Alasan-Alasan Kecil untuk Tetap Hidup dalam A Man Called Otto

Tentang duka, keterhubungan, dan makna yang tumbuh dari kehidupan sehari-hari


Tom Hanks in A Man Called Otto (2022)

Peringatan konten: ulasan ini membahas tentang percobaan bunuh diri, kehilangan, dan krisis kesehatan mental.

Identitas Film:

Judul: A Man Called Otto
Tahun rilis: 2022
Sutradara: Marc Forster
Penulis skenario: David Magee
Pemeran: Tom Hanks, Mariana Treviño, Rachel Keller, dan Manuel Garcia-Rulfo
Genre: Drama komedi

Film ini diadaptasi dari novel A Man Called Ove karya Fredrik Backman dan menjadi adaptasi kedua setelah film Swedia berjudul sama yang dirilis pada 2015.


Otto Anderson menjalani hidup seperti sekumpulan aturan yang harus dipatuhi. Setiap pagi ia berkeliling kompleks perumahan, memeriksa kendaraan yang diparkir sembarangan, mengomeli tetangga, dan memastikan lingkungan berjalan sesuai ketertiban yang ia tetapkan. Sikapnya membuat Otto terlihat seperti pria tua pemarah yang sulit menerima perubahan.

Di balik rutinitas tersebut, Otto sedang berusaha menghadapi hidup yang kehilangan arah. Kematian istrinya, Sonya, meninggalkan kekosongan yang tidak mampu ia isi. Masa pensiun turut mengambil peran sosial yang selama ini membentuk kesehariannya. Ia tidak lagi memiliki pekerjaan untuk didatangi atau seseorang yang menunggunya pulang. Dalam keadaan itu, kematian tampak seperti satu-satunya jalan untuk kembali bersama Sonya.

Saya menonton A Man Called Otto ketika sedang berada dalam kondisi yang sangat buruk. Keinginan untuk mengakhiri hidup sempat berubah menjadi tindakan yang membuat saya terluka. Saat melihat Otto melakukan hal serupa, beberapa adegannya memicu kembali ingatan yang berusaha saya hindari.

Namun, pengalaman menonton film ini tidak berhenti pada rasa terpicu. Sedikit demi sedikit, kisah Otto memberi saya ruang untuk membayangkan bahwa keinginan untuk mati dapat hadir bersamaan dengan bagian kecil dalam diri yang masih mencari alasan untuk bertahan.

Perjalanan Otto dapat dibaca melalui pendekatan psikologi eksistensial yang melihat makna hidup sebagai salah satu sumber kekuatan ketika seseorang menghadapi krisis. Sebuah penelitian terhadap pasien yang mengalami krisis psikologis menunjukkan bahwa kebermaknaan hidup berkaitan dengan munculnya alasan yang lebih kuat untuk tetap bertahan. Alasan tersebut dapat tumbuh dari hubungan dengan keluarga, tanggung jawab, serta keinginan untuk menghadapi masalah yang belum selesai (Kalashnikova et al., 2022).

Makna itu perlahan kembali ke dalam kehidupan Otto melalui tanggung jawab sederhana. Ia mengajari Marisol mengemudi, merawat seekor kucing, membantu Malcolm, serta melindungi tetangganya dari perusahaan properti yang ingin mengambil rumah mereka. Setiap orang datang dengan masalah yang mengacaukan rencananya, sekaligus memberi Otto alasan untuk tetap terlibat dalam kehidupan.

Hubungan Otto dengan Sonya juga dapat dibaca melalui konsep continuing bonds. Konsep tersebut menjelaskan bahwa orang yang sedang berduka masih dapat mempertahankan ikatan batin dengan seseorang yang telah meninggal. Ikatan itu dapat hadir melalui kenangan, pemikiran, kebiasaan, atau pengaruh positif yang masih dirasakan dalam kehidupan sehari-hari (Martínez-Esquivel et al., 2023).

Pada awalnya, kenangan tentang Sonya menahan Otto di masa lalu. Ia memandang kematian sebagai jalan untuk menyusul istrinya. Perlahan, Otto mulai membawa kasih sayang Sonya ke dalam hubungannya dengan para tetangga. Ia tidak melupakan Sonya. Ia meneruskan bagian dari kehidupan istrinya melalui kepedulian yang selama ini tersembunyi di balik kemarahan.

Meski demikian, cara film menampilkan percobaan bunuh diri tetap perlu dilihat secara kritis. Adegan tersebut muncul berulang kali sebagai pola cerita dan berpotensi memicu penonton yang memiliki pengalaman serupa. Film juga hanya memberikan sedikit ruang bagi bantuan profesional. Kehadiran tetangga memang membantu Otto keluar dari keterasingan, tetapi krisis psikologis yang berat tidak selalu dapat diselesaikan melalui kehangatan komunitas saja.

Film ini juga sesekali terasa terlalu sentimental. Berbagai konflik terselesaikan dengan cukup rapi, seolah kedatangan orang-orang baru mampu memulihkan duka yang telah lama menetap. Kenyataannya, proses bertahan hidup biasanya berlangsung lebih rumit dan tidak bergerak dalam garis yang lurus.

Terlepas dari kekurangan tersebut, A Man Called Otto berhasil menunjukkan bahwa hubungan sosial dapat mengembalikan seseorang pada kehidupan sehari-hari. Otto tidak langsung memperoleh cita-cita baru. Hari-harinya hanya kembali dipenuhi oleh orang-orang yang membutuhkan bantuan, percakapan yang tidak direncanakan, dan tanggung jawab yang belum selesai.

Bagi saya, film ini tidak menghapus luka atau menyelesaikan seluruh masalah. Film ini memberi jeda yang cukup panjang agar saya dapat melewati satu hari lagi. Pada saat itu, jeda tersebut sudah sangat berarti.

Alasan untuk tetap hidup rupanya tidak selalu datang sebagai harapan besar. Kadang-kadang, alasan itu hadir melalui seseorang yang mengetuk pintu, seekor kucing yang tidak mau pergi, atau pekerjaan kecil yang masih harus diselesaikan. Kehidupan Otto bergerak kembali melalui hal-hal sederhana tersebut. Barangkali, sebagian dari kita juga bertahan dengan cara yang sama.

***

Penulis: Melinda Sintawati


Referensi

Kalashnikova, O., Leontiev, D., Rasskazova, E., & Taranenko, O. (2022). Meaning of life as a resource for coping with psychological crisis: Comparisons of suicidal and non-suicidal patients. Frontiers in Psychology, 13, 957782. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2022.957782

Martínez-Esquivel, D., Muñoz-Rojas, D., & García-Hernández, A. M. (2023). Continuing bonds in men grieving a loved one. Revista Latino-Americana de Enfermagem, 31, e4011. https://doi.org/10.1590/1518-8345.6753.4010


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama