Saatnya Generasi Digital Sadar Akan Krisis Lingkungan

A pile of trash dumped near city forest
Photo by Finlan Aldan on Unsplash


Kita hidup di zaman yang serba cepat. Apa pun bisa diakses dalam hitungan detik. Ingin tahu tentang tren? Tinggal buka sosial media. Ingin ikut kampanye global? Cukup tekan tombol share dan itu sudah dianggap sebagai bentuk kepedulian yang sah secara sosial. Generasi kita, yang tumbuh besar dengan layar di tangan, sebenarnya memiliki potensi luar biasa untuk menjaga kelestarian lingkungan melalui kreativitas, teknologi, dan aksi nyata. Tapi, benarkah begitu?

Bangun tidur, hal pertama yang kita cari bukan segelas air putih, melainkan handphone. Rutinitas berlanjut dengan ritual doom scrolling jempol terus-menerus menggulir layar. Satu video menampilkan Justin Bieber yang tampil di Coachella, lalu satu video berita tentang volume sampah di Indonesia yang terus menggunung tanpa solusi. Kita menghela napas sebentar, merenung, merasa sedih untuk bumi, lalu kita geser lagi ke video info harga tiket Coachella. Kita adalah generasi yang paling tahu kalau bumi sedang tidak baik-baik saja, tapi kita juga generasi yang paling jago melakukan skip pada kenyataan pahit itu.

Masalahnya, kita sering merasa sudah menjadi pahlawan lingkungan hanya karena sudah me-repost infografis tentang es kutub yang mencair. Padahal, ada dosa besar yang kita lakukan di balik layar hanphone yang kinclong itu yaitu sampah digital. Coba buka inbox email kamu. Ada berapa ribu pesan promo dari toko oranye atau hijau yang nggak pernah kamu baca tapi tetap kamu simpan? Ada berapa ribu foto selfie gagal di cloud storage yang sebenarnya cuma menuh-menuhin beban server? Setiap megabyte data yang kita simpan tanpa guna itu butuh energi listrik. Dan di negeri ini, listrik kita masih mayoritas hasil kerokan batu bara.

Krisis lingkungan bukan lagi isu yang jauh di kutub utara sana. Ia sudah ada di depan teras rumah. Menurut data United Nations Environment Programme, suhu global telah meningkat lebih dari 2,3°C dibandingkan era praindustri.  Kalau ada yang bilang krisis iklim itu cuma teori konspirasi, main-mainlah ke Pamulang. Di sini, matahari kayaknya punya dendam pribadi sama warga. Panasnya bukan lagi kategori sumuk atau gerah biasa, tapi sudah level simulasi neraka. Mau mandi tiga kali sehari pun nggak ngaruh, karena air di toren saja panasnya sudah kayak air rebusan.

Fenomena udara yang semakin panas dan banjir yang datang lebih sering adalah tanda bahwa lingkungan sedang tak baik-baik saja. Kita menanggapi panas ini dengan menyalakan AC ke suhu paling rendah, 16 derajat, biar berasa kayak lagi di Swiss. Padahal, semakin kita menggigil di dalam kamar, mesin AC di luar rumah makin membuang hawa panas ke atmosfer dan bikin tetangga makin kepanasan. Kita menyelesaikan masalah individu dengan menciptakan masalah global yang lebih besar.

Bicara soal lingkungan di Indonesia tentu tak lengkap tanpa membahas musuh bebuyutan kita, yaitu sampah. Saat ini, banyak komunitas hebat yang fokus pada pelestarian alam, seperti Trash Hero Indonesia atau Bye Bye Plastic Bags. Tapi apakah tugas menjaga lingkungan ini bisa diserahkan sepenuhnya kepada mereka? Jawabannya tentu tidak.

Kita bisa dengan mudah melewati iklan di YouTube, tapi kita nggak bisa melewati plastik yang kita buang hari ini. Plastik bungkus paket belanja online kita atau cup plastik kopi bakal tetap ada di bumi bahkan setelah kita meninggal nanti. Di sungai-sungai kita, sampah plastik sudah jadi pemandangan yang dianggap normal.

Kita tahu apa itu krisis lingkungan, kita paham dampaknya, bahkan kita bisa menyuarakannya di media sosial. Namun, kepedulian itu sering berhenti di layar. Kita hanya berkoar-koar ketika isu tersebut viral, tapi kemudian diam saat algoritma bergeser ke berita lain. Kita terbiasa mengonsumsi informasi dengan cepat, bereaksi cepat, lalu melupakan dengan cepat juga. Isu lingkungan jadi sekadar lewat di timeline, bukan sesuatu yang benar-benar dipikirkan secara mendalam. Kondisi ini muncul karena pola yang kita bentuk sendiri. Kita lebih takut ketinggalan tren (FOMO) daripada takut bumi hancur. Kita lebih panik kalau baterai HP sisa 1% daripada lihat suhu udara mencapai 38 derajat celsius.

Teknologi digital adalah pedang bermata dua. Ia bisa membuat kita sadar, tapi juga bisa membuat kita abai bahwa oksigen yang kita hirup itu datangnya dari pohon, bukan dari sinyal WiFi. Kita tidak butuh seribu orang yang melakukan gaya hidup ramah lingkungan dengan sempurna sampai mereka stres. Kita cuma butuh jutaan orang yang melakukannya dengan "berantakan" tapi konsisten.

Mulai dari yang paling kita anggap remeh, hapus email sampah, jangan ganti HP kalau cuma layarnya retak dikit, dan berhentilah membuang sampah sembarangan. Karena pada akhirnya, secanggih apa pun teknologi yang kita banggakan, kita tetap butuh air bersih untuk minum, bukan jumlah likes di postingan kampanye. Jangan sampai kita jadi generasi paling pintar secara digital, tapi paling tutup mata dalam menjaga satu-satunya rumah yang kita punya. Bumi ini nggak punya tombol restart, dan kalau rusak, kita nggak bisa lari ke toko untuk tukar tambah.

***

Penulis: Sheza Andriani, Mahasiswi Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Penyunting: Melinda Sintawati

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama