankan rasa jatuh cinta yang sama sepanjang hidup. Perasaan dapat berubah. Antusiasme dapat memudar. Bahkan passion pun tidak selalu hadir dengan intensitas yang sama.

Namun, perubahan itu tidak selalu berarti kita telah memilih jalan yang salah.

Mungkin masalahnya bukan karena kita kehilangan cinta terhadap cita-cita kita. Mungkin masalahnya adalah kita terlalu lama percaya bahwa rasa cinta itu seharusnya tidak pernah berubah.

Pada akhirnya, cita-cita bukanlah sesuatu yang selalu membuat kita berdebar seperti hari pertama. Ada saatnya ia berubah menjadi pekerjaan, tanggung jawab, bahkan rutinitas. Dan mungkin, justru di titik itulah makna sebenarnya diuji. Bukan ketika kita masih jatuh cinta pada apa yang kita lakukan, tetapi ketika rasa itu perlahan memudar, namun kita tetap memilih untuk melangkah.

Karena mungkin, menjadi dewasa bukan berarti terus jatuh cinta pada cita-cita yang sama. Mungkin menjadi dewasa adalah belajar mencintainya dengan cara yang berbeda.

***

Penulis: Sulaiman Umar Qush, Mahasiswa Program Studi Psikologi, Universitas Pendidikan Indonesia

Penyunting: Ayuk Wiji Safitri


Referensi

Camus, A. (1991). The Myth of Sisyphus and Other Essays (J. O’Brien, Trans.). New York: Vintage International. https://dhspriory.org/kenny/PhilTexts/Camus/Myth%20of%20Sisyphus-.pdf

D’Angelo, V. (2026, April 4). Kevin De Bruyne: intervista sul Napoli, il calcio italiano e il futuro. La Gazzetta dello Sport. https://www.gazzetta.it/Calcio/Serie-A/Napoli/04-04-2026/kevin-de-bruyne-intervista-napoli-lo-scudetto-la-sfida-con-il-milan-e-il-futuro.shtm 


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama