![]() |
| Kumpulan Cerpen Ibu dan Rahasia Besar Karya Aris Risma Sunarmas |
Secara intrinsik, karya ini menunjukkan kekuatan pada unsur tema dan amanat yang kuat serta konsisten. Tema utama yang muncul adalah penderitaan perempuan akibat sistem patriarki, pengkhianatan, serta perlawanan yang dilakukan melalui ketangguhan dan fantasi balas dendam. Unsur tokoh digambarkan dengan kompleks, terutama melalui konflik batin yang mendalam.
Pendekatan psikoanalitik feminisme yang digunakan dalam analisis ini sangat relevan untuk mengungkap struktur kepribadian tokoh. Melalui Id yang terlihat pada dorongan naluriah dan hasrat spontan, seperti dalam kutipan “Maya memeluk dan mencium pipi kiriku. Gemetar. Dan aku seperti es. Meleleh”. Ego muncul dalam refleksi realitas hidup, misalnya “Sejak kecil aku ingin sekali menjadi penjelajah. Sayang sekali, Impian itu tidak pernah tercapai. Aku menjadi ibu rumah tangga”. Sementara Superego terwujud melalui rasa bersalah, norma sosial, dan upaya pembebasan diri, seperti nasihat “Kau hanya harus tahu bahwa kau wanita bebas, tak harus ikuti apa seperti kakak-kakakmu katakan…”.
Dari segi ekstrinsik, karya ini mencerminkan kondisi sosial-budaya masyarakat Indonesia, khususnya ketidakadilan gender dalam lingkup keluarga dan pengawasan sosial masyarakat. Kutipan “Di luar Mbak Neni dan beberapa tetangga sedang berkumpul. Berpura-pura membeli sayur padahal semua kepala diarahkan ke balik pintu rumah ibu yang terbuka. Kau pasti tahu apa yang mereka gunjingkan” serta “Perempuan selalu kalah. Seperti barang dagangan. Murah. Kelaminnya bisa seenaknya dibeli”, ini menunjukkan bahwa kritik terhadap praktik pratiarki dan dehumanisasi perempuan. Cerpen ini juga merepresentasikan perempuan tidak hanya sebagai korban, tetapi juga sebagai figur tangguh yang mengambil alih peran berat seperti pada kutipan “Seharusnya kami memanggilnya Samson. Sayang ia hanya perempuan”. Kondisi psikologis tokoh yang mengalami keterasingan terdapat dalam kutipan “Gak punya bapak…” yang menjadi dampak nyata dari ketimpangan struktur sosial.
Dari kutipan yang telah disebutkan, Mas Aris berhasil menampilkan sisi emosional manusia jika dilihat dari sisi psikologi, terutama yang berkaitan dengan luka, trauma, rasa kecewa, dan keterasingan. Hal ini membuat cerita terasa dekat dengan pembaca, karena pembaca mungkin pernah mengalami hal yang sama sehingga bisa merasakan apa yang dialami oleh tokoh.
***
Melalui pendekatan feminisme psikoanalitik, terlihat bahwa perilaku tokoh dalam cerita banyak didorong oleh dominasi Id, yaitu dorongan naluriah berupa rasa ingin tahu, hasrat, dan fantasi yang muncul secara spontan. Dorongan ini kemudian berhadapan dengan superego yang menghadirkan rasa takut dan kesadaran moral, serta ego yang berfungsi menyeimbangkan keduanya dengan cara menyembunyikan perilaku tersebut agar tetap sesuai dengan norma sosial. Konflik antara ketiga struktur kepribadian ini membuat karakter dalam cerita terasa hidup dan tidak sederhana.
Kisah-kisah di dalamnya ada yang menyentuh karena menceritakan hubungan ibu dan anak, ada pula yang tragis karena berujung pada pembalasan dendam. Mas Aris berhasil menggambarkan keseharian perempuan dalam menghadapi berbagai problematika rumah tangga seperti kurangnya komunikasi, perselingkuhan, dendam, dan lainnya. Ia mengulik dengan elegan bagaimana posisi perempuan di lingkup keluarga dan masyarakat kerap diabaikan, sekaligus memperlihatkan berbagai bentuk perlawanan yang dilakukan perempuan dengan cara yang halus namun kuat. Hampir semua cerpen memiliki atmosfer yang kelam, getir, dan terasa horor di tiap bagiannya. Meski demikian, justru melalui nuansa kelam inilah kekuatan emosional dalam karya ini muncul. Menurut saya, dengan minimnya momen kebahagiaan atau harapan yang ditampilkan, pembaca diajak untuk merenungkan realitas kehidupan perempuan yang penuh rahasia dan penderitaan.
Sebagai bentuk penguatan data, saya membandingan cerpen Ibu dan Rahasia Besar dengan novel Perempuan di Titik Nol karya Nawal El Saadawi, terutama dalam hal penggambaran pengalaman perempuan yang berada dalam tekanan sosial. Meski keduanya memiliki tema yang mirip, namun cara penyampaiannya berbeda. Perempuan di Titik Nol cenderung menghadirkan relitas secara langsung dan tegas, sementara Ibu dan Rahasia Besar lebih simbolik dan imajinatif. Karya Aris Risma Sunarmas berada di antara realitas dan simbol, meskipun tidak sepenuhnya realistis, namun juga tidak lepas dari pengalaman manusia yang nyata.
Setelah menyelesaikan buku ini, saya belajar bahwa perlu memiliki rasa syukur dan kematangan dalam berpikir untuk mengambil setiap keputusan yang ada. Karena apapun langkah yang diambil, semuanya memiliki dampak jangka panjang dalam kehidupan kita sehari-hari. Apapun dampaknya, semuanya berpengaruh bukan hanya kepada kita tetapi kepada orang lain juga. Buku ini memang ditulis oleh seorang pria yang berusaha menuangkan isi kepala perempuan, dan tidak semua orang bisa melakukannya. Mas Aris berhasil melakukannya dan hal itulah yang saya suka dari tulisannya. Membuat saya ketagihan untuk membaca ulang setiap ceritanya sehingga saya tidak sadar bisa menyelesaikan setiap cerpen ini satu persatu.
