| Lukisan “Sophia” Karya M. Fadhlil Abdi |
Dalam salah satu surat terkenalnya, Vincent Van Gogh
pernah menulis bahwa seni dibuat untuk menghibur mereka yang rusak oleh
kehidupan dan keheningan dalam sebuah kanvas berbicara lebih keras daripada
kata-kata. Pernyataan itu hidup kembali ketika saya berada di keheningan ruang
galeri Kiniko Art, Yogyakarta. Dalam pameran seni rupa bertajuk “Suluh
Bangsa: Menjaga Suluh, Merawat Bangsa” yang digelar pada 23 Mei sampai 7
Juni 2026. Pameran ini dibuat untuk ruang refleksi warisan pemikiran sang guru
bangsa, Buya Ahmad Syafii Maarif. Setiap karya yang dipajang termasuk lukisan
berjudul “Sophia” karya M. Fadhlil Abdi, menjadi sebuah ajakan penikmat seni
untuk mempertanyakan keberadaan kebijaksanaan serta kefanaan manusia di tengah
dunia yang kian berisik.
Esai ini bertujuan untuk mengapresiasi dan membedah lebih
mendalam salah satu karya dalam pameran tersebut yaitu “Sophia”. Apresiasi ini
tentunya melalui penerapan lima tahapan analisis seni lukis yaitu pengamatan
estetis, pendalaman konteks, analisis formal, interpretasi, serta evaluasi. Diperkuat dengan tiga teori besar
estetika seni lukis mimesis, ekspresi, dan form agar dapat mengurai dan
menyelami dalamnya makna yang disusun indah oleh sang seniman di balik pekat
kanvasnya.
Pekatnya Gelap Dalam Sosok Sophia
Saya merasakan atmosfer asing yang sepi namun memancarkan
tenang saat berkunjung. Kiniko Art yang terletak di Kasihan, Bantul seolah
mengisolasi dirinya dari keriuhan dan menciptakan ruang sembuh yang eksklusif
bagi siapa saja yang berkunjung. Ketika melangkah masuk mata saya disambut pendar
lampu galeri yang hangat dan memberikan rasa nyaman yang merangkul jiwa. Namun,
saya terusik oleh satu kanvas di sudut ruangan.
Di sana, di antara deretan karya lain, berdiri sebuah
lukisan berjudul “Sophia” karya M. Fadhlil Abdi. Lukisan ini langsung menyedot
perhatian saya sebab penampilannya begitu kontras. Gelap, misterius, dan
diselimuti aura muram yang pekat. Berbeda dari lukisan lain yang bercorak
pastel dan terang, Sophia justru hadir menjerat saya lewat keheningan yang
mencekam. Memiliki susunan objek berupa lilin menyala, buku terbuka, pena bulu,
tinta, cermin oval, bola reflektif, gelas logam terbalik, apel terikat pita,
bunga mawar layu, serta kain berwarna pucat yang menutupi meja seperti
permukaan kulit tubuh.
Sosok Dibalik Kisah Sophia
Untuk memaknai lukisan tersebut kita perlu mengenal siapa M.
Fadhlil Abdi yang menjadi sosok dibalik guratan halus lukisan Sophia. Lahir di
tanah Sumatera tepatnya di Palembang pada tahun 1987, kemudian menjalani
pendidikan Seni Rupa di Institut Seni Indonesia (ISI), Yogyakarta. Fadhlil
merupakan seniman muda yang aktif mengikuti pameran sejak tahun 2023 hingga
saat ini. Ia aktif berkarya di beberapa ruang seni di Yogyakarta hingga Art
Jakarta.
Karya ini juga terhubung dengan unsur estetika Timur yaitu
Wabi-Sabi dalam tradisi lukis Jepang. Keindahan dalam sebuah ketidaksempurnaan
tertuang dalam gambaran meja yang begitu berantakan tak tersusun rapi, ditambah
gelas dan air yang jatuh mengalir. Ketidakkekalan tergambar pada bunga mawar
yang layu dan bukan sebuah bunga yang segar. Lilin yang menyala pada cermin
padahal dalam kenyataannya ia sudah mati dan apel yang terkelupas menandakan
bahwa waktu telah merenggut keutuhannya.
Pameran ini lahir dari kondisi ruang publik yang tidak lagi
menyediakan figur yang bisa dipercaya, dan kepercayaan masyarakat banyak
bertumpu pada konstruksi citra digital daripada pengalaman nyata. Sophia
berasal dari bahasa Yunani yang berarti kebijaksanaan, namun kebijaksanaan yang dilukis
oleh Fadhlil lebih diam, menunggu, dan merenung di tepi kefanaan. Ia bertanya
melalui kesunyian, apakah kebijaksanaan itu masih menyala, seperti lilin kecil
yang belum padam di tengah kegelapan kanvas.
Tubuh Estetika Dalam Sophia
Analisis formal membantu kita untuk menelusuri unsur-unsur
visual secara lebih sistematis melalui tiga teori besar estetika seni lukis.
Lensa Mimesis Melihat Peniruan Yang Sempurna
Sophia dilukis dengan teknik mimesis (peniruan alam) yang
sangat presisi. Fadhlil Abdi tidak menyajikan goresan abstrak, melainkan
merepresentasikan objek benda mati yang sama dengan dunia nyata. Digarap secara
realistis melalui gradasi halus, refleksi cahaya, serta tekstur material yang
presisi. Terlihat dari lembaran halaman yang detail pada tumpukan buku. Bola
reflektif yang merefleksikan sebuah ruangan yang terlihat buram. Hingga
tumpahan air pada cangkir digarap dengan ketelitian tinggi sampai menyerupai
aslinya. Melalui mimesis, mata pengamat didorong secara visual untuk meyakini
keadaan fisik dari objek benda tersebut sebelum menuju pemaknaan batinnya.
Goresan Yang Memiliki Perasaan
Meskipun menggunakan objek benda mati, setiap goresannya
justru memiliki perasaan yang bergejolak. Lukisan ini menciptakan suasana yang
kuat melalui penggunaan teknik chiaroscuro (kontras gelap dan terang).
Keberadaan buku yang terbuka, pena, dan tinta adalah gambaran dari aktivitas
pengetahuan, berdampingan dengan bunga layu, gelas jatuh, serta kulit buah yang
terbuka sehingga menciptakan simbol kefanaan dan kerusakan yang berlangsung
pelan. Bola reflektif dibagian tengah menggambarkan pantulan ruang yang kabur
adalah sebuah penglihatan dari suatu sudut pandang.
Setiap objek diletakan secara seimbang, tenang dan gelap
seolah setiap elemen sedang bertransformasi dalam perubahan bentuk dan pendalaman makna.
Pelukis menjelaskan bahwa, kita seperti menunggu kebijaksanaan yang muncul dari
kesadaran atas keterbatasan yang dimiliki tubuh, waktu, ingatan, serta
ketidakmampuan manusia untuk dapat mempertahankan keabadian.
Bentuk Yang Bersatu Dalam Visual
Melalui teori bentuk (form), lukisan Sophia
menunjukkan komposisi visual yang tertib dan struktural. Batas setiap objek
tidak digores dengan sapuan kaku melainkan dibentuk secara lembut dengan
gradasi warna dan transisi pencahayaan dari terang ke gelap. Penataan objek di
kanvas menggunakan prinsip keseimbangan walau objek dibuat terlihat berantakan
namun tetap menciptakan kesatuan yang utuh. Kehadiran bola reflektif
diposisikan di tengah berfungsi sebagai pusat perhatian yang mengikat mata.
Hubungan antar bidang mulai dari lengkungan cermin serta lilin yang menyala
pada refleksi kaca menciptakan unsur magis, garis-garis tipis pada halaman
tumpukan buku, hingga kelembutan bentuk mawar menciptakan ritme yang tenang.
Bentuk yang rapi dan dilingkupi kegelapan mampu membangun struktur formal yang
kokoh, seimbang, dan mengendap indah dalam kegelapan.
Membaca Tanda Yang Penuh Makna
Interpretasi mengajak pengamat untuk memasuki makna yang
lebih luas dalam kehidupan. Lukisan Sophia ialah wujud genre lukisan benda mati
(still-life) yang berkembang pesat di Belanda abad ke-17, yang
menggambarkan kefanaan hidup dan kematian. Lilin yang menyala namun terus
meleleh, tumpukan buku tua, cermin oval, dan bunga mawar yang mulai layu bukan
hanya pelengkap estetis namun menjadi metafora waktu yang terus terkikis.
Lilin menjadi sebuah simbol usia serta napas manusia yang
selalu memiliki batas yaitu kematian. Mawar layu memberitahu kita bahwa
keindahan dunia pasti suatu saat nanti akan meredup. Sedangkan tumpukan buku yang terbuka adalah
lambang kehidupan manusia yang selalu belajar dan mencari pengetahuan.
Kehadiran cermin oval di belakang lilin menjadi alat refleksi diri seperti
sebuah ajakan bagi pengamat untuk bercermin dan menyadari posisi diri di
hadapan dunia yang fana.
Bola reflektif menjadi gambaran masa depan yang masih buram.
Ditengah meja yang tenang nyatanya masih ada cangkir dan air yang dapat tumpah
merupakan gambaran di tengah ketenangan terdapat sebuah guncangan. Sophia
menjadi penegas bahwa kebijaksanaan tertinggi seorang manusia tumbuh ketika ia
mampu menyadari batas-batas umurnya di dunia.
Posisi Sophia Di Dunia Seni
Lukisan Sophia milik M. Fadhlil Abdi ini adalah bentuk
keberhasilan seni lukis still life yang bergaya klasik. Ditengah
maraknya karya seni yang eksperimental dan penuh teknologi, Fadhlil Abdi mampu
menghidupkan karya visual yang tenang. Melalui Sophia, Fadhlil membuktikan
bahwa keheningan dari objek mati justru mampu memberikan daya kritik yang lebih
tajam ke dalam batin manusia modern yang mengalami krisis kepercayaan dan
pencarian kebijaksanaan.
Kemunculan karya ini dalam pameran Suluh Bangsa menjadi
sangat penting dan berarti. Pelukis mampu merepresentasikan keteladanan Buya
Ahmad Syafii Maarif melalui visual benda mati yang gelap namun bermakna. Sophia
menjadi bentuk pesan yang kritis namun dibalut dengan visual yang memanjakan
ditengah masyarakat modern. Pelukis mampu mengingatkan kita bahwa di tengah
riuhnya globalisasi dan kehidupan yang fana ini manusia harus tetap ingat akan
kesadaran dan memberi batas-batas pada kefanaan.
Kesadaran Sebagai Cara Memahami
Melihat dan mengapresiasi Lukisan Sophia adalah sebuah
tindakan kesadaran untuk memahami makna hidup. Kita diajak untuk sadar bahwa
dalam kehidupan kita harus tetap memiliki batas dan kebijaksanaan. Melalui lima
tahap analisis tersebut kita merangkum bahwa karya Sophia ini tidak hanya indah
namun membawa kita pada refleksi kehidupan.
Dengan tiga teori besar estetika seni lukis kita menyadari
bahwa tidak semua teori dapat cukup merangkum semua makna sebuah karya yang tak
ada habisnya dibuat. Dari tiga teori tersebut kita diajak untuk melihat,
memahami dan merasakannya langsung dalam hidup, hingga akhirnya kita menyadari
bahwa sebuah kanvas dapat berbicara lebih keras daripada kata-kata.
***
Penulis: Agustina Canthika Dewi, mahasiswi Program Studi Sastra Indonesia Universitas Sanata
Dharma Yogyakarta
Penyunting:
Widya Bunga Aprilia
Sumber pustaka :
https://drive.google.com/file/d/1l8OlWS_P1c9XEkskqMBOGG04JWoI_jiZ/view?usp=drivesdk