Mungkin Kita Bukan Tertinggal, Justru Terlalu Sibuk Melihat Hidup Orang Lain: Begini Stoikisme Menjawab Fear of Missing Out (FOMO)

Illustration: AI Generated by ChatGPT 


"Pernah tidak kamu merasa hidupmu baik-baik saja... sampai akhirnya membuka media sosial?"

"Kenapa hidupku biasa-biasa saja, ya? Apa aku tidak up to date seperti mereka?"

Mungkin pertanyaan itu pernah tiba-tiba muncul di kepala kita. Padahal, awalnya kita hanya ingin beristirahat sebentar sambil scrolling media sosial. Namun, semakin lama scrolling, semakin banyak juga unggahan teman-teman yang lewat. Ada yang baru diterima kerja, menang lomba, aktif ikut organisasi, jalan-jalan ke tempat baru, sampai liburan bareng teman-temannya. Sementara itu, kita hanya lagi rebahan atau duduk santai di rumah.

Lama-lama, perasaan mulai tidak enak. Padahal, kalau dipikir-pikir, kita sebenarnya tidak terlalu suka keramaian, tidak tertarik ikut semua acara, atau bahkan tujuan hidup kita memang berbeda dengan mereka. Namun, melihat orang lain seolah terus melangkah dan punya pencapaian baru membuat kita mulai bertanya kepada diri sendiri, "Apa aku ini tidak berkembang, ya? Apa aku ketinggalan?" Akhirnya, kita jadi terpicu untuk ikut mengejar semuanya. Bukan karena itu benar-benar yang kita inginkan, melainkan karena takut terlihat tertinggal dibandingkan orang lain.

Fenomena ini dikenal sebagai Fear of Missing Out (FOMO). Di era digital, media sosial bukan lagi sekadar tempat berbagi cerita, tetapi juga menjadi ruang tempat orang-orang berlomba menunjukkan versi terbaik dari hidupnya. Tanpa sadar, kita pun ikut masuk ke dalam perlombaan itu. Kita mulai mengukur nilai diri dari pencapaian dan kehidupan orang lain, padahal semua itu bukan sesuatu yang bisa kita kendalikan.

Lalu, sebenarnya bagaimana Stoikisme memandang fenomena seperti ini?

Epictetus, salah satu filsuf Stoik, pernah mengatakan, "Ada hal-hal yang berada dalam kendali kita, dan ada hal-hal yang berada di luar kendali kita." Menurutnya, yang benar-benar bisa kita kendalikan hanyalah pikiran, penilaian, keinginan, tujuan, tindakan, dan segala urusan kita sendiri. Sebaliknya, bagaimana kehidupan orang lain berjalan, pencapaian mereka, atau apa yang mereka unggah di media sosial bukanlah sesuatu yang dapat kita atur.

Masalahnya, saat mengalami FOMO, kita justru menghabiskan banyak waktu memikirkan hal-hal yang berada di luar kendali kita. Kita sibuk membandingkan pencapaian, gaya hidup, atau keseruan orang lain sampai lupa melihat apa yang sebenarnya sedang kita jalani. Dalam Enchiridion, Epictetus mengingatkan bahwa ketika kita terlalu terikat pada hal-hal yang berada di luar kendali, kita akan lebih mudah merasa terganggu, mengeluh, bahkan menyalahkan diri sendiri karena terus membandingkan diri dengan pencapaian orang lain. Pada akhirnya, hal itu hanya akan membuat kita tidak pernah benar-benar puas dengan diri sendiri.

Bagi banyak orang, tekanan untuk selalu produktif dan memiliki pencapaian baru lama-kelamaan berubah menjadi beban mental. Rasanya hidup seperti perlombaan yang tidak pernah selesai. Padahal, Stoikisme tidak mengajarkan kita untuk bersikap apatis atau berhenti berusaha. Justru sebaliknya, Stoikisme mengajak kita mengubah arah fokus.

Kalau selama ini kita terlalu sibuk mengejar hasil akhir, seperti pengakuan, pencapaian, atau validasi dari orang lain, Stoikisme mengingatkan bahwa semua itu tidak sepenuhnya berada dalam kendali kita. Yang bisa kita kendalikan adalah usaha, cara berpikir, dan bagaimana kita menjalani prosesnya. Menariknya, gagasan ini juga dikenal dalam psikologi modern sebagai internal locus of control, yaitu kecenderungan untuk memusatkan perhatian pada hal-hal yang benar-benar bisa kita kendalikan, bukan pada faktor-faktor di luar diri kita.

Epictetus pernah berkata, "Anda bisa menjadi tak terkalahkan jika Anda tidak terlibat dalam pertempuran yang bukan merupakan kekuasaan Anda untuk menang." Melalui kutipan ini, Stoikisme mengajak kita untuk berhenti ikut dalam perlombaan yang sejak awal memang bukan milik kita. Bukan karena kita tidak mampu bersaing, tetapi karena perlombaan itu memang tidak bisa kita menangkan. Selalu akan ada orang yang terlihat lebih sukses, lebih produktif, atau lebih bahagia.

Daripada menghabiskan energi untuk mengejar standar orang lain yang terus berubah, Stoikisme mengajak kita kembali fokus pada perlombaan kita sendiri, yaitu bertumbuh sesuai nilai, tujuan, dan kemampuan yang kita miliki. Karena pada akhirnya, kemenangan bukanlah tentang menjadi lebih baik daripada orang lain, melainkan menjadi lebih baik daripada diri kita yang kemarin.

Mengambil jeda dari keriuhan digital dan berhenti berlomba dengan bayang-bayang di media sosial bukanlah tanda kekalahan. Justru, itulah bentuk keberanian untuk kembali mengenal diri sendiri.

Kita juga perlu menyadari bahwa setiap orang memiliki timeline dan ritmenya masing-masing. Terlalu sering membandingkan diri dengan orang lain hanya akan mematikan motivasi dalam diri kita karena kita terus merasa tertinggal dalam perlombaan yang sebenarnya tidak pernah kita pilih. Padahal, pertumbuhan diri bukan tentang siapa yang paling cepat, melainkan tentang siapa yang terus bergerak sesuai kemampuan dan tujuan kita sendiri.

Jadi, mungkin sudah saatnya kita menutup ponsel sejenak, mengambil napas, lalu kembali fokus pada perjalanan kita sendiri. Karena pada akhirnya, nilai diri dan pencapaian hidup tidak ditentukan oleh apa yang muncul di media sosial atau seberapa jauh orang lain melangkah, melainkan oleh bagaimana kita terus bertumbuh menjadi versi diri yang lebih baik.

***

Penulis: Nadya Maya Kamiliya Ramdan, Mahasiswa Program Studi Psikologi, Universitas Pendidikan Indonesia

Penyunting: Melinda Sintawati


REFERENSI

Epictetus. (2008). Enchiridion (N. P. White, Trans.). Hackett Publishing. (Original work published ca. 125 CE) 

Fakultas Psikologi Universitas Esa Unggul. (n.d.). Kenali stoikisme dan hubungannya dengan psikologi modern. https://psikologi.esaunggul.ac.id/kenali-stoikisme-dan-hubungannya-dengan-psikologi-modern/ 

 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama