| Poster Film Pendek Kembali Pulang |
|
Judul Film |
Kembali
Pulang |
|
Alamat
Film |
|
|
Tahun |
2025 |
|
Produksi |
Wearing
Klamby |
|
Sutradara |
Debast
Jatin |
|
Penulis Skenario |
Karima Nur
Alitha Debast
Jatin Fadiya
Isnaini |
|
Produser |
Yosaphat |
|
Pemain |
Cut Mini
Theo Agla Artalidia Alesha
Fadillah |
Seorang
ibu pasti selalu merindukan anaknya ketika jauh dari rumah. Seorang ibu pasti
selalu ingin tahu tentang kabar anaknya ketika jauh dari rumah. Ibu pasti
selalu ingin tahu banyak hal tentang anaknya yang jauh dari rumah. Apa yang
sedang anaknya lakukan, bagaimana pekerjaan anaknya berjalan dengan lancar atau
tidak, apakah anaknya baik-baik saja, atau pertanyaan yang sering dilontarkan
adalah, makan apa hari ini? Film Kembali Pulang (2025) karya Yosaphat,
mengisahkan tentang seorang ibu yang merindukan anaknya yang berkerja di luar
kota . Menceritakan tentang sebuah kekecewaan yang dirasakan oleh seorang ibu
terhadap seorang anak, serta menceritakan bagaimana kedua orang tersebut yakni
sang ibu dan sang anak menyelesaikan masalah dan kesalahpahaman yang terjadi di
antara keduanya.
Film
yang berdurasi sekitar dua puluh menit ini sebenarnya adalah film untuk iklan
peluncuran koleksi baju lebaran (Hari Raya Idulfitri) 2025 dari sebuah merek modest
fashion lokal Wearing Klamby. Namun karena film ini dikemas dengan begitu
bagus dan juga kreatif, banyak masyarakat yang suka dan mengapresiasi film
pendek ini. Walaupun sebenarnya film ini dibuat untuk iklan koleksi baju
lebaran, tetapi banyak makna yang terkandung dalam film ini serta ada pelajaran
yang dapat diambil dari film ini.
Pulang Namun Sepi
Cerita
dimulai ketika sang anak yakni Salma, pulang ke rumah ibunya untuk berlibur.
Namun ketika berada di rumah, sang anak selalu sibuk dengan pekerjaannya. Dia
tidak pernah makan dengan ibunya, dia selalu berada di kamar untuk membahas
pekerjaan dengan teman kantornya. Adegan ketika sang ibu sedang makan sendirian
di meja makan, menggambarkan tentang sebuah rasa kesepian yang dialami sang
ibu. Ketika sang ibu sudah masak banyak untuk sang anak dan berharap bisa makan
bersama dengan sang anak di meja makan, tetapi anaknya justru sibuk dengan
pekerjaan.
Pada
bagian ini, menggambarkan bagaimana perasaan seorang ibu yang begitu sedih, dan
juga terluka. Kepulangan sang anak ke rumah yang sangat dinantikan oleh sang
ibu, dan berharap akan mengahabiskan waktu berdua dengan sang anak di rumah,
justru tidak sesuai dengan keinginannya. Rasanya masih tetap sama ketika dia
sendirian di rumah.
Menghindar dan Berusaha Mengabaikan
Pada
bagian ini, sikap sang ibu mulai berubah terhadap sang anak. Sang ibu yang
berusaha untuk tidak peduli dan mengabaikan setiap kali sang anak mengajukan
pertanyaan atau ketika sang anak mengajak sang Ibu untuk belanja bersama ke
pasar. Pada bagian ini, sang anak memang mulai menyadari bahwa sikap sang ibu
berubah. Namun sang anak tidak terlalu mengambil pusing atas sikap sang ibu.
Waktu berlalu dengan cepat, ketika sang anak kembali meningglkan rumah untuk
lanjut berkerja dan kembali meninggalkan sang ibu sendiri.
Adegan
selanjutnya yakni ketika sang anak kembali pulang ke rumah untuk yang kedua
kalinya. Pada bagian inilah terjadi puncak perseturuan antara sang ibu dan juga
sang anak. Ketika sang ibu lagi-lagi berusaha mengabaikan sang anak dan tidak menanggapi
ucapan sang anak. Pada bagian ini sang anak bertanya kepada sang ibu kenapa
sang ibu berubah, kenapa sang ibu selalu menghindar, ada apa? Lalu sang anak
juga bertanya apa kesalahan yang dia perbuat. Namun, ketika sang anak bertanya
demikan, sang ibu berkata bahwa bukan sang anak yang salah melainkan ibu.
Adegan semakin menyayat hati ketika sang ibu berkata bahwa dia yang salah
karena sudah mengganggu kesibukan sang anak. Pada bagian ini diakhiri dengan
sang ibu yang pergi ke kamar dan meninggalkan sang anak di ruang tamu.
Awal Mula
Pada
bagian ini, dengan ketegangan yang terjadi, ketika mereka menangkan diri masing-masing,
sang anak duduk sambil menangis di ruang tamu dan merenungi sesuatu. Pada
bagian ini, terjadi kilas balik, dimana sang anak mengingat kembali dan
menyadari awal mula pertengkaran ini terjadi. Awal mulanya terjadi ketika sang
ibu menghubungi sang anak untuk menanyakkan kabar dan menanyakkan kapan sang
anak akan pulang ke rumah. Pada bagian kilas balik tersebut, sang anak tanpa
sadar seperti memarahi sang ibu dan menyuruh sang ibu untuk berhenti bertanya
tentang bagaimana keadaannya, dan kapan dia akan pulang ke rumah. Tapi tanpa
sadar, perkataan tersebutlah yang menjadi akar dari masalah yaang terjadi.
Setelah
adegan kilas balik tersebut, yang menceritkan tentang awal mula masalah tejadi
antara sang ibu dan sang anak, kembali lagi ke adegan dimana sang anak yang
menangis di ruang tamu dan juga menyadari apa yang telah diucapkannya waktu itu,
ternyata akar dari masalah antara dia dan juga sang ibu.
Mengingat Masa Kecil Yang Indah dan Isi Surat dari Ibu
Pada
bagian ini, dimana sang anak masih menangis di ruang tamu, ada kilas balik
lagi. Dia mengingat kembali masa kecilnya yang begitu bahagia bersama sang ibu.
Ketika dia dan juga sang ibu selalu melakukan sesuatu dengan bahagia, sang ibu
yang selalu membuat sang anak tertawa, memasak mekanan kesukaan sang anak,
serta merayakan ulang tahun sang anak. Ketika mengingat keembali masa kecil
tersebut, sang anak pada adegan ini tidak tahan menahan tangisannya. Pada
bagian ini cukup dikatakan sangat emosional. Dilihat dari bagaimana rasa sesal
yang dialami oleh sang anak terhadap apa yang sudah dia lakukan terhadap sang
ibu.
Pada
bagian kilas balik ini juga sang anak mengingat tentang satu hal, kenangaan
dimana sang ibu yang memberikan surat pada sang anak. Namun pada bagain kilas
tersebut sang ibu melarang sangat anak untuk membuka dan membaca isi surat
tersebut. Setelah kilas balik tersebut, sang anak langsung berlari ke kamar
untuk mebaca surat tersebut.
Pada
bagian membaca surat ini jugalah yang sangat menyayat hati, ketika sang anak
membaca isi surat dan menangis ketika mengetahui isi surat tersebut. Isi surat
dari sang ibu yang mengingatkan sang anak untuk tetap kembali pulang ke rumah
di mana pun anaknya berada saat itu. Isi surat yang cukup sederhana dan juga
dengan pesan yang juga sederhana, namun menjadi adegan yang sangat menguras
emosi baik para pemain maupun juga para penonton, seakan-akan para penonton
juga terlibat dalam adegan tersebut.
Sadar dan Saling Memaafkan
Pada
bagian ini, sang anak sudah sepenuhnya sadar. Ketika dia kembali lagi ke ruang
tamu dan kembali menangis di sana. Adegan puncak penyelesaiannya ada pada
bagian ini. Ketika sang ibu keluar dari kamar untuk menemui sang anak, dan
ketika sang anak berlari memeluk sang ibu. Pada bagian inilah yang menjadi
akhir dari cerita, dimana sang ibu dan juga sang anak saling minta maaf atas
ego dan kesalahan yang diperbuat. Sang anak yang meminta maaf karena telah
mengabaikan sang ibu, serta sang ibu yang meminta maaf karena tidak terlalu
pengertian terhadap sang anak. Adegan diakhiri dengan mereka yang merayakan
ulang tahun sang anak yang ternyata ulang tahun sang anak di hari dimana sang
anak sedang bermasalah dengan sang ibu.
Kita Harus Ingat Pulang
Melalui
Kembali Pulang banyak pelajaran yang kita dapatkan dan wajib kita ingat
dalam diri kita masing-masing. Melalui film ini, kita diajarkan bahwa sejauh apa
pun kita pergi dari rumah kita harus tetap ingat untuk pulang. Kita juga harus
tahu apa tujuan kita pulang ke rumah, apakah kita pulang untuk membuat keluarga
bahagia atau tidak. Melalui film ini, kita juga diajarkan untuk saling
pengertian dan menurunkan ego masing-masing. Film ini juga memberi pelajaran
pada orang tua untuk sedikit memberi pengertian terhadap anak. Serta melalui
film ini, mengajarkan kita bagaimana menyelesaikan suatu masalah dengan baik supaya
tidak terjadi sesuatu yang lebih buruk, yang membuat hubungan keluarga menjadi
tidak harmonis.
***
Penulis:
Yuliana Arini Sinar, mahasiswi Program Studi Sastra Indonesia Universitas
Sanata Dharma Yogyakarta
Penyunting:
M. Khoirul Rosyad