Kenapa Ghosting Terasa Mudah? Membaca Fenomena Ini Melalui Filsafat Martin Buber


Foto oleh Kev Costello di Unsplash

Suatu malam, seorang teman cerita ke saya sambil menatap layar HP-nya lama-lama. “Dia read chat aku dari kemarin, tapi nggak dibales-bales,” katanya, separuh kesal, separuh berharap. Tiga hari kemudian, chat itu masih sama saja, sudah dibaca, tapi tak pernah dibalas. Nggak ada penjelasan, nggak ada kabar putus, cuma... hilang. Teman saya akhirnya menyimpulkan sendiri, mungkin memang sudah selesai, tanpa pernah benar-benar tahu kenapa.

Cerita semacam ini rasanya bukan cerita asing lagi. Hampir semua orang, entah sebagai yang menghilang atau yang ditinggal menghilang, pernah berurusan dengan fenomena yang sekarang punya nama sendiri, ghosting. Fenomena ini nyaris tidak pernah dianggap sebagai sesuatu yang aneh lagi. Ia sudah jadi semacam bahasa tak tertulis di dunia percintaan digital, cara aman untuk mengakhiri sesuatu tanpa harus menghadapi percakapan yang canggung.

Tapi kalau dipikir lebih jauh, ada yang janggal dari kemudahan ini. Bagaimana bisa seseorang yang tadinya kita ajak ngobrol tiap hari, yang ceritanya kita dengarkan, yang mungkin pernah kita bayangkan masa depannya bersama kita, tiba-tiba bisa “dihapus” semudah menutup aplikasi? Pertanyaan inilah yang membawa saya pada seorang filsuf bernama Martin Buber, dan cara pandangnya tentang bagaimana manusia sebenarnya bisa memperlakukan sesama manusia dengan dua cara yang sangat berbeda.

Filsuf yang saya maksud adalah Martin Buber, seorang pemikir Yahudi-Austria yang dikenal lewat filsafat dialognya. Dalam karyanya yang terbit tahun 1923, Ich und Du (diterjemahkan ke bahasa Inggris sebagai I and Thou), Buber menjelaskan bahwa manusia memiliki dua cara mendasar dalam berelasi dengan dunia dan sesamanya, yaitu relasi I-Thou dan relasi I-It.

Relasi I-It adalah relasi yang dangkal, di mana yang lain hanya dianggap ada sejauh bisa memenuhi kebutuhan kita. Dalam pola ini, orang lain diperlakukan sebagai objek, alat, atau sarana untuk mencapai sesuatu, bukan sebagai pribadi yang utuh dengan keberadaannya sendiri. Sebaliknya, relasi I-Thou jauh lebih dalam, penuh penghormatan terhadap keberadaan orang lain, dan dibangun atas dasar timbal balik serta kesalingan. Dalam relasi ini, kita hadir sepenuhnya untuk orang lain dan orang lain juga hadir sepenuhnya untuk kita, tanpa ada yang direduksi jadi sekadar sarana.

Menariknya dari pandangan Buber, ia percaya era modern justru dipenuhi oleh relasi I-It, sementara relasi I-Thou yang lebih dalam semakin terpinggirkan. Ia menulis ini seabad lalu, jauh sebelum ada chat, DM, atau read receipt. Tapi kalau dipikir-pikir, deskripsi itu justru terasa semakin relevan sekarang, di dunia yang membuat kita bisa “berelasi” dengan puluhan orang sekaligus lewat layar, tanpa harus benar-benar hadir untuk satu pun dari mereka.

Di sinilah ghosting menemukan tempatnya. Ghosting, pada dasarnya, adalah momen ketika seseorang yang tadinya kita perlakukan sebagai I-Thou, orang yang ceritanya kita dengarkan, yang kita ajak berbagi hari, yang kehadirannya kita nantikan, tiba-tiba bergeser jadi I-It. Begitu hubungan itu terasa tidak dibutuhkan lagi atau terasa merepotkan untuk dilanjutkan, orang itu diperlakukan seperti aplikasi yang bisa ditutup begitu saja, tanpa penjelasan, tanpa proses, tanpa harus mempertanggungjawabkan apa pun.

Satu hal yang membuat pergeseran ini terasa begitu mudah dilakukan, menurut saya, adalah medium yang kita pakai untuk berelasi hari ini. Chat dan DM membuat kehadiran orang lain menjadi sesuatu yang abstrak, sekadar teks di layar, notifikasi yang muncul dan bisa hilang kapan saja. Berbeda dengan relasi tatap muka, di mana menghadapi seseorang berarti menghadapi ekspresi wajahnya, keheningannya, kekecewaannya secara langsung, di dunia digital kita bisa memutus relasi tanpa harus menyaksikan konsekuensinya sama sekali. Layar menjadi semacam jarak aman yang membuat proses “meng-It-kan” orang lain jadi nyaris tanpa gesekan.

Ironisnya, orang yang melakukan ghosting jarang benar-benar merasa sedang melakukan sesuatu yang kejam. Bagi banyak orang, menghilang terasa seperti jalan paling aman, cara menghindari konflik, drama, atau rasa bersalah karena harus mengecewakan seseorang secara langsung. Tapi di titik inilah letak persoalannya menurut Buber, niat baik untuk menghindari ketidaknyamanan justru berakhir pada tindakan yang mereduksi orang lain jadi sekadar objek yang bisa dilenyapkan tanpa penjelasan. Menghindari rasa sakit sesaat karena harus jujur, pada akhirnya menciptakan rasa sakit lain yang jauh lebih lama, ketidaktahuan.

Saya tidak sedang bilang ghosting selalu salah secara mutlak, atau semua orang yang pernah melakukannya adalah orang jahat. Ada situasi-situasi tertentu, terutama yang melibatkan pelecehan atau hubungan yang tidak sehat, di mana menghilang justru menjadi bentuk perlindungan diri yang wajar. Tapi untuk sebagian besar kasus lainnya, mungkin ada baiknya kita berhenti sejenak sebelum menutup chat untuk terakhir kalinya, dan bertanya pada diri sendiri, apakah saya sedang melindungi diri, atau sekadar menghindari rasa tidak nyaman karena harus jujur?

Buber pernah menulis bahwa relasi I-Thou tidak bisa dipertahankan selamanya, ada kalanya ia mengendur, berubah jadi I-It, lalu jika kita mau bisa dibangun kembali. Barangkali itulah yang paling relevan dari gagasannya untuk dunia yang serba cepat menghilang dan berganti obrolan hari ini, bukan tentang menuntut kesempurnaan dalam setiap hubungan, tapi tentang mengingat bahwa di ujung setiap chat, ada manusia yang menunggu, bertanya-tanya, dan berhak setidaknya atas satu kalimat penjelasan.

Karena pada akhirnya, yang membuat kita betah dengan kedekatan digital yang serba instan ini bukan cuma soal siapa yang membalas duluan atau siapa yang read chat siapa. Yang membuatnya benar-benar berarti adalah keberanian untuk tetap hadir, bahkan ketika lebih mudah untuk pergi tanpa suara.

***

Penulis: Aura Fiorenzahira Erly, Mahasiswi Program Studi Psikologi, Universitas Pendidikan Indonesia

Penyunting: Widya Bunga Aprilia


References

Buber, M. (1970). I and Thou. Charles Scribner's Sons.

LeFebvre, L. E. (2017). Ghosting as a relationship dissolution strategy in the technological age. In The Impact of Social Media in Modern Romantic Relationships (pp. 219-235). Lexington Books.

Navarro, R., Larrañaga, E., Yubero, S., & Víllora, B. (2020). Psychological correlates of ghosting and breadcrumbing experiences: A preliminary study among adults. International Journal of Environmental Research and Public Health, 1116.

Pancani, L., Mazzoni, D., Aureli, N., & Riva, P. (2021). Ghosting and orbiting: An analysis of victims' experiences. Journal of Social and Personal Relationships.


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama