![]() |
| Ilustrasi: Pinterest |
Beberapa waktu terakhir saya sering kali mendengar beberapa keluhan terkait dengan ekonomi, mulai dari kenaikan harga Pertamax, cicilan pay later yang menumpuk, hingga keluhan terkait maraknya kasus PHK. Tetapi, dibalik keresahan tersebut, saya masih melihat mall yang tak pernah sepi ataupun coffee shop yang selalu dipenuhi dengan antrian panjangnya. Pemandangan yang tampak kontradiktif ini membuat saya penasaran tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Istilah lipstick effect ternyata sudah banyak diperbincangkan untuk menjelaskan fenomena ini. Leonard Lauder pertama kali menggunakan istilah lipstick effect untuk menggambarkan alasan masyarakat tetap memburu kebahagiaan kecil di tengah situasi krisis. Tapi menurut laporan Jatim Times (2026), Eddy Junarsin sebagai pakar ekonomi dan bisnis UGM, justru meragukan relevansi label itu untuk situasi mall dan cafe yang ramai sekarang. Menurutnya, ini lebih mencerminkan tuntutan gaya hidup, bukan sekedar pelipur lara murah. Sejalan dengan hal itu, ekonom Yusuf Rendy Manilet dari CORE Indonesia (2026) memberikan pandangan yang tak kalah tajam dengan mengatakan bahwa situasi ini bukanlah indikator kuatnya daya beli, melainkan sinyal kehati-hatian yang terselubung di balik keramaian.
Saya sendiri tidak terlalu tertarik untuk memperdebatkan istilah apa yang pantas untuk menggambarkan kondisi ini. Saya justru memusatkan perhatian pada satu kemungkinan penjelasan lain, yang mengajak saya melihat kondisi psikologis kita dari sudut yang berbeda. Bisa jadi, pengeluaran yang kita keluarkan perlahan mengalami kebocoran kecil yang selama ini luput dari perhatian.
Ada konsep ekonomi perilaku yang relevan untuk menjelajahi kemungkinan ini, yaitu mental accounting yang dirumuskan ekonom Richard Thaler lewat paper "Mental Accounting Matters" di Journal of Behavioral Decision Making (1999). Intinya, kita cenderung jarang melihat isi rekening sebagai satu kesatuan utuh. Tanpa sadar, pikiran kita membagi-bagi uang tersebut ke dalam kotak-kotak kecil yang terpisah. Mungkin karena itu, air mineral Rp5.000 atau kopi Rp20.000 yang saya beli hari ini terasa seperti pengeluaran remeh, karena dinilai secara eceran. Padahal kalau dikumpulkan sampai akhir bulan, angkanya bisa tembus ratusan ribu bahkan jutaan dalam setahun. Secara logika, uang Rp5.000 yang berada pada dompet uang jajan sama dengan uang Rp5.000 pada dompet tabungan darurat. Tapi entah mengapa, seringkali kita seolah-olah menganggap keduanya memiliki kasta yang berbeda. Otak kita bekerja seperti seorang akuntan yang amatir yang terjebak pada kotak-kotak anggaran kecil. Kita sampai lupa melihat gambaran besarnya bahwa setiap rupiah yang keluar sebenarnya menguras sumber dana yang sama.
Pembahasan ini tidak berhenti pada ranah ekonom kontemporer, tapi ternyata sudah dibahas jauh sebelum istilah mental accounting ramai dibahas. Ada kecenderungan psikologis lain yang menurut saya juga relevan, yaitu kita cenderung memberi bobot lebih besar pada kenikmatan hari ini daripada konsekuensinya di masa depan. Aristoteles sudah menyinggung gejala serupa melalui konsep akrasia, yang merupakan keadaan ketika seseorang paham betul mana tindakan yang benar, tapi tetap tunduk pada dorongan sesaat dan memilih jalan yang keliru. Semua pernyataan yang sudah saya dapatkan, ternyata belum sepenuhnya menjawab pertanyaan saya terkait alasan mengapa seseorang lebih memilih kopi di coffee shop yang harganya berkali-kali lipat lebih mahal daripada kopi sachet sebagai pelarian.
