| Kumpulan Cerpen Misi Menggagalkan Doa karya Yoga Palwaguna |
Misi
Menggagalkan Doa
adalah buku kumpulan cerpen yang berisikan 12 cerpen yang mengisahkan
tokoh-tokoh berani bertaruh hidup untuk menemukan jawabannya tentang bagaimana
melanjutkan hidup yang penuh luka tetapi masih mengasumsi bahwa setelah luka
akan ada kebahagiaan. Terdapat banyak narasi getir dan absurd di dalamnya,
tetapi cerpen-cerpen ini mampu menyoroti bagaimana psikologis dan sosiologis
menjadi tokoh utama dalam kehidupan tiap manusia.
Yoga Palwaguna berhasil menjaga
ritme cerita dengan begitu baik dengan tema sangat bervariatif. Di dalamnya
berisikan dunia-dunia bagi manusia yang berupaya melampaui luka. Isu sosial dan
kemanusiaan juga cukup kuat, seperti ketimpangan, relasi kuasa, dan ironi
kehidupan masyarakat. Yoga sering menyelipkan kritik sosial, misalnya lewat situasi
absurd atau konflik kecil yang sebenarnya merefleksikan masalah yang lebih
besar. Di sisi lain, ada juga pembahasan tentang relasi antarindividu, seperti
keluarga, cinta, dan pertemanan, yang tidak selalu harmonis. Hubungan-hubungan
ini sering digambarkan penuh jarak, miskomunikasi, atau bahkan kepura-puraan.
Kumpulan cerita pendek ini dapat
disesuaikan dengan pendekatan psikologi eksistensial oleh Soren Kierkegaad.
Kierkegaad memandang manusia bukanlah sebuah objek dan menentang persepsi
subjek sebagai satu-satunya realita yang dimiliki manusia. Kierkegaad
menekankan bahwa manusia harus memiliki keseimbangan antara kebebasan dan
tanggung jawab. Artinya manusia memiliki kebebasan dalam bertindak dengan
memperluas kesadaran dirinya dan mengambil tanggung jawab atas tindakannya.
Untuk mendapatkan kebebasan dan tanggung jawab manusia harus melepas
kecemasannya dan bertanggung jawab atas takdirnya serta merasakan beban dari
kebebasan dan rasa sakit dari tanggung jawabnya. Hal ini selaras dengan Misi Menggagalkan
Doa yang berisikan cerita dari tokoh-tokoh yang mencari jawaban atas
kehidupannya itu sendiri.
Terdapat dua cerpen utama yang akan
dijadikan bahan untuk disesuaikan dalam pendekatan psikologi eksistensial.
Pertama ada “Klub Arisan Kesedihan” yang bercerita tentang tokoh “aku” yang bergabung dalam sebuah klub misterius
bernama Klub Arisan Kesedihan tempat dua belas anggota secara bergiliran
“mendapat jatah kesedihan” yang dirancang khusus oleh sosok bernama Gabriel.
Kesedihan itu justru dinantikan para anggota, karena dipercaya mampu
menghidupkan kembali emosi yang mati, membuat mereka kembali merasa hidup. Dan
yang kedua ada “Ilusi” bercerita tentang tokoh Lala, gadis pembuka jasa
panggilan video pemuas rindu dengan menirukan suara dan riasan yang sesuai
seperti sosok yang dirindukan kliennya.
Dalam cerpen “Klub Arisan Keluarga”
terdapat kutipan “Asalkan kami bisa kembali merasakan kesedihan yang telah
lama hilang dari kehidupan kami.” (75) Tokoh ‘aku’ mengalami krisis makna
hidup. Ia mengatakan bahwa satu-satunya hal yang membuatnya bersemangat adalah
kemungkinan untuk merasakan kesedihan. Menurut teori Viktor Frankl, manusia
selalu membutuhkan makna untuk bertahan hidup secara psikologis. Tanpa makna,
hidup akan terasa kosong dan tidak berarti. Yang menarik di sini adalah adanya
paradoks. Biasanya manusia menghindari kesedihan, tetapi tokoh ini justru
mencarinya. Ini menunjukkan bahwa kesedihan, dalam konteks eksistensial, bukan
hanya emosi negatif, tetapi juga bukti bahwa seseorang masih ‘hidup’ dan mampu
merasakan.
Selanjutnya, dalam cerpen “Ilusi”
ditemukan kutipan “Aku harap abang bisa mulai merindukanku sebagai Lala,
karena Rahman adalah ilusi. Saya meniru orang yang sudah mati, tapi saya tidak
bisa menirukan orang yang tak pernah ada.” pada akhir cerita yang
menunjukkan bahwa Lala memahami batas antara kenyataan dan ilusi. Ia menolak
menjadi pengganti orang yang tidak benar-benar ada karena hal itu berarti
menghilangkan identitas dirinya sendiri. Di sini Lala memilih menjadi dirinya
sendiri daripada terus hidup dalam identitas yang dibentuk orang lain. Dalam
psikologi eksistensial, individu yang autentik mampu menerima dirinya sendiri
dan tidak hidup sepenuhnya berdasarkan tuntutan orang lain. Kesadaran ini
muncul ketika Lala mengetahui bahwa klien keduanya adalah kakak kandungnya yang
meminta dirinya menirukan suara adiknya yang tidak pernah ada.
Kumpulan cerpen Misi Menggagalkan
Doa ini secara keseluruhan memiliki narasi yang efektif tanpa membuat
pembaca hilang fokus dengan cerita-cerita yang terasa begitu dekat dengan apa
yang sudah banyak terjadi. Namun, ada beberapa kelemahan di dalam
kumpulan cerpen ini. Pertama, pada bagian ambiguitas yang terlalu dominan
sehingga kurang mengikat di beberapa cerita secara makna dan yang kedua,
kesedihan yang terasa berseragam. Variasi bentuk kesedihan yang kurang terasa
berbeda seperti banyak tokoh yang mengalami emosi yang mirip dengan cara yang
sama juga. Akibatnya, Beberapa cerita terasa seperti versi lain dari cerita
sebelumnya, bukan pengalaman yang benar-benar baru.
Dengan demikian, buku kumpulan cerpen Misi Menggagalkan Doa menghadirkan serpihan kehidupan orang-orang yang berjuang mencari sesuatu. ketiga belas ceritanya bisa dijadikan kawan untuk mengarungi hari-hari yang banyak kejutan.
Penulis: Nayla Putri Zulkarnaen,
mahasiswi Program Studi Sastra
Indonesia Universitas Negeri
Yogyakarta.
Penyunting: Azizah Octimilena