| Kumpulan Cerita Mei Salon Karya Iin Farliani |
Relasi
antarindividu begitu pun dengan ruang hidupnya melibatkan urusan etika dan
moral yang pada akhirnya berujung pada adanya desakan untuk berkuasa atau
menguasai. Pun selain itu, ada kekuasaan yang tidak perlu berteriak untuk
dipenuhi. Ia bekerja secara senyap, menyusup ke dalam pikiran kita, merasakan,
hingga terbiasa, hingga yang tertindas tidak lagi merasa diitindas. Gramsci
menyebut hal tersebut sebagai hegemoni. Gramsci menyebut itu sebgai bentuk
dominasi yang berjalan bukan semata lewat paksaan, namun juga melalui
persetujuan yang dapat dikonstruksi budaya.
Sementara
itu, konstruksi gender memosisikan laki-laki sebagai tokoh yang mendominasi,
sementara perempuan menerima posisi subordinatnya karena menganggap hal
tersebut sebagai sesuatu yang alamiah dan memang sudah sepatutnya, hal tersebut
bukan karena paksaan melainkan keyakinan yang terlanjur diturunkan demikian
dari generasi ke generasi. Konstruksi inilah yang menjadikan dominasi begitu
langgeng mengikat perempuan. Dominasi tersebut terasa sebagai kewajaran karena
telah melekat pada budaya.
Kumpulan
Cerita Mei Salon dapat kita ambil sebagai salah satu bentuk ruang
membaca dinamika ini, Cerpen yang Iin Firliani buat menempatkan banyak tokoh
sebagai pusat cerita yang memiliki peranan penting sendiri di dalam cerpen.
Namun, dibalik gestur tersebut, tersimpan pola yang patut dicermati lebih jauh.
Beberapa cerpennya secara tidak langsung merepresentasikan langgengnya dominasi
laki-laki yang mengakar kuat membungkus perempuan dalam relasi berpasangan. “Suatu Hari di Sekitar Tebing-Tebing Putih”
dan “Dia Mungkin Tidak Jadi Berlayar,
Menangkap Ikan-Ikan” merupakan dua cerpen yang memuat hegemoni dalam
konteksnya berpasangan.
Dalam
cerpen “Suatu Hari di Sekitar
Tebing-Tebing Putih”, dominasi laki-laki diperlihatkan secra halus.
Tokoh Kristo dalam cerpen menempatkan dirinya sebagai pihak yang tahu, pihak
yang rasional dan dapat diandalkan, sementara tokoh Desi diposisikan sebagai
pihak yang rentan, mudah panik, dan memerlukan bimbingan, Hal ini dapat dilihat
dalam kutipannya sebagai berikut.
“Mereka hanya berburu anjing. Kau dengar? B-e-r-b-u-r-u a-n-j-i-n-g. Atau, katakanalah begini, mereka hanya ingin menangkap anjing. Sesederhana itu, Desi.”
Cara
Kristo mengeja kata seolah berbicara kepada anak kecil bukan sekedar ekspresi
frustasi, melainkan cerminan relasi kuasa. Laki-laki mengambil peran sebagai
pihak yang menenangkan dan meluruskan, sementara perempuan menjadi subjek yang
perlu ditenangkan dan diluruskan.
Hegemoni
lebih eksplisit tampak dalam cerpen “Dia
Mungkin Tidak Jadi Berlayar, Menangkap Ikan-ikan”. Di dalam cerpen
tersebut hegemoni bekerja secara gamblang, dimana tokoh Ray bukan hanya menentukan
dan mengarahkan kemana ia dan tokoh “Aku” sebagai pasangan pergi, namun juga menentukan
apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, termasuk dalam berempati kepada orang
lain. Hal ini dapat dilihat dalam kutipannya sebagai berikut.
“Kenapa kau berhenti lagi? Kali ini aku akan meninggalkanmu jika kamu tidak menurut,” teriak Ray.
Empati,
rasa ingin tahu, bahkan naluri kemanusiaan ditekan demi kepatuhan terhadap
kehendak laki-laki. Tokoh “Aku” dalam hal ini tidak hanya menerima dominasi
tersebut, tetapi juga tidak melawannya. Inilah Gambaran paling nyata dari
hegemoni yang berhasil meresap, dimana kepatuhan tidak lagi terasa seperti
keterpaksan, melainkan pilihan.
Dalam
hal ini, Iin Firliani tampaknya ingin mengangkat suara perempuan ke permukaan,
menjadikan pengalaman perempuan sebagai sesautu yang layak untuk diceritakan
dan diperhatikan. Namun di sisi lain, pola narasi yang berulang tentang
perempuan yang menderita justru berisiko mereproduksi citra yang ingin
dilawannya. Alih-alih memperlihatkan kompleksitas dan kekuatan perempuan,
cerita-cerita ini menempatkan perempuan kembali sebagai pihak yang pasrah yang
menempatkan perempuan sebagai pihak kedua yang harus menerima apa pun kondisi
mereka walau harus menjadi pihak yang merugi, yang bahkan kepatuhannya tidak ia
sadari menguasai tubuh dan pikiran.
Selain
isi dari cerpen, kita juga dapat memperhatikan dari sisi teknis penulisan. Plot
yang pendek dalam cerpen memang memberi ruang bagi pembaca untuk menafsirkan
sendiri kelanjutan cerita, namun hal itu dapat menjadi pedang bermata dua,
dimana ia dapat memberikan kesan “cerita abstrak” pada sebagian pembaca karena
akhir dari cerita yang “menggantung”. Sementara itu, eksplorasi banyak karakter
dalam cerpen juga menjadi catatan tersendiri, meski memberi beragam perspektif,
kedalaman masing-masing karakter menjadi taruhan dan pembaca juga sulit
membangun keterikatan emosional yang kuat dengan karakter dalam cerpen.
Terlepas
dari catatan tersebut, Mei Salon tetap menjadi bacaan yang relevan dan
layak diperbicangkan. Beberapa cerpennya mengingatkan kita bahwa kekuasaan
dapat menjadi berbahaya ketika datang bukan dengan kekerasan, melainkan dengan
senyum yang membuat perempuan mengangguk bukan karena takut, melainkan karena
sudah lama menganut keyakinan bahwa mengangguk dan patuh adalah pilihan yang
terbaik.
***
Penulis: Ajwah Khosa Amila Asyadid, mahasiswi Program Studi Sastra Indonesia Universitas Negeri Yogyakarta
Penyunting: Ayuk Wiji Safitri