| Photo by Microsoft 365 on Unsplash |
"Kamu lagi sibuk apa sekarang?"
Pertanyaan itu mungkin terdengar sebagai bentuk basa-basi. Namun, dibalik kalimat yang sederhana tersebut tersimpan sebuah ukuran yang perlahan menjadi standar dalam kehidupan modern dimana semakin sibuk seseorang, semakin berhasil ia dianggap.
Belakangan ini, budaya hustle kembali menjadi perhatian setelah berbagai media menyoroti meningkatnya kasus burnout pada pekerja muda. ANTARA (2026), misalnya, mengutip psikolog yang menjelaskan bahwa tekanan untuk terus membuktikan diri, ditambah paparan media sosial, membuat banyak orang merasa harus selalu berkembang agar tidak tertinggal. Di sisi lain, World Health Organization (2022) juga menegaskan bahwa lingkungan kerja yang penuh tekanan dan ekspektasi berlebihan dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental.
Fenomena tersebut memperlihatkan perubahan yang menarik. Produktivitas yang semula dipahami sebagai kemampuan menyelesaikan pekerjaan kini perlahan bergeser menjadi ukuran nilai diri. Orang tidak lagi hanya ingin bekerja dengan baik, tetapi juga ingin terlihat sibuk, terlihat berkembang, dan terlihat berhasil.
Media sosial ikut memperkuat cara pandang tersebut. Setiap hari kita melihat unggahan tentang sertifikat baru, pekerjaan baru, bisnis yang berkembang, hingga rutinitas bangun pukul lima pagi. Tidak ada yang salah dengan pencapaian itu. Namun, ketika semua orang hanya memperlihatkan hasil terbaiknya, tanpa sadar kita mulai mengukur kehidupan sendiri dengan standar yang belum tentu realistis.
Akibatnya, muncul perasaan bersalah ketika sedang tidak melakukan apa pun. Beristirahat terasa seperti membuang waktu. Menikmati akhir pekan tanpa membuka laptop terasa seperti kemunduran. Bahkan, tidak sedikit mahasiswa yang merasa gagal hanya karena memilih tidur setelah beberapa hari mengerjakan tugas tanpa henti.
Di titik inilah muncul sebuah pertanyaan yang layak dipikirkan.
Apakah nilai seorang manusia benar-benar ditentukan oleh seberapa banyak ia menghasilkan?
Pertanyaan tersebut mengingatkan pada pemikiran filsuf sekaligus psikoanalis Jerman, Erich Fromm dalam bukunya “To Have or To Be?”. Fromm berpendapat bahwa masyarakat modern cenderung hidup dalam apa yang ia sebut sebagai mode of having atau orientasi "memiliki". Dalam cara hidup ini, manusia dinilai berdasarkan apa yang berhasil ia kumpulkan: harta, jabatan, gelar, prestasi, bahkan kesibukan.
Semakin banyak yang dimiliki, semakin tinggi pula penghargaan yang diberikan masyarakat.
Cara pandang ini perlahan membentuk keyakinan bahwa harga diri harus diperoleh melalui pencapaian. Seseorang merasa layak dihargai ketika berhasil memperoleh nilai tertinggi, promosi jabatan, atau daftar aktivitas yang padat. Sebaliknya, ketika gagal mencapai target, ia bukan hanya merasa kecewa terhadap hasilnya, tetapi juga mulai meragukan dirinya sendiri.
Padahal, kegagalan dan keberhasilan merupakan bagian yang silih berganti dalam kehidupan manusia.
Bagi Fromm, persoalan muncul ketika identitas seseorang bergantung sepenuhnya pada apa yang dimilikinya. Sebab segala sesuatu yang dimiliki dapat berubah. Pekerjaan dapat hilang, prestasi dapat dilampaui orang lain, kesehatan dapat menurun, bahkan kemampuan untuk terus produktif pun memiliki batas. Jika harga diri dibangun di atas hal-hal tersebut, maka setiap kehilangan akan terasa seperti kehilangan jati diri.
Sebagai alternatif, Fromm menawarkan mode of being atau orientasi "menjadi". Dalam cara pandang ini, manusia tidak diukur dari apa yang dimiliki, melainkan dari bagaimana ia menjalani kehidupannya. Kemampuan mencintai, berpikir, belajar, berempati, bertumbuh, dan membangun hubungan yang bermakna menjadi bagian dari nilai kemanusiaan yang tidak dapat diukur hanya melalui daftar pencapaian.
