Ketika Cinta Tak Cukup Melawan Kasta: Novel Hello Karya Tere Liye

Visual novel Hello karya Tere Liye.
Foto: Dokumentasi Maura Putri Najwa

Identitas Buku:

Judul Buku: Hello
Penulis: Tere Liye
Penerbit: PT Sabak Grip Nusantara
Tahun Terbit: 2023
Jumlah Halaman: 320 hlm; 20cm
ISBN: 978-623-882-968-2
Harga di Pulau Jawa: Rp105.000

Seberapa jauh sebuah novel romansa bisa berbicara tentang realitas sosial yang masih hidup di sekitar kita? Pertanyaan ini menjadi menarik ketika membaca novel Hello karya Tere Liye yang terbit pada tahun 2023. Data dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia mencatat bahwa Indeks Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) nasional pada tahun 2024 mencapai angka 72,44, naik dari 66,77 pada tahun 2023 dan menjadi yang tertinggi dalam lima tahun terakhir. Namun di sisi lain, rata-rata masyarakat Indonesia baru membaca sekitar satu buku per orang per tahun, angka yang masih terbilang rendah. Di sinilah keberadaan penulis seperti Tere Liye terasa penting, karena karya-karyanya yang selalu laris terbukti mampu menjadi pintu masuk yang efektif bagi masyarakat untuk lebih dekat dengan budaya membaca.

Novel Hello bukan sekadar cerita cinta yang manis. Di balik kisah romansa antara Hesty dan Tigor, Tere Liye mengangkat isu ketimpangan kelas sosial, kuatnya pengaruh garis keturunan dalam budaya Indonesia, dan bagaimana luka sejarah seperti Krisis 1998 turut membentuk perjalanan hidup seseorang.

Pintu Masuk Sebuah Kenangan

Novel Hello memiliki genre romansa, tetapi bukan romansa sederhana yang hanya menceritakan keromantisan dua orang. Lebih dari itu, Tere Liye mengisahkan ketimpangan sosial yang melanda Hesty dan Tigor sehingga cerita ini menjadi jauh lebih berbumbu. Kisah dibuka lewat tokoh Ana, seorang arsitek muda berbakat yang kariernya menanjak pesat setelah proyeknya berhasil masuk dalam penghargaan Rumah Tropis Terbaik di Dunia. Suatu pagi, ia mendapat panggilan untuk merenovasi sebuah rumah tua berpagar hitam dengan deretan pohon palem besar. Di sanalah ia bertemu Hesty, perempuan paruh baya yang kemudian menuturkan kisah hidupnya. Setiap sudut ruangan rumah itu menyimpan kenangan, dan dari sinilah cerita sesungguhnya dimulai.

Dua Bayi, Satu Atap, Dua Dunia yang Berbeda

Narasi Hesty membawa pembaca mundur ke tahun 1975, saat dua ibu hamil tinggal di satu rumah yang sama yaitu istri Raden Wijaya, pejabat berdarah ningrat, dan Bi Ida, pembantu rumah tangganya. Dari situlah lahir dua anak yang tumbuh bersama namun dari kelas sosial yang saling bertolak belakang, Hesty dari keluarga berada dan Tigor anak seorang pembantu. Perbedaan itu tampak nyata dari hal paling sederhana sekalipun:

“Tampilan mereka sangat kontras. Hesty dengan seragam sekolah bersih, rapi, wangi. Tigor dengan seragam buram, rambut berantakan. Hesty dengan sepatu bermerek, tas sekolah bagus. Tigor dengan sepatu yang dibeli di pasar malam, dengan tas ransel berbahan kasar tersampir di punggung. Tapi itu tidak mengurangi kedekatan mereka. Saling tersenyum sesaat, melambaikan tangan.” (halaman 37)

Namun perbedaan itu tidak pernah menghalangi kedekatan mereka. Sejak kecil Hesty dan Tigor tumbuh seperti dua sisi koin yang tak terpisahkan. Mereka berkeliling pasar, bermain layangan, memanjat pagar, hingga tercebur ke Sungai Ciliwung bersama. Masuk SMP, keduanya bahkan bergabung di klub fotografi yang sama dan sering berboncengan dengan sepeda butut Tigor untuk mencari objek foto.

Perpisahan yang Tidak Sempat Berpamitan

Kedekatan itu akhirnya terusik. Sebuah insiden kecil di ruang kerja Raden Wijaya berujung pada hukuman satu minggu tidak keluar kamar bagi Hesty, sekaligus menjadi awal dari perpisahan yang tidak pernah mereka rencanakan. Di saat yang bersamaan, Raden Wijaya menerima tugas pindah kota dan dengan diam-diam menyetujuinya karena khawatir kedekatan Hesty dan Tigor akan berujung serius. Keluarga berangkat tanpa sempat berpamitan, meski Tigor akhirnya berhasil menyusul ke stasiun untuk menyampaikan salam perpisahan di detik terakhir.

Di kota baru, segala upaya Hesty untuk menghubungi Tigor dipersulit oleh sang ayah. Telepon diblokir, surat-surat yang mereka kirim setiap dua minggu pun disabotase agar tidak sampai ke tangan masing-masing. Raden Wijaya bersikeras bahwa Hesty harus memiliki pasangan yang setara, bukan dari anak seorang pembantu.

Cinta yang Tumbuh, Tembok yang Makin Tinggi

Meski terpisah jarak dan dihalangi oleh tembok kekuasaan sang ayah, benih cinta antara Hesty dan Tigor terus tumbuh. Bertahun-tahun berlalu, Tigor yang gigih berhasil melampaui batas kelasnya. Ketika akhirnya ia memberanikan diri mengungkapkan isi hatinya, momen itu terasa sederhana namun penuh bobot:

“Aku tahu aku bukan pejabat tinggi seperti papamu. Wajahku juga tidak tampan-tampan amat, kata Patrisia. Apakah, eh apakah kamu mau menikah denganku, Hesty?” Akhirnya kalimat itu terucapkan. Hesty menangis. Mengangguk. (halaman 255)

Namun keberanian itu segera berbenturan dengan pendirian Raden Wijaya yang tidak pernah goyah:

“Kamu ingin Hesty menikah dengannya, silakan. Tapi aku tidak akan pernah mengizinkannya. Dia tidak akan pernah pantas untuk Hesty. Bibit, bebet, bobotnya tidak akan berubah. Dia hanya anak seorang pembantu, yang mencuci, mengepel, di rumah ini. Catat baik-baik, selama aku masih hidup, jangan pernah berharap pernikahan itu terjadi.” Raden Wijaya menatap tajam istrinya. Kalimat-kalimat itu memang ditujukan kepada istrinya, tapi karena yang lain ikut mendengarkan, roket itu seperti diluncurkan ke berbagai posisi. Meledak di mana-mana. (halaman 280)

Dua kutipan itu memperlihatkan betapa dalamnya jurang yang memisahkan mereka, bukan karena keduanya tidak saling mencintai, melainkan karena sistem nilai kelas sosial yang diwariskan ternyata jauh lebih keras dari sekadar kata tidak.

Rahasia di Balik Nama dan Lambaian Tangan di Bawah Jendela

Konflik dan kesalahpahaman yang berlarut-larut membuat Hesty dan Tigor akhirnya terpisah selama puluhan tahun. Di sinilah peran Ana kembali menjadi krusial. Ia menyadari bahwa pamannya, yang selama ini ia kenal dengan nama “Om Gorbachev”, ternyata adalah Timbul Gorbachev yang disingkat menjadi Tigor, nama yang sudah lama tidak digunakan sang paman sejak meninggalkan Jakarta. Inilah kunci yang membuka semua fakta yang selama ini tersimpan.

Selama enam bulan Ana berupaya membujuk sang paman untuk kembali menemui Hesty. Ketika rumah itu akhirnya selesai direnovasi, Tigor datang ke Jakarta dan memberikan kejutan yang menyerupai kenangan masa kecil mereka, berdiri di bawah jendela dan melambaikan tangan, persis seperti yang pernah ia lakukan puluhan tahun lalu. Pada malam itu, Hesty dan Tigor akhirnya dipertemukan kembali. Pertemuan Ana dengan Hesty bukanlah kebetulan. Semua sudah ditakdirkan, Ana menjadi perantara dua tokoh utama untuk bersatu setelah kesalahpahaman puluhan tahun. Ana menjadi seorang yang penting dalam cerita ini, karena ia bukan hanya gadis biasa-biasa saja, juga bukan tukang bangunan yang biasa saja.

Salah satu hal yang paling terasa ketika membaca novel ini adalah bagaimana Tere Liye tidak membuang-buang waktu pembaca. Alurnya bergerak cepat sejak halaman pertama dan meskipun menggunakan teknik kilas balik, plotnya tetap tertata rapi sehingga pembaca tidak kehilangan arah.

Dari segi karakter, hubungan Hesty dan Tigor terasa tumbuh secara alami karena dibangun dari pengalaman bersama sejak kecil hingga dewasa. Karakter Tigor khususnya meninggalkan kesan tersendiri karena perjuangannya melwati batas kelas sosial digambarkan lewat kerja keras, bukan hanya keberuntungan semata.

Kelebihan lain yang menonjol adalah bagaimana Tere Liye berhasil menyelipkan konteks sejarah ke dalam cerita tanpa mengganggu kenyamanan membaca. Peristiwa Krisis 1998 hadir bukan sekadar latar belakang, melainkan sebagai bagian dari perjalanan tokoh. Lebih menarik lagi, kemampuan photographic memory pada tokoh utama menjadi cara kreatif untuk menghidupkan kembali kepedihan sejarah masa Orde Baru dari sudut pandang yang sangat personal. Ending novel ini memuaskan secara emosional dan mengandung pelajaran moral yang bisa dibawa pulang pembaca.

Novel ini tidak lepas dari beberapa kekurangan. Dari sisi premis, tema cinta beda kasta dengan penolakan keluarga adalah pola yang sudah sangat akrab di telinga pembaca Indonesia, sehingga bagi yang sudah banyak mengonsumsi genre serupa, cerita ini terasa kurang menawarkan sesuatu yang benar-benar baru.

Penyajian narasinya juga terasa kurang berimbang karena hampir seluruh beban antagonis bertumpu pada satu figur saja, yaitu Raden Wijaya, sehingga dimensi konflik menjadi kurang. Di sisi lain, peristiwa-peristiwa sejarah yang sebenarnya sangat kuat, seperti perburuan aktivis masa Orde Baru, hanya disinggung secara singkat. Padahal jika digarap lebih dalam, bagian ini bisa menjadi pembeda dari romansa populer lainnya.

Dari segi bahasa, pilihan diksi dinilai kurang bervariasi dan beberapa bagian terasa mengulang struktur kalimat yang serupa, membuat ritme membaca di bagian tertentu menjadi agak lamban. Sejalan dengan itu, beberapa plot twist di pertengahan cerita juga dapat ditebak lebih awal oleh pembaca yang sudah terbiasa dengan pola genre ini.

Secara keseluruhan, Hello adalah novel yang berhasil menempatkan diri di persimpangan antara hiburan dan refleksi sosial. Tere Liye tidak sekadar menulis kisah cinta, ia mengajak pembaca untuk melihat kembali bagaimana kelas sosial, garis keturunan, dan luka sejarah masih punya pengaruh nyata dalam kehidupan manusia, bahkan hingga puluhan tahun kemudian. Bagi pembaca baru, novel ini adalah titik awal yang tepat. Bagi pembaca lama yang sudah akrab dengan karya Tere Liye, ada nuansa berbeda yang bisa ditemukan lewat hadirnya konteks sejarah yang lebih eksplisit.

Dalam konteks perkembangan literasi Indonesia yang sedang menunjukkan arah menggembirakan, novel-novel seperti Hello memainkan peran penting bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai cermin budaya yang menumbuhkan kesadaran sosial pembacanya. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, Hello tetap merupakan karya yang layak dibaca dan menarik untuk dikaji lebih lanjut.


***

 

Penulis: Maura Putri Najwa, mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Yogyakarta.

Penyunting: Ayuk Wiji Safitri


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama