![]() |
| Novel Korpus Uterus Karya Sasti Gotama Foto: Dokumentasi Pribadi Alya Zahra Sagita |
Lahir adalah sebuah
keterpaksaan, namun ditolak sejak dalam kandungan adalah sebentuk dari
pengasingan yang absolut. Ketetapan muram inilah yang melatari semesta Korpus
Uterus, novel karya Sasti Gotama yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka
Utama pada tahun 2025. Sasti dengan latar belakang seorang dokter lulusan
Universitas Brawijaya yang memilih jalur kepenulisan penuh waktu, secara subtil
memanfaatkan latar belakang medisnya untuk menguliti trauma reproduksi yang
paling sunyi.
Cerita bergerak
berpusat pada tokoh Panuluh, atau Luh, seorang anak lelaki yang lahir dengan
anomali fisik berupa telinga kembang kol. Luh, lahir dari rahim seorang
perempuan bernama Kalimah yang membawa luka sejarah teramat perih pasca 1965.
Kehadiran Luh sesungguhnya tidak pernah diingkan oleh Ibunya sendiri, karena
sebagai buah dari pemerkosaan tragedi masa lalu yang berulang kali gagal untuk
digugurkan. Hal tersebut, menjadi metafora konkret mengenai bagaimana tubuh
perempuan di negeri ini kerap kali menjadi medan tempur bagi kuasa-kuasa di
luar dirinya. Kalimah berusaha menolak kehamilan itu dengan meminum berbagai
jamu tradisional pemilas, namun janin di dalam perutnya tetap bertahan dengan
begitu bengal. Realitas ini memaparkan alienasi tubuh yang ekstrem; seorang
perempuan dipaksa memelihara kehidupan yang tidak pernah ia inginkan hanya demi
ketundukan pada situasi sosial dan aturan moral lingkungan yang abai terhadap
penderitaan korban.
Ketiadaan ruang aman
yang memadai akhirnya melahrikan keputusan-keputusan radikal yang berakar dari
keputusasaan. Manifestasi eksploitasi reproduksi tergambar gamblang lewat
tindakan tragis tokoh Yati, yang didera kebingungan dan ketakutan mendalam,
hingga memilih menggugurkan kandungannya secara mandiri menggunakan alat
seadanya berupa gantungan baju besi yang dimasukkan ke dalam rahim. Secara
dekonstruktif, kenekatan ekstrem Yati dapat dibaca sebagai bentuk protes
sekaligus usaha paling ujung untuk merebut kembali kendali atas tubuhnya
sendiri. Namun, pilihan kelam terebut sejatinya bukanlah cerminan kebebasan
yang merdeka. Tindakan berbahaya itu adalah puncak keputusasaan yang menganga
akibat tiadanya sistem pendukung sosial maupun ruang perlindungan hukum bagi
perempuan yang mengalami kehamilan tidak diinginkan.
Situasi eksistensial
para tokoh perempuan dalam novel kian terpuruk ketika lingkungannya justru ikut
menyudutkan mereka lewat penghakiman sepihak. Sasti Gotama menangkap fenomena
ini lewat penggambaran tokoh gadis yang memilih melompat dari jembatan demi
mengakhiri hidup. Ketika seorang korban kekerasan seksual justru dituding
masyarakat sebagai penyebab petaka, hak eksistensinya sebagai manusia otomatis
mati. Tekanan sosial yang bertubi-tubi memaksanya memikul rasa malu sendirian
tanpa diberi ruang untuk membela diri atau memulihkan trauma batinnya.
Kematian, pada akhirnya kerap kali keliru dianggap sebagai satu-satunya jalan
keluar untuk memutus rantai stigma publik yang menghakimi secara buta.
Kritik sosial yang
paling menohok dari Korpus Uterus sesungguhnya bersandar pada bagaimana
pranata hukum kerap kali beroperasi pada nasib Maryam, seorang anak perempuan
kelas 6 SD yang diancam tidak lulus ujian oleh seorang guru yang bernama Pak
Alim, agar mau menuruti nafsu bejat laki-laki tersebut. Ironisnya, saat kasus
kekerasan seksual ini mencuat ke permukaan, keadilan justru berbalik arah.
Alih-alih mendapatkan perlindungan khusus,
justru aparat menangkap anak di bawah umur tersebut. Melalui fragmen ini, Sasti
berhasil menelanjangi ironi sosial yang nyata: korban kekerasan seksual
dikriminalisasi dan dijadikan pesakitan, sementara pelaku yang memiliki relasi
kuasa dan posisi sosial tinggi dapat melenggang bebas tanpa tersentuh hukum.
Novel ini memiliki
keberanian yang luar biasa dalam mendobrak tabu dan menyuarakan otonomi tubuh
perempuan, struktur penceritaannya tidak lepas dari catatan kritis. Kehadiran
fragmen sejarah seperti peristiwa 1965 dan 1998 ada beberapa bagian agak
tumpang tindih dan kurang tereksplorasi secara proposional. Narasi sejarah
tersebut terkadang muncul seolah menjadi pemantik instan untuk menaikkan bobot politis
cerita. Andaikata porsi ketegangan sejarah ini dilebur lebih halus ke dalam
konflik psikologis antara Luh dan Kalimah, novel ini tentu akan terasa jauh
lebih utuh. Sasti juga tampaknya terlampau fokus menumpuk tragedi demi tragedi
pada fisik dan batin tokoh-tokohnya sehingga atsmofer novel terasa sangat pekat
dan penuh keputusasaan dari awal hingga akhir. Dominasi alur yang serba kelam
ini beresiko meneggelamkan pesan utama mengenai perjuangan merebut kemerdekaan
diri dan membuat pembaca pulang dengan rasa sesak yang menumpuk.
Sasti Gotama berhasil memberikan tamparan estetis terhadap moralitas masyarakat yang sering menerapkan standar ganda. Novel ini menjadi pengingat yang bergaung panjang di ruang publik: bahwa selama rahim perempuan masih dikontrol, dihakimi, dan dikriminalisasi oleh kuasa di luar dirinya sendiri, selama itu pula pembicaraan mengenai kemerdekaan kemanusiaan seutuhnya hanyalah sebuah mitos yang didebatkan di atas kertas.
Penulis: Alya Zahra Sagita, mahasiswi
Program Studi Sastra Indonesia Universitas Negeri Yogyakarta
Penyunting:
Melinda Sintawati
