KENDAL — Keberadaan capung yang dahulu mudah ditemukan di sekitar pemukiman warga kini semakin jarang terlihat. Fenomena ini diduga menjadi indikator menurunnya kualitas lingkungan, khususnya kondisi air di wilayah tersebut.
Capung dikenal sebagai bioindikator alami yang sensitif terhadap perubahan kualitas air. Serangga ini hanya dapat berkembang biak di lingkungan dengan air yang bersih dan bebas dari pencemaran. Hilangnya capung menjadi sinyal bahwa ekosistem air mengalami gangguan.Tidak hanya capung, beberapa jenis tumbuhan air juga berperan sebagai indikator kualitas lingkungan. Tumbuhan seperti lumut air, ganggang tertentu, dan tanaman air alami biasanya tumbuh subur di perairan yang masih bersih. Sebaliknya, jika air tercemar, jenis tumbuhan tersebut akan berkurang atau bahkan menghilang, digantikan oleh tanaman yang lebih tahan terhadap kondisi kotor.
Berdasarkan pengamatan warga, kondisi lingkungan di wilayah Kendal telah mengalami perubahan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Dahulu, sungai di sekitar pemukiman memiliki air yang jernih dan menjadi habitat berbagai makhluk hidup seperti ikan kecil, capung, serta tumbuhan air yang tumbuh alami.
“Dulu capung banyak sekali, hampir setiap sore terlihat beterbangan di sekitar sungai dan sawah. Airnya juga jernih, kami bahkan bisa melihat dasar sungai,” ujar salah satu warga.
Namun, kondisi saat ini jauh berbeda. Air sungai berubah menjadi keruh berwarna cokelat, bahkan terkadang menimbulkan bau tidak sedap. Sampah juga mulai terlihat di beberapa titik aliran sungai. Selain itu, tanah di sekitar lingkungan tersebut menjadi lebih kering dan kurang subur dibandingkan sebelumnya.
Perubahan ini diduga disebabkan oleh aktivitas manusia, seperti pembuangan limbah rumah tangga ke sungai, berkurangnya vegetasi, serta penggunaan bahan kimia dalam pertanian yang tidak terkendali. Kondisi tersebut menyebabkan menurunnya kualitas air dan terganggunya habitat alami capung serta tumbuhan air.
Secara ilmiah, capung memiliki siklus hidup yang sangat bergantung pada kualitas air.
Berdasarkan berbagai penelitian di bidang ekologi, capung mengalami fase hidup di air pada tahap larva atau nimfa yang bisa berlangsung cukup lama. Pada fase ini, capung membutuhkan air yang bersih, kaya oksigen, dan bebas dari zat pencemar untuk bertahan hidup.
Hal yang sama juga terjadi pada tumbuhan indikator yang sensitif terhadap pencemaran. Ketika kualitas air menurun, tumbuhan tersebut akan mati atau tergantikan oleh jenis tanaman yang lebih tahan terhadap kondisi tercemar, sehingga menandakan adanya perubahan ekosistem.
Pengamat lingkungan menyebutkan bahwa hilangnya capung dan perubahan jenis tumbuhan tidak boleh dianggap sepele. Hal tersebut merupakan peringatan dini bahwa keseimbangan ekosistem sedang terganggu.
“Capung dan tumbuhan air adalah indikator alami. Jika keduanya hilang atau berubah, itu berarti kualitas lingkungan sudah menurun,” jelasnya.
Upaya perbaikan lingkungan perlu segera dilakukan, antara lain dengan menjaga kebersihan sungai, tidak membuang sampah sembarangan, serta mengurangi penggunaan bahan kimia yang merusak ekosistem. Kesadaran masyarakat menjadi kunci utama dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Hilangnya capung dan berubahnya vegetasi menjadi pengingat bahwa perubahan kecil di alam dapat membawa dampak besar. Jika tidak segera ditangani, kerusakan lingkungan dapat semakin meluas dan berdampak pada kehidupan manusia di masa depan.
Penulis: Dewi Kumala Sari

