Trauma yang Menjelma Garis Keturunan

Akhir Sang Gajah di Bukit Kupu-Kupu karya Sasti Gotama

Ada buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang justru mulai bekerja setelahnya. Akhir Sang Gajah di Bukit Kupu-Kupu karya Sasti Gotama adalah salah satunya. Begitu halaman terakhir tertutup, yang tersisa bukan hanya sekadar kesan estetis atas bahasa yang indah, melainkan semacam rasa sesak. Seolah-olah baru saja menyaksikan sesuatu yang selama ini berusaha disembunyikan oleh dunia: bahwa menjadi perempuan dalam banyak konteks sosial kita adalah pekerjaan yang tidak pernah benar-benar selesai dan tidak pernah benar-benar dihargai. 

Buku dengan tebal 156 halaman ini memuat sebanyak 20 cerpen yang bergerak di antara keseharian yang tampak biasa dan kedalaman luka yang sangat luar biasa. Sasti Gotama—nama pena Lila Prasasti Ratu Asih, seorang penulis asal Malang yang merupakan salah satu dari 10 Emerging Writer URF 2022, sekaligus pemenang pertama Hadiah Sastra Rasa 2022. Buku ini berhasil meraih penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa 2025, sebuah pengakuan atas kualitas yang sudah terasa sejak halaman pertama. 

Gajah dan Kupu-Kupu—Ketika Simbol Berbicara Lebih Keras daripada Kata

Gajah—dengan tubuhnya yang besar, ingatan yang kuat. Namun, gerakannya terbatas—menjadi metafora untuk beban yang harus ditanggung: beban hidup, beban ingatan, beban ekspektasi, beban sejarah. Sementara kupu-kupu yang indah namun rapuh dan hidupnya pendek, menggambarkan kebebasan yang selalu tampak dalam jangkauan namun tak pernah bisa digenggam. 

Dua simbol bukanlah hanya sekadar hiasan saja. Keduanya adalah kompas tematik bagi seluruh isi buku. Tokoh-tokoh perempuan di dalamnya adalah gajah-gajah yang tinggal di bukit kupu-kupu—makhluk yang seharusnya bebas untuk menari, terbang, hidup bahagia, namun terlalu berat oleh luka kolektif yang diwariskan dari generasi ke generasi. Mereka ini tidak hanya menanggung lukanya sendiri, justru mereka ini juga menanggung luka ibu mereka dan ibu dari ibu mereka. 

Imanensi dan The Other: Beauvoir di Tengah Dapur dan Ranjang Rumah Sakit 

Setelah membaca buku ini, saya pikir pendekatan yang paling relevan adalah feminisme eksistensial Simone de Beauvoir. Dalam The Second Sex (1949), Beauvoir berpendapat bahwa perempuan itu tidak dilahirkan sebagai perempuan, melainkan dibentuk menjadi perempuan oleh konstruksi sosial yang menempatkan laki-laki sebagai ‘The One’—subjek utama—sementara perempuan hanya menjadi ‘The Other’ sang ‘Liyan’ yang eksistensinya didefinisikan oleh kebutuhan dan pandangan pihak lain. 

Kondisi Beauvoir yang disebut sebagai ‘imanensi’, terperangkap dalam rutinitas tanpa kemungkinan transendensi diri—hidup dengan nyata dalam setiap halaman-halaman buku. Ada salah satu cerpen menampilkan monolog seorang istri yang telah melakukan segalanya di rumah tangga: memasak makanan, mengepel, mencuci, memandikan bayi, menyetrika. Namun semua itu tidak terlihat, tidak dianggap—suaminya malah berterima kasih kepada perempuan lain. Hal tersebut terasa seperti tamparan hebat. 

“Aku sudah memasak semua yang organik; aku sudah mencuci baju, mengepel, menyetrika, dan mengelap setiap sudut rumah; aku juga sudah memandikan Dio dan mengganti popoknya berulang-ulang, tapi kamu malah mengucapkan terimakasih kepada si Jalang Susan yang mengingatkanmu makan siang, serta memberimu ‘olahraga’ di sela jam istirahat!” (hlm. 69-70)

Kalimat itu tidak hanya menunjukkan pengkhianatan, tapi lebih dari itu. Ia memotret bagaimana kerja domestik perempuan telah menjadi sesuatu yang dianggap given—sudah seharusnya, tidak perlu adanya sebuah apresiasi, bahkan sampai tidak terlihat. Ini adalah imanensi yang paling menyakitkan baginya. Ketika seseorang kelelahan bukanlah dianggap sebagai kelelahan, melainkan sebuah kewajiban yang wajar. 

Kondisi ‘The Other’ hadir di dalam cerpen tentang sang tokoh yang bernama Glori yang bahkan setelah ia mati pun tidak memiliki suara. 

“Glori tak bisa membela dirinya sendiri. Jangankan begitu, seandainya Glori masih hidup, aku sangsi ia mampu bersaksi.” (hlm. 59)

Menurut saya, itu merupakan salah satu hal yang paling tragis dalam buku. Ketidakmampuan itu bersaksi, bahkan atas hidupnya sendiri—adalah gambaran yang paling ekstrem dari posisi liyan. Eksistensi yang tidak memiliki otoritas atas narasinya sendiri. 

Luka yang Diwariskan: Struktur Keluarga sebagai Trauma

Kekuatan terbesar buku ini terletak pada kemampuannya membaca trauma bukan sebagai peristiwa individual, melainkan sebagai struktur yang diwariskan. Di sini Sasti memperlihatkan seorang ibu yang menjadi korban tapi juga menjadi pelaku—bukan karena dirinya itu jahat, tapi karena ia pernah menjadi anak yang dibentuk oleh luka yang sama. 

“Ah, banyak ibu yang mengabaikan anak yang telah dilahirkannya. Atau, jika tidak, sebaliknya, ibu membentuk si anak seperti lempung basah yang bisa ia bentuk sesuka hati. Jadi lempung itu tak menjadi seperti yang ia mau...” (hlm. 54)

Metafora lempung basah itu terasa sangat tepat. Ia menangkap ambivalensi pengasuhan antara pembentukan dan penyiksaan—tanpa memutuskan siapa yang bersalah itu. Yang dipersoalkan di sini itu bukan individu, tapi sistemnya. Sistem yang terus-menerus menghasilkan perempuan yang tidak tahu cara lain selain membentuk orang lain, karena dirinya sendiri tidak pernah diberi ruang buat tumbuh sesuai kehendak dirinya. Di titik inilah buku ini melampaui sekadar cerita mengenai perempuan yang menderita. Ia menjadi analisis tentang bagaimana penderitaan bereproduksi, bagaimana luka memiliki genealogi, dan bagaimana cinta dalam kondisi yang cacat dapat berubah menjadi alat penindasan yang paling efektif. 

Tarian Bumi dan Kenanga (Oka Rusmini, 2000 dan 2003) menjadi rujukan dalam genealogi ini. Oka Rusmini sendiri merupakan pelopor dalam menghadirkan narasi perempuan yang menanggung beban secara berlebih. Ketepatan dengan Akhir Sang Gajah ini terasa pada cara keduanya itu menolak menyederhanakan relasi pelaku-korban. Ibu di dalam ceritanya bisa sekaligus menjadi penindas dan korban dari sistem yang sama. 

Selain itu, Kitab Kawin (Laksmi Panjuntak, 2021) yang padananya itu paling dekat dari sisi genre dan temanya. Keduanya merupakan kumpulan cerpen dengan tokoh perempuan yang menghadapi kekerasan fisik, psikologis, ekonomi, dan seksual. Tapi ada perbedaan yang penting. Narasi Laksmi lebih ke ruang relasional dan konflik perkawinan dan Sasti lebih menekankan genealogis trauma—bagaimana luka ibu itu hidup dalam tubuh anak perempuannya.  

Sasti memberi penekanan yang kuat pada trauma antargenerasi, sebuah tema yang menurut saya menjadi pembeda penting dibanding beberapa karya yang saya bandingkan. Sementara Rusmini dan Laksmi itu lebih fokus pada perempuan sebagai individu yang berjuang melawan sistem, sedangkan Sasti memasuki wilayah yang lebih dalam: trauma yang diwariskan dari ibu kepada anak perempuannya. 

Kelemahan yang Memperkuat


Setiap karya yang di tulis pasti ada kelemahannya. Dalam buku ini, gaya bahasa yang digunakan Sasti, menurut saya padat dan penuh dengan lapisan simbolis. Hal itu bisa menjadi kekuatan, tapi bisa juga menjadi penghalang bagi pembaca yang tidak terbiasa sama sastra yang menuntut interpretasi aktif. Ada beberapa cerpen yang butuh dibaca ulang biar bisa dicerna dengan sepenuhnya. 

Tapi, beberapa cerpen juga berakhir dengan terbuka—tanpa resolusi, tanpa penjelasan yang bagi sebagian pembaca mungkin merasa menggantung. Tapi kalau seluruh cerpennya dibaca, bagian akhir yang menggantung itu justru menjadi hal yang dipertanyakan. Itu menunjukkan bahwa persoalan yang diangkat belum benar-benar selesai. Trauma yang digambarkan juga belum tuntas. Dengan kata lain, apa yang terlihat sebagai kelemahan itu justru merupakan keberanian. 

Sastra yang Tidak Ingin Menenangkan

Akhir Sang Gajah di Bukit Kupu-Kupu merupakan buku yang sama sekali tidak ingin membuat pembacanya merasa nyaman—dan itu adalah salah satu hal baik yang bisa dilakukan oleh karya sastra. Ia mengajak kita untuk duduk bersama ketidaknyamanan, merasakan, dan bertanya-tanya. Seberapa sering kita menjadi bagian dari sistem yang menghasilkan perempuan-perempuan seperti Glori.

Mungkin itulah sebabnya buku ini tidak memberi banyak penyelesaian. Luka yang diwariskan selama bertahun-tahun memanglah tidak mudah untuk sembuh dalam satu cerita. Namun justru di situlah kekuatan sastra bekerja: memberi nama pada sesuatu yang selama ini diwariskan dalam diam. Melalui tokoh-tokohnya, Sasti mengingatkan bahwa kelelahan perempuan bukanlah kelemahan personal, melainkan jejak dari beban sosial yang terlalu lama dianggap wajar. 

***


Penulis: Gita Ramadhani, mahasiswi Program Studi Sastra Indonesia Universitas Negeri Yogyakarta

Penyunting: Azizah Octimilena

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama