Ketika Sekolah Belum Ramah: Kisah Anak Berkebutuhan Khusus yang Tersisih

Ilustrasi: Kursi kosong yang merepresentasikan perasaan terpinggirkan dan minimnya dukungan bagi anak berkebutuhan khusus di lingkungan sekitar.

Akses pendidikan yang setara masih menjadi tantangan bagi anak-anak dengan kebutuhan khusus. Di tengah upaya pemerataan pendidikan, tidak semua sekolah mampu menghadirkan lingkungan yang inklusif dan ramah bagi mereka.

Salah satu kisah datang dari seorang anak yang disamarkan dengan nama “Nunug”. Ia pernah bersekolah di tingkat sekolah dasar, namun pengalaman belajarnya tidak berjalan seperti anak-anak lainnya.

Selama di kelas, Nunug cenderung terisolasi. Ia lebih sering didampingi oleh orang tuanya, sementara interaksi dengan teman sebaya sangat terbatas. Minimnya upaya dari lingkungan sekolah untuk mengenalkan dan membaurkan Nunug dengan siswa lain membuatnya sulit diterima dalam pergaulan.

Tidak hanya itu, perlakuan kurang menyenangkan juga kerap ia terima. Ejekan dari teman-teman sebayanya menunjukkan rendahnya pemahaman tentang perbedaan dan kurangnya empati terhadap sesama.

Kondisi tersebut membuat proses belajar menjadi tidak nyaman. Pada akhirnya, Nunug tidak melanjutkan pendidikannya. Faktor lingkungan yang tidak mendukung serta keterbatasan ekonomi menjadi alasan utama.

Fenomena ini menunjukkan bahwa pendidikan inklusif masih belum sepenuhnya terwujud. Padahal, setiap anak memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang layak, tanpa diskriminasi.

Diperlukan peran aktif dari sekolah, tenaga pendidik, serta lingkungan sekitar untuk menciptakan ruang belajar yang aman dan menerima perbedaan. Edukasi mengenai keberagaman juga menjadi kunci agar stigma dan perlakuan diskriminatif tidak terus berulang.

Kisah seperti Nunug menjadi pengingat bahwa pendidikan tidak hanya tentang belajar di kelas, tetapi juga tentang bagaimana setiap anak diterima dan dihargai.


Penulis: Farisah Ulayya Lila Nuha

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama