| Novel Soraya karya Iin Fariani |
Novel Soraya karya Iin
Farliani mengangkat tema besar didikan toksik maskulinitas yang muncul dalam
keluarga. Didikan sang Ayah terhadap Raya yang menjadi akar dari persoalan
utama cerita, yang kemudian mendorong tokoh perempuan, Sora—adik Raya—untuk
memosisikan dirinya di antara dua laki-laki dengan karakter yang berbeda.
Melalui para tokohnya, termasuk Danna sebagai teman dekat Sora, novel ini menampilkan
perbandingan antara dua sifat yang bisa dimiliki oleh laki-laki.
Secara umum, laki-laki kerap
diasosiasikan dengan sifat maskulin yang mengarah pada sosok yang tegas, kuat,
dan berjiwa pemimpin. Sementara sifat feminin biasanya lebih umum dimiliki oleh
perempuan yang mengarah pada sosok yang kelembutan, kehangatan, dan empati.
Dalam novel Soraya, Farliani mendefinisikan sifat feminin sebagai
perilaku yang hangat dan penuh kasih sayang. Dari sudut pandang tersebut,
laki-laki yang memiliki sifat feminin masih dianggap sebagai pengecualian, atau
setidaknya itulah citra yang selama ini dibentuk oleh masyarakat. Padahal, pada
kenyataannya, kedua sifat tersebut bisa dimiliki oleh siapa pun tanpa
terkecuali. Konflik utama dari cerita ini berpusat pada bagaimana toksik
maskulinitas yang ditanamkan sang ayah kepada Raya meninggalkan dampak
psikologis yang berat, sekaligus menjadi kontras dengan sifat feminin yang
hadir pada tokoh Danna.
Raya, sebagai anak laki-laki dalam
keluarga itu, mendapatkan didikan keras dari sang ayah setelah diberhentikan
dari militer. Sang Ayah meyakini bahwa
seorang anak laki-laki harus menjadi laki-laki sejati—dan keyakinan itu ia
terjemahkan melalui tekanan dan kekerasan. Akibatnya, kondisi psikologis Raya
semakin memburuk hingga akhirnya ia harus dirawat di rumah sakit jiwa. Sora pun
mulai menyadari bahwa didikan dari ayahnya selama ini merupakan bentuk nyata
dari toksik maskulinitas. Hal itu terlihat dari cara Raya merespons dunia
sekitarnya. Ia seperti mati rasa, bahkan ketika harus menghadapi kepergian sang
ibu. Kesedihan yang dirasakannya dipendam sedalam mungkin, hingga yang tersisa
di permukaan hanyalah wajah keras dan kaku. Kondisi Raya semakin buruk seiring
ia beranjak dewasa, sampai akhirnya kesehatan mentalnya tak lagi bisa
diabaikan.
Di sisi lain, Sora memiliki teman
laki-laki yang telah dekat dengannya sejak kecil, bernama Danna. Pertemanannya
dengan Danna membuka cara pandang Sora yang selama ini belum pernah ia
perhatikan. Perbedaan itu mulai terasa ketika mulai mengamati karakter Danna secara lebih saksama. Jika
Raya merupakan sosok yang keras dan kuat, Danna merupakan sosok yang hangat dan
penuh kelembutan—dan hal ini membuatnya berpikir bahwa Danna memiliki sifat
feminin.
Novel ini menghadirkan representasi
maskulinitas melalui tokoh Raya secara langsung. Didikan keras sang Ayah
membentuk Raya menjadi pribadi yang dingin dan kaku. Hal tersebut terlihat
jelas dalam kutipan berikut, “Baginya, apa yang dilakukannya terhadap Raya
adalah sesuatu yang wajar sebab usia Raya sudah sembilan tahun dan sebagai anak
laki-laki dia harus terbiasa menerima semua hukuman fisik betapapun kecil
pelanggaran yang dia perbuat.” Frasa, “sebagai anak laki-laki” dan
“menerima semua hukuman fisik” mengungkapkan bagaimana maskulinitas yang
ditanamkan sang ayah bukan sekadar soal ketegasan, melainkan juga kekerasan
yang dinormalisasi. Bagian ini menjadi salah satu momen paling kuat dalam
novel, di mana Iin Farliani berhasil menampilkan wajah toksik maskulinitas
secara langsung.
