Mendengarkan Penderitaan melalui Novel Ketika Senja Jatuh di Nara karya Zaky Yamani

Novel Ketika Senja Jatuh di Nara Karya Zaki Yamani
Foto: Dokumentasi Fadhilatun Nisa' Adiilatun


Identitas Buku:

Judul : Ketika Senja Jatuh di Nara
Pengarang : Zaky Yamani
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2025
Jumlah Halaman : 216
ISBN : 978-602-06-8350-8

Pengarang tentu dituntut untuk menemukan cara yang tepat dalam menarik perhatian pembaca agar tergiur memasuki dunia ceritanya, sekaligus cermat mengolah bagaimana gagasan yang ingin disampaikan dapat mengalir dan sampai dengan kuat meski melalui cara yang tidak selalu lazim. Upaya tersebut tampak dalam Ketika Senja Jatuh di Nara karya Zaky Yamani, yang tidak hanya menghadirkan kisah personal, tetapi juga membawa pembaca pada penderitaan yang kian terasa jika menoleh ke wilayah timur—sebuah ruang yang kerap dieksploitasi dan dikeruk sumber dayanya—sehingga melalui pola penceritaan yang berbeda, Zaky berusaha membuat realitas itu tidak sekadar dipahami, melainkan juga dirasakan sebagai suara-suara yang selama ini terpinggirkan.

Memang premisnya sederhana, mengenai seorang anak perempuan yang mencari asal usul ibu kandung. Debora Nara, sang tokoh utama, ingin tahu mengapa dirinya dibuang oleh ibu kandungnya sendiri. Pencarian itu membawa Debora pada perjalanan satu malam yang sureal. Dari yang kita kira sederhana, tetapi rupanya perjalanan itu mengandung kejadian atau pola penceritaan yang mungkin beberapa orang pun tidak ngeh jika masih pada pembacaan pertama.

Dari perjalanan Debora inilah yang menggabungkannya dengan bagaimana Zaky Yamani merangkaikan penggunaan sudut pandang berbeda. Alih-alih menggunakan pencerita manusia yang sudah biasa digunakan oleh penulis-penulis lainnya, Zaky justru meletakkan hantu dari warga Desa Nara untuk menjadi pencerita dalam menghadirkan kembali bagaimana atau apa yang terjadi di desanya. Namun, dengan penggunaan sudut pandang yang tidak biasa itu, ia kemudian juga meramunya dengan unsur-unsur penggambaran realis; kekerasan fisik, pelecehan norma dan agama, kerakusan manusia, deforestasi, pemerkosaan terhadap alam, perampasan hak, dan manusia kehilangan suaranya.

Ketika Senja Jatuh di Nara hadir pada 21 Juni 2025 dengan ketebalan 216 halaman. Kemunculannya diduga meramu konflik terkait persoalan masyarakat adat, pembunuhan pendeta, pertambangan sawit, dan eksploitasi yang merefleksikan konflik di Indonesia Timur atau Papua—kerap terpinggirkan dan informasi yang didapat dari sana kerap dipelintir. Sebab juga dalam postingan X dari @johnny_mushroom atau pemilik akun Zaky Yamani membagikan apabila ia melakukan observasi ke daerah Indonesia Timur agar mendapatkan gambaran untuk novelnya sehingga fragmen-fragmen kejadian tersebut kemudian dihadirkan oleh Zaky Yamani lewat novel ini, lewat sudut pandang yang lain: tentang hantu yang mewakili trauma.

“Hanya manusia yang sanggup membuat manusia lain dan binatang tidak punya rumah.”

Lewat Magdalena, Aalona, Jakub, dan tokoh lain, pembaca diajak menyaksikan bagaimana keserakahan manusia yang diwakili oleh Paulus dan Zacharias, menimbulkan alam dan manusia lain menjadi korban. Kemudian dari itulah, pembaca akan menyusun puzzle lewat potongan mimpi yang dialami Debora sehingga sambil mempertanyakan, apakah ia salah datang ke tempat ini atau apakah ia yang kemudian menjadi target bagi hantu desa Nara?