Pemikiran tersebut terasa semakin relevan ketika melihat kehidupan generasi muda saat ini.
Tidak sedikit mahasiswa yang merasa bersalah ketika mengambil waktu istirahat di tengah padatnya tugas kuliah. Ada pekerja yang tetap membalas pesan kantor hingga larut malam karena takut dianggap tidak berdedikasi. Bahkan ada orang yang tetap memaksakan dirinya bekerja saat tubuh dan pikirannya sudah kelelahan, hanya karena khawatir tertinggal dari orang lain.
Ironisnya, semakin sibuk seseorang, belum tentu semakin damai hidupnya.
Dalam banyak kesempatan, produktivitas memang penting. Melalui produktivitas, manusia berkarya, belajar, dan memberi manfaat bagi orang lain. Namun, persoalannya muncul ketika produktivitas tidak lagi menjadi sarana untuk menjalani hidup, melainkan berubah menjadi satu-satunya ukuran keberhargaan diri.
Saat itulah seseorang mulai percaya bahwa ia hanya layak dihargai selama ia terus menghasilkan sesuatu.
Padahal, ada banyak hal yang tidak dapat diukur melalui produktivitas. Menghabiskan waktu bersama keluarga, menemani teman yang sedang kesulitan, menikmati buku tanpa target, atau sekadar memberi ruang bagi diri sendiri untuk beristirahat mungkin tidak menghasilkan sertifikat maupun penghargaan. Namun, pengalaman-pengalaman tersebut justru membentuk kualitas hidup yang sering kali lebih bermakna dibanding sekadar menambah daftar pencapaian.
Hal ini sejalan dengan teori Self-Determination yang dikemukakan Ryan dan Deci (2000). Mereka menjelaskan bahwa kesejahteraan psikologis manusia tidak hanya dipengaruhi oleh pencapaian, tetapi juga oleh terpenuhinya tiga kebutuhan dasar, yaitu otonomi, kompetensi, dan keterhubungan dengan orang lain. Artinya, manusia membutuhkan lebih dari sekadar menjadi produktif untuk dapat menjalani hidup yang sehat secara psikologis.
Barangkali, inilah yang sering terlupakan dalam budaya produktivitas saat ini.
Kita begitu sibuk mengejar apa yang ingin dimiliki, hingga lupa bertanya bagaimana proses itu membentuk diri kita. Kita menghitung jumlah pekerjaan yang selesai, tetapi jarang menghitung berapa banyak waktu yang benar-benar kita nikmati. Kita mengejar pengakuan dari luar, tetapi lupa membangun penghargaan terhadap diri sendiri.
Pada akhirnya, bekerja keras bukanlah sesuatu yang keliru. Produktivitas tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia. Namun, produktivitas seharusnya menjadi alat untuk mencapai kehidupan yang lebih baik, bukan menjadi penentu apakah seseorang layak dihargai atau tidak.
Mungkin, pertanyaan yang perlu kita renungkan bukan lagi "Seberapa produktif aku hari ini?", melainkan "Apakah hari ini aku hidup dengan cara yang membuatku bertumbuh sebagai manusia?"
Sebab pada akhirnya, nilai seorang manusia tidak lahir dari daftar pencapaiannya. Nilai itu telah ada jauh sebelum ia memperoleh gelar, pekerjaan, ataupun penghargaan. Produktivitas dapat menjadi bagian dari kehidupan, tetapi tidak seharusnya menjadi ukuran dari harga diri.
***
Penulis: Athaillah Safira Putri, Mahasiswi Program Studi Psikologi, Universitas Pendidikan Indonesia
Penyunting: Widya Bunga Aprilia
Daftar Pustaka
ANTARA. (2026, 7 Mei). Tekanan media sosial hingga karier picu burnout pekerja muda.
Fromm, E. (1976). To Have or To Be?. Harper & Row.
Han, B.-C. (2015). The Burnout Society. Stanford University Press.
Ryan, R. M., & Deci, E. L. (2000). Self-determination theory and the facilitation of intrinsic motivation, social development, and well-being. American Psychologist, 55(1), 68–78. https://doi.org/10.1037/0003-066X.55.1.68
World Health Organization. (2022). Mental health at work.