Jawaban atas pertanyaan tersebut justru datang dari Jean Baudrillard, melalui penjelasannya yang membuat persoalan ini semakin rumit sekaligus lebih masuk akal bagi saya. Dalam The System of Objects (1968), sebagaimana dirangkum oleh Cultural Reader (2025), Baudrillard menyatakan bahwa dalam masyarakat konsumen, sebuah barang memiliki tiga lapis nilai, use-value atau nilai fungsionalnya, exchange-value, dan sign-value sebagai nilai yang menjadikan suatu barang sebagai penanda status, selera, ataupun identitas sosial. Ketika saya coba terapkan pada secangkir kopi di cafe dengan pencahayaan yang bagus, ternyata rasanya itu sudah bukan lagi soal kandungan kafeinnya. Ia berubah menjadi penanda bahwa kita masih sanggup ataupun memiliki tempat di kelas sosial yang sama seperti sebelum harga Pertamax naik. Yang dibeli bukan lagi kopi, melainkan konfirmasi bahwa hidup belum benar-benar runtuh. Baudrillard bahkan memiliki istilah lain yang menurut saya cukup membantu menjelaskan kebingungan terkait mall yang tetap ramai meskipun keadaan ekonomi yang cenderung sedang sulit, yaitu simulacra dan hiperrealitas, konsep yang ia kembangkan dalam Simulacra and Simulation (1981), sebagaimana dijelaskan oleh Kellner (2020). Pada intinya, ada titik ketika sebuah tanda bisa lepas sepenuhnya dari kenyataan yang semestinya ia rujuk, kemudian menjadi seakan-akan dialah kenyataan itu sendiri. Saya melihat ketika konsep tersebut diterapkan pada pembahasan ini, menunjukan bahwa keramaian yang masih terlihat di dalam mall sebagai pertanda bahwa ekonomi masih baik-baik saja belum tentu benar. Keadaan tersebut belum tentu menggambarkan kondisi daya beli masyarakat, justru mungkin hanya menciptakan kesan bahwa keadaan ekonomi masih berjalan sebagaimana mestinya. Kalau saya kaitkan lagi dengan istilah Yusuf Rendy Manilet dari CORE Indonesia (2026) tadi, bisa jadi yang sebenarnya terjadi adalah sinyal kehati-hatian yang berpakaian keramaian. Kita mungkin hanya fokus pada citra ekonomi yang dicerminkan melalui keramaian mall dan mulai mengabaikan kondisi ekonomi yang sebenarnya.
Sebenarnya, saya tidak melihat adanya kesalahan dari membeli secangkir kopi atau memberi hadiah kecil untuk diri sendiri. Namun, yang menarik untuk diperhatikan adalah ketika hal tersebut terus diulang tanpa menyadari adanya kemungkinan dampak buruk di masa depan. Apa yang dianggap sebagai masa depan hanya tercermin dari kata-kata "aku yang nanti" seolah-olah orang lain yang tidak mendapat konsekuensi dari apa yang diperbuat oleh "aku yang sekarang". Barangkali yang perlu terus saya ingat saat ini bukan hanya bagaimana caranya menjadi hemat, tapi belajar menyadari bahwa setiap pilihan kecil yang kita anggap sepele hari ini, pelan-pelan ikut membentuk kondisi finansial kita esok hari. Di tengah rutinitas membeli kopi sambil mengikuti berita ekonomi yang terus berubah, ada baiknya kita sempatkan bertanya pada diri sendiri apakah ini memang sesuatu yang dibutuhkan atau hanya cara paling mudah untuk merasa sedikit lebih baik hari ini?
***
Penulis: Ghaisani Mega Pramono, Mahasiswa Program Studi Psikologi, Universitas Pendidikan Indonesia
Penyunting: Merlyn Valencia Sekarwang
DAFTAR PUSTAKA
Cultural Reader. (2025, Maret). Baudrillard and The System of Objects. https://culturalstudiesnow.blogspot.com/2025/03/baudrillard-and-system-of-objects.html
Ikmal, M. (2026, 24 Mei). Segelas kopi dan sebuah kebohongan kolektif. Kumparan. https://kumparan.com/muhammad-ikmal-1777425495174023832/segelas-kopi-dan-sebuah-kebohongan-kolektif-27RMYKeFSzj
J, M. (2026, 22 Mei). Apa itu lipstick effect? Fenomena mal dan kafe tetap ramai meski rupiah melemah. Jatim Times. https://jatimtimes.com/baca/3331344101/20260522/101900/apa-itu-lipstick-effect-fenomena-mal-dan-kafe-tetap-ramai-meski-rupiah-melemah
Kellner, D. (2020). Jean Baudrillard. In E. N. Zalta (Ed.), The Stanford Encyclopedia of Philosophy (Winter 2020 ed.). https://plato.stanford.edu/archives/win2020/entries/baudrillard/
Thaler, R.H. (1999), Mental Accounting Matters. Journal of Behavioral Decision Making, 12, 183–206.