Berbeda dengan Raya, Danna digambarkan
sebagai sosok yang berlawanan. Kelembutannya hadir bukan sebagai kekurangan,
melainkan sebagai bagian dari identitasnya. Sora merasakan kontras itu dan
mulai membandingkannya. Dalam novel, sifat berbeda Danna digambarkan melalui
kutipan berikut, “Di luar semua kekuatan itu, Danna merasa cenderung rapuh
dibandingkan dengan kebanyakan teman-teman laki-lakinya. Kerapuhan yang bisa
membuatnya tiba-tiba menangis tanpa bisa mengemukakan alasannya dengan jelas.”
Kata “rapuh” dan “menangis” menjadi penanda utama yang membedakan Danna dari
Raya. Menariknya, Iin Farliani tidak secara eksplisit menyebut sifat Danna sebagai
feminin, justru Sora sebagai tokoh perempuan yang mengklasifikasikannya
demikian
Posisi Sora di antara dua kali-laki
yang kontras itu semakin rumit ketika ia menyadari berapa jauh jarak yang
terbentang antara dirinya dan sang ayah. Sosok ayah yang lebih berperan dalam
membentuk Raya sebagai sosok maskulin justru absen sebagai figur yang hangat
bagi Sora. Banyak pertanyaan yang tumbuh dalam benak Sora ketika ia menghadapi
dua karakter yang begitu berbeda tersebut. Seperti yang tergambar dalam kutipan,
“Ada jarak yang terbentang lebar antara ia dan sang ayah sehingga ia merasa
tidak yakin apakah benar-benar pernah menerima kehangatan darinya.” Kutipan
ini memperjelas bagaimana ketidakhadiran emosional sang Ayah turut membentuk
cara Sora memandang kedua laki-laki di sekitarnya. Meskipun demikian, bagian
ini terasa kurang dikembangkan; pemaknaan atas posisi Sora masih terbilang
samar dan berpotensi membingungkan pembaca yang mengharapkan kejelasan lebih.
Kondisi keluarga Raya dan Sora pun
tidak kalah rumit. Hubungan kedua orang tuanya kerap diwarnai pertengkaran,
yang secara psikologis menekan keduanya. Raya, yang diajarkan untuk menjadi
maskulin, tidak jarang menjadi sasaran pelampiasan kemarahan sang Ayah. Sebagai
respons terhadap situasi yang mengancam itu, Raya dan Sora bersembunyi di
kolong tempat tidur. “Begitulah cara dia mempertahankan diri, bersembunyi di
kolong, sampai ia yakin tak ada lagi keributan yang selalu terjadi di ruangan
ini.” Kutipan ini menggambarkan mekanisme pertahanan diri yang dilakukan
tokoh dalam menghadapi tekanan dan menjadi sebuah gambaran psikologis yang
realistis dan menyentuh. Meskipun narasi psikologis dalam novel ini tidak
selalu hadir secara eksplisit, detail seperti ini—yang muncul sejak pembuka
cerita—memberi sinyal kuat bahwa dimensi psikologi tokoh menjadi salah satu
fondasi penting dalam novel ini.
Dampak dari toksik maskulinitas itu
semakin nyata setelah kematian sang ibu. Raya tumbuh menjadi sosok yang keras,
kasar, dan tidak mampu mengungkapkan kesedihannya yang membuat dirinya semakin
terperangkap dalam kebisuan emosional. “Perasaan itu menenggelamkan Raya ke
dalam kesedihan yang berlarut-larut. Kesedihan yang kemudian ditekuk, dilipat,
disuruh sampai ke dasar, hingga yang muncul ke permukaan hanya ekspresi kaku dan
keras yang sulit diterka apakah ekspresi itu masih menyimpan gerak emosi.” Kutipan
ini dengan kuat menggambarkan konflik batin Raya yang memiliki perasaan begitu
dalam, tetapi tidak dapat diungkapkan. Iin Farliani sangat piawai dalam urusan
deskripsi, meskipun frasa penutup pada kutipan ini sedikit membuat pembaca ragu
tentang kondisi emosional Raya yang sesungguhnya, apakah ia benar-benar mati
rasa atau hanya tidak tahu cara mengungkapkannya.
Secara keseluruhan, novel ini
berhasil menggambarkan toksik maskulinitas dan perbandingan antara sifat
maskulin dan feminin pada laki-laki yang cukup baik. Namun, penggambaran sifat
feminin terasa begitu sempit karena hanya berfokus pada kelembutan dan kebaikan
hati, padahal pemahaman tentang femininitas jauh lebih luas dari itu. Berbagai
penelitian, menunjukkan bahwa sifat feminin pada laki-laki juga dapat tercermin
dari faktor lingkungan, termasuk perhatian pada penampilan (Novianti dkk., 2025).
Pandangan ini sejalan dengan konsep Gender
Performativity Judith Butler, yang menyatakan bahwa gender tidak
semata-mata direproduksi melalui ucapan yang diulang-ulang, melainkan juga
melalui tindakan sehari-hari: cara berpakaian, bahasa tubuh, hingga ruang
sosial yang dipilih (Szorenyi, 2023). Dengan kerangka tersebut, penggambaran
femininitas dalam novel ini terasa belum sepenuhnya mengeksplorasi kekayaan
konsep yang sebenarnya tersedia.
Dari sisi teknis penulisan,
penggunaan sudut pandang dalam novel ini cukup ambigu. Terdapat dua sosok yang tampaknya menyaksikan
setiap kejadian secara langsung, namun tidak diketahui identitasnya. Sudut
pandang ini tidak terasa seperti orang ketiga pada umumnya, karena adanya
penggunaan kata “kami” yang memberi kesan bahwa sang pencerita juga berada di
dalam cerita, namun tak terlihat—seolah hanya bayangan. Meski begitu, teknik
narasi yang terasa ambigu ini bisa juga dibaca sebagai strategi naratif yang
disengaja untuk memperkuat nuansa psikologis dalam cerita. Walaupun sempat
membingungkan saat pertama membacanya, keunikan sudut pandang ini tidak sampai
merusak estetika keseluruhan novel.
Dari sisi alur, Iin Farliani
membangunnya dengan menarik. Cerita tidak berjalan linier, melainkan diselingi
kilas balik yang disajikan dengan mulus—hampir tanpa penanda waktu yang
eksplisit. Di satu sisi, ini menciptakan pengalaman membaca yang mengalir. Di
sisi lain, ketidakjelasan batas antara masa kini dan masa lalu membuat pembaca
perlu berkonsentrasi lebih untuk memahami konteks setiap adegan.
Novel Soraya menyoroti dengan
tajam dampak toksik maskulinitas dalam keluarga, khususnya melalui sosok ayah
yang mendidik anaknya dengan kekerasan. Raya tumbuh menjadi pribadi yang kaku
dan dingin serta mengalami gangguan psikologis. Sementara Danna hadir sebagai
representasi bahwa sifat feminin pada laki-laki bukanlah kelemahan. Sora,
sebagai penghubung di antara keduanya, menjadi tokoh yang memperlihatkan
kontras itu dengan cara yang subtil namun bermakna.
Secara keseluruhan, novel ini
mengajak pembaca untuk memahami bahwa sifat manusia tidak seharusnya dibatasi
oleh stereotip gender. Maskulinitas yang dipaksakan justru dapat menghancurkan
mental, sementara femininitas pada laki-laki adalah bagian dari kemanusiaan
yang perlu diterima, bukan ditolak. Novel ini menegaskan pentingnya pola asuh
yang sehat dan seimbang agar anak tidak terjebak dalam trauma akibat kekerasan
dalam keluarga. Meski menyimpan beberapa kelemahan—terutama dalam ambiguitas
sudut pandang dan penanda waktu— novel ini tetap berhasil mengangkat isu sosial
yang relevan dan memberikan kritik yang berarti terhadap konstruksi gender
serta kesehatan mental dalam lingkup keluarga.
***
Penulis: Haura Najwa Afifah,
Mahasiwi Program Studi Sastra Indonesia Universitas Negeri Yogyakarta
Penyunting: Melinda Sintawati
Referensi:
Novianti, Sinring, A., & Amirullah, M. (2025). Perilaku laki-laki feminin, dampak, serta penanganannya: Studi kasus di SMPN 33 Makassar. Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 10(4), 260–268.
Szorenyi, A. (2023, 3 Juni). Judith Butler: Memahami gagasan filsafat bahwa gender tidak biologis, tapi performatif. The Conversation. https://theconversation.com/judith-butler-memahami-gagasan-filsafat-bahwa-gender-tidak-biologis-tapi-performatif-206760