Lain dari hal di atas, Zaky Yamani dengan piawai merangkai narasi demi narasi, menyelipkan gaya puitis yang seperti sajak-sajak bernuansa Alkitab. Isu-isu kekristenan dihadirkan; pembunuhan, hadirnya pendeta baru, dan ajaran menyimpang. Di sisi lain, novel ini juga menyinggung soal keperempuanan dan ketidakadilan pada Maria dan Debora Nara akibat dari keserakahan Paulus, yang Zacharias pun ikut terbawa arusnya hingga perempuan lagi-lagi menjadi korban.

Dari segi alur, dua ratus halaman novel ini dipenuhi berbagai sudut pandang: Debora, Maria, Zacharias, hingga para hantu lainnya. Cerita juga bergerak maju-mundur tanpa penanda waktu yang jelas. Kemudian, narasi dihadirkan tanpa pembagian bab dan beberapa peristiwa seolah diulang di bagian lain dengan detail tambahan, sementara perpindahan sudut pandang antar karakter, baik manusia maupun hantu kerap terasa tiba-tiba tanpa aba-aba sehingga cukup menantang untuk diikuti. Bagi sebagian, ini menjadi tantangan yang menarik, tetapi bagi yang lain, justru bisa terasa mengganggu dan melelahkan.

Pada hal-hal yang telah disebutkan di atas, yang menarik dari novel ini memang terletak pada keberanian bentuk yang diambil.

Bayangkan seorang pembaca berubah menjadi hantu. Ia melayang di antara halaman demi halaman sebuah novel, menyaksikan penderitaan para tokoh dari jarak yang terlampau dekat, namun tak mampu menyentuh atau mengubah satu pun takdir yang sedang berlangsung di hadapannya. Ia melihat luka yang tidak kasat mata, mendengar jeritan yang dikuburkan dalam kesunyian, dan menyaksikan bagaimana sistem sosial menghancurkan manusia dengan cara yang paling halus dan paling kejam sekaligus. Inilah pengalaman membaca novel Ketika Senja Jatuh di Nara karya Zaky Yamani. Penggunaan hantu sebagai pencerita menghadirkan sensasi berbeda, sebuah cara untuk “mendengarkan” suara yang sudah hilang, sekaligus membuka kemungkinan tafsir yang tidak tunggal.

Dari segi interpretasi pertama, justru pada awalnya mengira novel ini tidak sepadat atau setragis yang diliat dari sampul bukunya, tetapi ternyata membawa alur yang wah… tidak terduga karena sebegitu kompleks. Mungkin bagi pembaca akan memang tahu dari sinopsis yang diberikan pada belakang sampul halaman, jika akan terjadi kerakusan, tentara bersenjata, darah pembantaian, pemerkosaan alam, hingga dihidupi perbudakan tetapi cara semua itu dirangkai dalam alur cerita tetap menghadirkan kejutan tersendiri oleh Zaky Yamani.

“Tanah mereka dirampas, dan sebagian dari mereka melawan.”

“Kebun-kebun sawit yang masih muda digunduli dan dibakar.”

“Pupuk dan racun untuk membasmi hama telah meracuni danau dan sungai.”

“Tak ada lagi pengetahuan kami tentang obat-obatan dari hutan, karena semua tanaman musnah.”

Pada akhirnya, pembaca akan menemukan cara interpretasinya sendiri. Dari beberapa kali pembacaan terkait Ketika Senja Jatuh di Nara adalah novel yang menarik untuk dibaca, meskipun tidak mudah. Banyak tragedi yang menghadirkan rasa merinding, bergidik, bahkan sesekali membuat sesak hingga menangis. Novel ini juga meninggalkan kesan menunggu karena cara pengakhirannya yang menggantung, terutama terkait nasib Debora bersama Jakub dan Aalona, yang tidak diberi kepastian secara tuntas sehingga membuka ruang tafsir bagi pembaca.

***


Penulis: Fadhilatun Nisa’ Adiilatun, mahasiswi Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Airlangga 

Penyunting: Melinda Sintawati

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama