![]() |
| Photo by Mufid Majnun on Unsplash |
Di balik berita rupiah anjlok yang muncul di layar ponsel, yang turun bukan hanya angka di pasar uang, tetapi juga rasa aman banyak orang. Secara ekonomi, pelemahan rupiah berkaitan dengan faktor makro seperti suku bunga global, arus modal, harga komoditas, dan defisit transaksi berjalan. Namun ketika fenomena ini memasuki ranah persepsi publik, ia berubah menjadi narasi yang memengaruhi harapan dan tindakan masyarakat. Robert Shiller menyebut bagaimana narrative economics atau cerita kolektif tentang ekonomi membentuk perilaku pasar, dan teori self-fulfilling currency crisis dari Obstfeld menunjukkan bahwa ekspektasi negatif saja dapat mempercepat krisis yang sebelumnya belum memburuk secara fundamental. Dengan begitu, penting untuk melihat tidak hanya data ekonomi, tetapi juga bagaimana orang memaknai kejadian ini.
Makna itulah yang membawa kita dari soal teknis ke ranah kecemasan eksistensial. Dalam tradisi filsafat eksistensial, kecemasan bukan sekadar gejala gangguan mental, melainkan respons manusia terhadap ketidakpastian hidup. Sartre menautkan kecemasan dengan beban kebebasan dan tanggung jawab, sementara Heidegger melihatnya sebagai reaksi terhadap ketiadaan makna yang mendasar. Ketika rupiah melemah dan harga-harga naik, bukan hanya dompet yang terasa ringan, melainkan fondasi makna stabilitas hidup yang selama ini dianggap pasti menjadi goyah. Oleh karena itu, kecemasan yang muncul sering kali menandai pertanyaan yang lebih dalam tentang apa yang membuat hidup terasa aman dan dapat diprediksi.
Di Indonesia, kekhawatiran itu dibesarkan oleh beberapa lapisan pengalaman bersama. Banyak keluarga menyusun rencana hidup atas asumsi stabilitas, yaitu gaji cukup, harga relatif tetap, cicilan terbayar, sehingga ketika narasi stabilitas retak, ketidakpastian langsung terasa dalam keseharian. Dampak ekonomi yang konkret, seperti berkurangnya daya beli akibat kenaikan harga barang impor, mempertegas kekhawatiran tersebut, terutama bagi kelompok menengah ke bawah yang terkena efeknya paling cepat. Selain itu, memori kolektif krisis 1997–1998 membuat kerentanan ekonomi menjadi ingatan traumatik, sehingga ketika rupiah kembali melemah, bayangan krisis lama mudah hidup kembali dalam imajinasi publik.
Kecemasan kolektif itu kemudian diperkuat oleh faktor kelembagaan dan komunikasi. Ketika arah kebijakan terasa kurang jelas atau kredibilitas pengambil kebijakan dipertanyakan, kepercayaan publik terhadap kemampuan negara menahan guncangan melemah. Padahal nilai mata uang pada dasarnya mencerminkan keyakinan terhadap masa depan bersama. Di sisi lain, arus informasi modern dan media sosial cepat mengamplifikasi berita rupiah anjlok menjadi viral, sehingga rasa panik menyebar lewat mekanisme konfirmasi sosial dan efek kawanan. Orang tidak lagi hanya membaca data, melainkan merasakan emosi massal yang memicu tindakan kolektif seperti menimbun dolar atau menahan belanja.
Melihat fenomena ini melalui kacamata filsafat psikologi memberi kita dua manfaat: pertama, mengubah kecemasan dari sekadar masalah yang harus diatasi menjadi sinyal yang layak direnungkan; kedua, menggabungkan kerangka makna filosofis dengan temuan psikologi untuk langkah-langkah praktis. Dari perspektif eksistensial, kecemasan dapat menjadi pemicu refleksi, bukan menanyakan bagaimana mengembalikan hidup ke stabilitas lama, melainkan mempertanyakan pengertian stabilitas itu sendiri dan mempertimbangkan konsep ketahanan atau resilience. Pendekatan ini membantu mengalihkan fokus dari ilusi kontrol mutlak terhadap variabel eksternal ke penguatan kapasitas adaptif individu dan komunitas.
Secara pragmatis, langkah yang menggabungkan wawasan filosofi dan psikologi dapat meredam kepanikan kolektif. Pembedaan antara apa yang bisa dan tidak bisa dikontrol, sebuah prinsip yang sering ditemui dalam Stoikisme, mengurangi beban mental dengan memusatkan energi pada tindakan konkret seperti pengelolaan anggaran, peningkatan literasi keuangan, dan penataan prioritas pengeluaran. Selain itu, narasi yang lebih informatif dan tenang dari media serta penjelasan kebijakan yang transparan dapat menetralkan ekspektasi buruk yang berpotensi menjadi self-fulfilling.
Peran komunitas dan praktik spiritual juga penting dalam memulihkan rasa aman bersama. Dukungan sosial, diskusi, gotong royong, dan saling mengingatkan agar tidak panik bekerja sebagai bantalan psikologis yang meredam kecemasan kolektif. Bagi banyak orang Indonesia, praktik ibadah, meditasi, atau kearifan lokal seperti eling lan waspada menawarkan ruang untuk menenangkan batin dan memandang krisis dengan jarak yang sehat, sehingga respons lebih reflektif daripada reaktif.
Akhirnya, berita rupiah anjlok menyingkap kerentanan yang lebih dalam: ketergantungan pada narasi stabilitas, memori kolektif trauma, dan keterbatasan kontrol individu atas sistem ekonomi global. Menghadapi ini memerlukan kombinasi pemahaman ekonomi yang lebih baik, praktik psikologis untuk mengelola kecemasan, dan refleksi filosofis untuk meninjau kembali pengertian stabilitas. Hidup yang benar-benar stabil mungkin mustahil tanpa guncangan, tetapi kita bisa membangun ketahanan finansial, sosial, dan eksistensial sehingga ketika gelombang ketidakpastian datang, respons kita tidak panik, melainkan sadar, adaptif, dan bermakna.
***
Penulis: Nashwa Raisa Afkar, Mahasiswi Program Studi Psikologi, Universitas Pendidikan Indonesia
Penyunting: Melinda Sintawati
Daftar Rujukan
Putra, J. T. L. (2026). Pelemahan Rupiah, Tekanan Finansial, dan Kesehatan Mental. Niaga.Asia.
Sukardi, L. (2026). Rupiah, Persepsi, dan Psikologi Krisis: Saat Pelemahan Mata Uang Tidak Lagi Sekadar Persoalan Fundamental. Reporter.id.
Kementerian Kesehatan RI. (2013). Riset Kesehatan Dasar 2013. Dikutip dalam: Filsafat Penerimaan Dalam Kesehatan Mental: Nrimo ing Pandum. Jurnal Ilmiah.
Tim Penulis. (2025). Hubungan Filsafat Eksistensial dengan Memaknai Diagnosa Gangguan Kecemasan (ICD-10 F41.1). Syntax Literate.
Tim Penulis. (2022). Kecemasan dalam Pandangan Para Filsuf. Zona-Nalar.
Tim Penulis. (2025). Hubungan Antara Filsafat dan Psikologi dalam Memahami Manusia. Ruma Filsafat.
CNN Indonesia. (2026). Rupiah Anjlok Bikin ‘Kena Mental’? Dokter Jiwa Beri Saran Biar Tak Berujung Stres Kronis. Detik Health.
