Ketika Kematian Menjadi Satu-Satunya Kesetaraan: Kajian Nihilisme, Absurditas, dan Simulakra dalam Monster Karya Naoki Urasawa

 

Tangkapan Layar dari Anime "Monster" yang Diproduksi oleh Studio Madhouse

Ketika pertama kali saya menonton salah satu karya masterpiece Naoki Urasawa yang berjudul Monster, saya mengira anime ini hanya akan berfokus pada kisah seorang dokter yang melakukan pengejaran terhadap seorang pembunuh berantai. Pandangan awal tersebut membuat saya berpikir bahwa Monster tidak jauh berbeda dengan anime thriller kriminal pada umumnya. Namun, semakin banyak episode yang saya selesaikan dan semakin jauh saya menyelami ceritanya, saya sadar bahwa karya ini jauh lebih dalam daripada first impression yang saya miliki sebelumnya. Monster bukan hanya sekadar kisah tentang kriminalitas, melainkan sebuah eksplorasi yang jauh lebih mendalam mengenai moralitas, identitas, dan hakikat manusia. 

Salah satu daya tarik Monster terletak pada karakter Johan Liebert yang menjadi representasi dari kekosongan makna dan krisis eksistensial manusia. Pemikiran Johan yang sampai saat ini masih melekat di ingatan saya adalah pandangannya mengenai kesetaraan nyawa. Bagi Johan, tidak ada kesetaraan di dunia ini, kesetaraan yang mutlak hanya terjadi dalam satu hal, yaitu kematian. Di sisi lain, Dr. Kenzo Tenma digambarkan sebagai sosok yang kontras dari karakter Johan. Sebagai seorang dokter, Tenma menjunjung prinsip kemanusiaan dan meyakini bahwa setiap manusia memiliki nilai kehidupan yang sama berharganya dan layak untuk diselamatkan. Konfrontasi antara keduanya kemudian mempertemukan dua filosofi moral yang saling bertentangan. Untuk memahami berbagai kontradiksi moral tersebut, saya akan menganalisisnya melalui tiga perspektif, yaitu nihilisme Friedrich Nietzsche, eksistensialisme Albert Camus dan Jean-Paul Sartre, serta teori simulakra Jean Baudrillard.

Konflik dalam cerita ini dimulai ketika Tenma, seorang ahli bedah yang tengah meniti karier suksesnya, terjebak dalam sistem rumah sakit yang mengutamakan kepentingan politik dan hierarki kekuasaan dibandingkan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Kehidupan Tenma berubah ketika ia dihadapkan pada situasi yang memaksanya untuk mengambil keputusan yang rumit. Ia harus memilih antara mengikuti perintah direktur untuk memprioritaskan Wali Kota Roedecker yang kaya dan berpengaruh atau menyelamatkan nyawa Johan Liebert, anak laki-laki yang tiba lebih awal dalam kondisi kritis akibat tembakan di kepala. Didorong oleh rasa bersalah karena sebelumnya membiarkan seorang pekerja imigran miskin meninggal demi pasien yang lebih berkuasa, Tenma memilih untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Pilihan yang ia buat berhasil menyelamatkan Johan, sementara sang wali kota meninggal dunia. 

Ironisnya, keputusan yang didasari dari nilai-nilai kemanusiaan tersebut justru memicu tragedi yang jauh lebih mengerikan. Johan yang ia selamatkan tumbuh menjadi sosok yang dikenal sebagai “monster”. Realitas tersebut membuat Tenma mempertanyakan prinsip moral yang selama ini ia yakini. Tenggelam dalam rasa bersalah, Tenma dihantui oleh sebuah pertanyaan: jika satu nyawa yang ia selamatkan kemudian merenggut banyak nyawa tak berdosa lainnya, apakah keputusan awalnya masih bisa disebut bermoral? Sejak saat itu, konflik batin mendorongnya untuk meninggalkan kehidupan lamanya sebagai dokter dan memilih memburu Johan.

Di saat Tenma berjuang mati-matian mempertahankan prinsip kemanusiaan yang masih ia yakini, Johan justru hadir sebagai antitesisnya. Baginya, keyakinan Tenma bahwa setiap manusia memiliki nilai yang sama hanyalah ilusi moral yang rapuh dan akan runtuh ketika berhadapan langsung dengan realitas dunia yang kejam. Menurut saya, cara pandang Johan dapat dipahami melalui konsep nihilisme Friedrich Nietzsche. Tentunya, pandangan tersebut tidak terbentuk secara tiba-tiba, tetapi hasil dari runtuhnya nilai-nilai kemanusiaan yang ia saksikan sejak kecil.

Semuanya berawal ketika ibunya dipaksa oleh Franz Bonaparta untuk menyerahkan salah satu dari anak kembarnya sebagai objek eksperimen. Keraguan sang ibu yang tidak bisa membedakan Johan dan Anna karena keduanya berpenampilan sama membuat Johan merasa dirinya tidak memiliki identitas yang benar-benar diakui. Luka tersebut diperparah oleh bayang-bayang kelam dari Red Rose Mansion yang dialami langsung oleh Anna. Johan menginternalisasi trauma saudara perempuannya dan menganggapnya sebagai pengalaman yang ia alami sendiri. Sisa-sisa kemanusiaan Johan hancur sepenuhnya ketika ia dikirim ke Kinderheim 511, yaitu sebuah panti asuhan eksperimental di bawah rezim Jerman Timur yang dirancang untuk membentuk individu tanpa memiliki emosi maupun empati. Di sanalah sisi gelap Johan berkembang mencapai bentuk yang lebih nyata. Berbeda dengan anak-anak lain yang menjadi korban pencucian otak, ia justru berdiri di atas mereka sebagai manipulator yang kejam. Tanpa perlu mengotori tangannya sendiri, Johan dapat dengan mudah memanipulasi seluruh anak bahkan staf di Kinderheim 511 untuk saling membunuh satu sama lain.

Perbedaan cara pandang tersebut yang menjadi inti dari konflik antara Johan dan Dr. Tenma. Jika dilihat dari eksistensialisme Albert Camus, Johan dan Tenma sama-sama dihadapi dengan kehidupan yang absurd, yaitu sebuah dunia yang tidak memberikan jawaban atas pencarian makna hidup manusia. Meskipun menghadapi absurditas yang sama, respons yang diambil keduanya sangat bertolak belakang dan menciptakan benturan ideologis. 

Dalam pandangan Camus, menghadapi dunia yang absurd adalah dengan menjadi The Rebel atau manusia pemberontak. Ia menyebut konsepnya dengan suatu pernyataan, yaitu “I rebel, therefore we are,” yang berarti, “Aku memberontak, maka kita ada.” Camus tidak mendefinisikan pemberontakan tersebut sebagai konflik anarkis, tetapi sebuah tekad untuk terus bertahan dan memaknai kehidupan melalui pilihan serta tindakan. Dengan kata lain, ketika seseorang melawan absurditas tersebut, mereka mengakui bahwa semua manusia memiliki nilai, hak, dan martabat yang setara.

Representasi sesungguhnya dari konsep The Rebel adalah Tenma. Meskipun dibayang-bayangi rasa bersalah dan menganggap Johan sebagai tanggung jawabnya, ia tidak membiarkan rasa putus asa mendominasi dirinya. Bahkan  selama pelariannya, Tenma masih berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan dengan menolong siapa pun yang membutuhkan pertolongan. Sikap tersebut membuktikan bahwa terlepas dari segala keabsurdan dunia, ia tetap percaya pada kehidupan dan martabat manusia merupakan nilai yang layak untuk dipertahankan. Sebaliknya, Johan mencerminkan kegagalan dalam menghadapi dunia yang absurd. Daripada mencari makna kehidupan, ia memilih tenggelam  pada kehampaan dan kehancuran itu sendiri. Maka dari itu, Johan meyakini bahwa kehidupan tidak memiliki nilai ataupun makna yang melekat, satu-satunya bentuk kesetaraan yang benar-benar ada adalah kematian.

Konsep kebebasan Jean-Paul Sartre mengenai manusia yang dikutuk untuk bebas (condemned to be free) juga terlihat dalam diri Johan. Ini berarti manusia memiliki kebebasan penuh atas hidupnya, tetapi dengan menanggung konsekuensi dan tanggung jawab yang besar atas segala pilihannya. Johan menggunakan kebebasan tersebut dengan menyingkirkan standar moral. Ia terus memprovokasi Tenma dan mendesaknya untuk mengangkat senjata, membawa Tenma pada dilema antara mempertahankan idealisme moralnya atau menghabisi nyawa Johan. Ia ingin membuktikan bahwa tidak ada manusia yang benar-benar mampu mempertahankan nilai moralnya ketika dihadapkan pada situasi ekstrem, sekalipun orang yang paling menjunjung tinggi nilai kehidupan seperti Tenma. 

Lalu, mengapa Johan begitu mudah membuang nyawa orang lain dan menganggap eksistensinya sendiri sebagai sesuatu yang tidak bermakna? Jika nihilisme digunakan untuk menganalisis isi pikirannya dan eksistensialisme digunakan untuk membahas konfliknya dengan Tenma, maka pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan teori simulakra Jean Baudrillard.

Seluruh kehampaan Johan akhirnya menemukan titik yang membuat segalanya terasa masuk akal melalui buku dongeng karya Franz Bonaparta berjudul The Nameless Monster. Buku ini menceritakan tentang monster yang terbagi menjadi dua demi mencari sebuah nama. Namun, monster tersebut justru melahap semua orang yang ia temui untuk mendapatkan namanya hingga tak ada satu orang pun yang tersisa untuk memanggil atau mengingat namanya. Johan melihat dirinya sebagai monster tanpa nama dalam cerita tersebut dan menyadari bahwa satu-satunya cara untuk mengakhiri penderitaan eksistensialnya adalah dengan menghapus semua jejak keberadaannya di dunia ini. Demi merealisasikan dongeng tersebut, Johan memusnahkan dokumennya, menghapus masa lalunya, menggunakan berbagai identitas, bahkan melenyapkan setiap orang yang mengenalinya.

Setelah berhasil menghapus seluruh jejak masa lalunya, Johan berada pada tahap keempat dalam orde tanda, yaitu pure simulacrum atau simulakra murni. Identitas Johan tidak lagi memiliki hubungan asal-usul yang jelas karena ia bukan lagi seorang manusia yang sejarahnya dapat ditelusuri, tetapi Johan sudah menjadi sebuah simbol atau representasi dari sosok “monster” itu sendiri.

Melalui pembahasan ini, saya menyadari bahwa karya Naoki Urasawa yang sangat saya sukai lebih dari sekadar kebaikan melawan kejahatan. Ada banyak pertanyaan yang mendalam tentang bagaimana manusia merespons dunia yang penuh penderitaan dan ketidakpastian. Saya juga menarik kesimpulan bahwa “monster” yang sesungguhnya bukanlah sebuah makhluk mistis, tetapi merupakan perwujudan dari kekosongan dan kehampaan yang muncul dari kekejaman struktur sosial dan hilangnya kepedulian antar manusia. 

***

Penulis: Meisya Herawati, Mahasiswi Program Studi Psikologi, Universitas Pendidikan Indonesia

Penyunting: Ayuk Wiji Safitri

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama