Masih Menyalahkan Korban: Luka yang Tak Terlihat dalam Kasus Kekerasan Seksual

Ilustrasi: Perempuan yang merepresentasikan tekanan psikologis dan bayang-bayang trauma akibat kekerasan seksual.

Kasus kekerasan seksual tidak hanya meninggalkan dampak fisik dan psikologis bagi korban, tetapi juga sering diiringi dengan stigma sosial yang berkepanjangan. Salah satu bentuk stigma tersebut adalah victim blaming, di mana korban justru disalahkan atas peristiwa yang dialaminya.

Fenomena ini masih ditemukan di berbagai lapisan masyarakat. Dalam sebuah kasus yang terjadi beberapa tahun lalu, seorang perempuan yang disamarkan dengan nama “Mawar” mengalami kekerasan seksual saat masih berada di usia sekolah.

Peristiwa tersebut berdampak besar pada kehidupannya. Ia harus menghentikan pendidikan formal dan melanjutkan melalui jalur nonformal. Di usia yang masih sangat muda, ia juga menghadapi tanggung jawab sebagai seorang ibu.

Namun, tantangan yang dihadapi tidak hanya berasal dari kondisi tersebut. Sebagian lingkungan di sekitarnya justru memberikan penilaian negatif, dengan mengaitkan kejadian yang dialami korban dengan faktor-faktor pribadi yang tidak relevan. Hal ini menunjukkan bahwa pemahaman masyarakat terhadap kasus kekerasan seksual masih perlu ditingkatkan.

Padahal, dalam berbagai perspektif hukum dan sosial, korban tidak dapat disalahkan atas tindakan yang dilakukan oleh pelaku. Stigma yang muncul justru dapat memperparah kondisi korban dan menghambat proses pemulihan.

Seiring berjalannya waktu, Mawar berusaha melanjutkan hidupnya. Ia kini menjalani kehidupan bersama keluarga kecil yang memberikan dukungan dan penerimaan. Dukungan tersebut menjadi salah satu faktor penting dalam proses bangkit dari pengalaman traumatis.

Kisah ini mencerminkan realitas yang lebih luas, bahwa masih banyak korban yang tidak mendapatkan ruang aman untuk berbicara. Ketakutan akan penilaian dan stigma membuat banyak dari mereka memilih untuk diam.

Oleh karena itu, diperlukan perubahan cara pandang dalam masyarakat. Edukasi mengenai kekerasan seksual, peningkatan empati, serta dukungan terhadap korban menjadi langkah penting untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman dan adil.


Penulis: Farisah Ulayya Lila Nuha

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama