Tentang duka, keterhubungan, dan makna yang tumbuh dari kehidupan sehari-hari
Peringatan konten: ulasan ini membahas tentang percobaan bunuh diri, kehilangan, dan krisis kesehatan mental.
Identitas Film:
Film ini diadaptasi dari novel A Man Called Ove karya Fredrik Backman dan menjadi adaptasi kedua setelah film Swedia berjudul sama yang dirilis pada 2015.
Otto Anderson menjalani hidup seperti sekumpulan aturan
yang harus dipatuhi. Setiap pagi ia berkeliling kompleks perumahan, memeriksa
kendaraan yang diparkir sembarangan, mengomeli tetangga, dan memastikan
lingkungan berjalan sesuai ketertiban yang ia tetapkan. Sikapnya membuat Otto
terlihat seperti pria tua pemarah yang sulit menerima perubahan.
Di balik rutinitas tersebut, Otto sedang berusaha
menghadapi hidup yang kehilangan arah. Kematian istrinya, Sonya, meninggalkan
kekosongan yang tidak mampu ia isi. Masa pensiun turut mengambil peran sosial
yang selama ini membentuk kesehariannya. Ia tidak lagi memiliki pekerjaan untuk
didatangi atau seseorang yang menunggunya pulang. Dalam keadaan itu, kematian
tampak seperti satu-satunya jalan untuk kembali bersama Sonya.
Saya menonton A Man Called Otto ketika sedang berada
dalam kondisi yang sangat buruk. Keinginan untuk mengakhiri hidup sempat
berubah menjadi tindakan yang membuat saya terluka. Saat melihat Otto melakukan
hal serupa, beberapa adegannya memicu kembali ingatan yang berusaha saya
hindari.
Namun, pengalaman menonton film ini tidak berhenti pada
rasa terpicu. Sedikit demi sedikit, kisah Otto memberi saya ruang untuk
membayangkan bahwa keinginan untuk mati dapat hadir bersamaan dengan bagian
kecil dalam diri yang masih mencari alasan untuk bertahan.
Perjalanan Otto dapat dibaca melalui pendekatan psikologi
eksistensial yang melihat makna hidup sebagai salah satu sumber kekuatan ketika
seseorang menghadapi krisis. Sebuah penelitian terhadap pasien yang mengalami
krisis psikologis menunjukkan bahwa kebermaknaan hidup berkaitan dengan
munculnya alasan yang lebih kuat untuk tetap bertahan. Alasan tersebut dapat
tumbuh dari hubungan dengan keluarga, tanggung jawab, serta keinginan untuk
menghadapi masalah yang belum selesai (Kalashnikova et al., 2022).
Makna itu perlahan kembali ke dalam kehidupan Otto melalui
tanggung jawab sederhana. Ia mengajari Marisol mengemudi, merawat seekor
kucing, membantu Malcolm, serta melindungi tetangganya dari perusahaan properti
yang ingin mengambil rumah mereka. Setiap orang datang dengan masalah yang
mengacaukan rencananya, sekaligus memberi Otto alasan untuk tetap terlibat
dalam kehidupan.
Hubungan Otto dengan Sonya juga dapat dibaca melalui konsep
continuing bonds. Konsep tersebut menjelaskan bahwa orang yang sedang
berduka masih dapat mempertahankan ikatan batin dengan seseorang yang telah
meninggal. Ikatan itu dapat hadir melalui kenangan, pemikiran, kebiasaan, atau
pengaruh positif yang masih dirasakan dalam kehidupan sehari-hari
(Martínez-Esquivel et al., 2023).
Pada awalnya, kenangan tentang Sonya menahan Otto di masa
lalu. Ia memandang kematian sebagai jalan untuk menyusul istrinya. Perlahan,
Otto mulai membawa kasih sayang Sonya ke dalam hubungannya dengan para
tetangga. Ia tidak melupakan Sonya. Ia meneruskan bagian dari kehidupan
istrinya melalui kepedulian yang selama ini tersembunyi di balik kemarahan.
Meski demikian, cara film menampilkan percobaan bunuh diri
tetap perlu dilihat secara kritis. Adegan tersebut muncul berulang kali sebagai
pola cerita dan berpotensi memicu penonton yang memiliki pengalaman serupa.
Film juga hanya memberikan sedikit ruang bagi bantuan profesional. Kehadiran
tetangga memang membantu Otto keluar dari keterasingan, tetapi krisis
psikologis yang berat tidak selalu dapat diselesaikan melalui kehangatan
komunitas saja.
Film ini juga sesekali terasa terlalu sentimental. Berbagai
konflik terselesaikan dengan cukup rapi, seolah kedatangan orang-orang baru
mampu memulihkan duka yang telah lama menetap. Kenyataannya, proses bertahan
hidup biasanya berlangsung lebih rumit dan tidak bergerak dalam garis yang
lurus.
Terlepas dari kekurangan tersebut, A Man Called Otto
berhasil menunjukkan bahwa hubungan sosial dapat mengembalikan seseorang pada
kehidupan sehari-hari. Otto tidak langsung memperoleh cita-cita baru.
Hari-harinya hanya kembali dipenuhi oleh orang-orang yang membutuhkan bantuan,
percakapan yang tidak direncanakan, dan tanggung jawab yang belum selesai.
Bagi saya, film ini tidak menghapus luka atau menyelesaikan
seluruh masalah. Film ini memberi jeda yang cukup panjang agar saya dapat
melewati satu hari lagi. Pada saat itu, jeda tersebut sudah sangat berarti.
Alasan untuk tetap hidup rupanya tidak selalu datang
sebagai harapan besar. Kadang-kadang, alasan itu hadir melalui seseorang yang
mengetuk pintu, seekor kucing yang tidak mau pergi, atau pekerjaan kecil yang
masih harus diselesaikan. Kehidupan Otto bergerak kembali melalui hal-hal
sederhana tersebut. Barangkali, sebagian dari kita juga bertahan dengan cara
yang sama.
***
Penulis: Melinda Sintawati
Referensi
Kalashnikova, O., Leontiev, D., Rasskazova, E., & Taranenko, O. (2022). Meaning of life as a resource for coping with psychological crisis: Comparisons of suicidal and non-suicidal patients. Frontiers in Psychology, 13, 957782. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2022.957782
Martínez-Esquivel, D., Muñoz-Rojas, D., & García-Hernández, A. M. (2023). Continuing bonds in men grieving a loved one. Revista Latino-Americana de Enfermagem, 31, e4011. https://doi.org/10.1590/1518-8345.6753.4010