| Film Sore: Istri dari Masa Depan |
Martin Heidegger merupakan salah satu filsuf eksistensialisme paling berpengaruh pada abad ke-20. Berbeda dengan filsafat tradisional yang lebih banyak membahas hakikat manusia sebagai objek, Heidegger menempatkan manusia sebagai makhluk yang mengalami dan menjalani keberadaannya secara langsung. Menurut Heidegger, pertanyaan mendasar dalam filsafat bukanlah "apa itu manusia?", melainkan "bagaimana manusia berada di dunia?". Oleh karena itu, fokus utama filsafat Heidegger adalah persoalan Being (Ada) atau keberadaan.
Heidegger menyebut manusia sebagai Dasein, yaitu makhluk yang sadar akan keberadaannya dan mampu mempertanyakan makna hidupnya sendiri. Dasein bukan sekadar individu yang hidup secara biologis, melainkan makhluk yang selalu berada dalam hubungan dengan dunia, waktu, orang lain, serta berbagai kemungkinan yang membentuk kehidupannya. Dengan demikian, eksistensialisme manusia selalu bersifat dinamis karena manusia terus-menerus membangun dirinya melalui pilihan dan tindakan yang diambil.
Salah satu konsep penting dalam pemikiran Heidegger adalah Being-in-the-World (In-der-Welt-sein). Konsep ini menjelaskan bahwa manusia tidak pernah hidup secara terpisah dari dunia. Dunia bukan sekadar tempat tinggal, melainkan ruang tempat manusia membangun relasi, membuat keputusan, menghadapi persoalan, serta menemukan makna kehidupannya. Identitas seseorang selalu dibentuk oleh pengalaman hidup yang dialaminya bersama lingkungan sosial, budaya, dan relasi interpersonal.
Selain itu, Heidegger menjelaskan bahwa sebagian besar manusia hidup dalam kondisi inauthentic existence (ketidakotentikan). Dalam keadaan ini seseorang menjalani hidup berdasarkan kebiasaan masyarakat, mengikuti norma sosial tanpa refleksi kritis, dan membiarkan dirinya diarahkan oleh apa yang disebut Heidegger sebagai das Man (the They), yaitu cara hidup yang ditentukan oleh "orang kebanyakan". Kehidupan semacam ini membuat individu kehilangan jati dirinya karena keputusan-keputusan hidup tidak lagi berasal dari kesadaran pribadi, melainkan dari tekanan lingkungan.
Sebaliknya, manusia dapat mencapai authentic existence (keberadaan yang autentik) apabila berani menghadapi kenyataan hidup, menyadari keterbatasannya, serta mengambil tanggung jawab penuh atas setiap pilihan yang dibuat. Keautentikan bukan berarti hidup tanpa orang lain, tetapi hidup berdasarkan kesadaran diri sendiri, bukan semata-mata mengikuti ekspektasi sosial. Heidegger menegaskan bahwa manusia harus berani keluar dari kehidupan yang tidak autentik agar mampu menemukan dirinya secara utuh.
Konsep lain yang adalah Being-toward-Death (Sein-zum-Tode). Heidegger berpendapat bahwa kematian bukan hanya peristiwa biologis pada akhir kehidupan, tetapi merupakan kemungkinan yang selalu menyertai eksistensialisme manusia. Kesadaran akan kematian justru membuat manusia memahami bahwa waktu hidup sangat terbatas. Oleh karena itu, setiap keputusan memiliki konsekuensi yang nyata dan tidak dapat ditunda tanpa batas. Kesadaran terhadap keterbatasan waktu mendorong manusia untuk hidup lebih bermakna, bertanggung jawab, dan autentik.
Pemikiran Heidegger tersebut dapat dianalisis secara mendalam melalui film Sore: Istri dari Masa Depan. Film ini menceritakan Jonathan, seorang laki-laki yang menjalani hidup secara bebas, tidak menjaga kesehatan, kurang memikirkan masa depan, dan menganggap setiap hari akan terus tersedia tanpa batas. Kehidupan Jonathan mencerminkan kondisi Dasein yang belum menyadari makna keberadaannya secara utuh. Ia hidup mengikuti rutinitas dan keinginannya sendiri tanpa refleksi mendalam mengenai konsekuensi dari pilihan-pilihannya.
Kehadiran Sore sebagai sosok yang mengaku berasal dari masa depan menjadi titik balik eksistensialisme bagi Jonathan. Kehadiran tersebut bukan sekadar unsur fantasi dalam alur cerita, melainkan simbol yang mengguncang cara Jonathan memandang hidup. Sore menghadirkan kemungkinan masa depan yang selama ini tidak pernah dipikirkan Jonathan. Dengan demikian, Jonathan dipaksa untuk melihat hidupnya dari perspektif waktu yang lebih luas, yaitu bahwa tindakan pada masa kini akan menentukan masa depan dirinya maupun orang-orang yang dicintainya.
Dalam perspektif Heidegger, pengalaman Jonathan bersama Sore merupakan proses ketika Dasein keluar dari kehidupan yang tidak autentik menuju kehidupan yang lebih autentik. Sebelum bertemu Sore, Jonathan hidup mengikuti kenyamanan sesaat tanpa mempertanyakan makna dari setiap pilihannya. Namun, setelah mengetahui kemungkinan masa depan yang penuh penyesalan, ia mulai merefleksikan seluruh kebiasaan hidupnya. Kesadaran tersebut membuat Jonathan menyadari bahwa ia memiliki kebebasan untuk mengubah jalan hidupnya melalui pilihan-pilihan baru.
Konsep Being-in-the-World terlihat jelas melalui hubungan Jonathan dengan lingkungan dan orang-orang di sekitarnya. Keberadaan Jonathan tidak pernah berdiri sendiri karena setiap tindakannya selalu memengaruhi kehidupan orang lain, khususnya Sore. Film ini menunjukkan bahwa manusia selalu hidup dalam jaringan relasi yang saling memengaruhi. Oleh sebab itu, makna keberadaan seseorang tidak dapat dipahami hanya dari dirinya sendiri, tetapi juga melalui hubungan dengan dunia sosial yang melingkupinya.
Selanjutnya, konsep Being-toward-Death menjadi salah satu tema yang paling kuat dalam film ini. Walaupun film tidak selalu menampilkan kematian secara eksplisit, keseluruhan cerita dibangun di atas kesadaran bahwa kehidupan memiliki batas dan masa depan dapat berubah akibat keputusan-keputusan yang diambil pada masa kini. Jonathan akhirnya memahami bahwa waktu bukanlah sesuatu yang dapat diulang tanpa konsekuensi. Kesadaran akan keterbatasan waktu tersebut mendorongnya untuk hidup secara lebih bertanggung jawab, menjaga kesehatannya, memperbaiki hubungannya dengan orang lain, dan menghargai setiap kesempatan yang dimiliki.
Film ini juga memperlihatkan bahwa proses menjadi autentik tidak pernah berlangsung secara instan. Jonathan mengalami konflik batin, penolakan, kebingungan, hingga akhirnya menerima kenyataan bahwa perubahan hanya dapat terjadi apabila ia sendiri memilih untuk berubah. Hal tersebut sejalan dengan pandangan Heidegger bahwa manusia tidak dapat menemukan makna hidup melalui orang lain. Orang lain hanya dapat membuka kemungkinan-kemungkinan baru, sedangkan keputusan akhir tetap menjadi tanggung jawab individu.
Melalui perspektif filsafat eksistensialisme Martin Heidegger, Sore: Istri dari Masa Depan dapat dipahami sebagai refleksi mengenai proses manusia menemukan makna keberadaannya. Film ini menunjukkan bahwa eksistensialisme manusia bukan ditentukan oleh nasib, melainkan dibangun melalui pilihan yang diambil secara sadar. Kehadiran Sore menjadi medium yang memperlihatkan berbagai kemungkinan masa depan sehingga Jonathan mampu keluar dari kehidupan yang tidak autentik menuju kehidupan yang lebih bermakna.
Dengan demikian, film Sore: Istri dari Masa Depan merepresentasikan berbagai konsep utama Heidegger, seperti Dasein, Being-in-the-World, authentic existence, serta Being-toward-Death. Film ini menegaskan bahwa manusia tidak hanya hidup untuk menjalani rutinitas, tetapi untuk secara sadar membentuk dirinya melalui pilihan yang bertanggung jawab. Kesadaran akan waktu, keterbatasan hidup, serta keberanian menghadapi kemungkinan masa depan menjadi fondasi utama dalam mencapai eksistensialisme yang autentik sebagaimana dipahami dalam filsafat Martin Heidegger.
***
Penulis: Friellyana Ayu Ramadhina Gumilar, Mahasiswi Program Studi Psikologi, Universitas Pendidikan Indonesia
Penyunting: Widya Bunga Aprilia