Perbedaan dalam Satu Rasa

 

Semangkuk kemewahan dengan rasa yang sama namun berbeda dalam setiap suapnya

Di bawah teriknya matahari kota Yogyakarta di gang-gang kecil di dekat Kampus UNY tercium aroma bumbu yang ada di sebuah mangkuk sederhana. Dalam kesederhanaan ituah orang-orang berkumpul, dengan sendok dan sumpit yang terbuat dari bambu untuk merasakan kelezatanya. Dengan kaldu yang di atasnya ada toping bumbu rahasia yang terbuat dari rempah-rempah rahasia.

Mie ayam adalah bukti kelezatan dengan siraman kuah kaldu dengan sedikit sentuhan rasa lokal dan perpaduan budaya Cina. Semangkuk mie kuning yang kenyal dengan potongan ayam berbumbu kecap yang manis gurih dalam satu paduan hangat dan ditaburi daun bawang, menciptakan kombinasi rasa yang sulit ditolak bagi sebagian orang Indonesia.

Jika dilihat lebih jauh, kelezatan dalam semangkuk mie ayam sebenarnya adalah sebuah perbaduan rasa yang hadir dalam sebuah mangkuk. Dalam seporsi mie ayam terdapat perpaduan rasa gurih, manis, asin dan ada sedikit minyak dalam kaldu hangatnya. Tidak ada rasa yang dominan dalam semangkuk mie ayam, semua rasa menjadi satu kesatuan yang tidak berbenturan dalam lidah setiap penikmatnya. Dengan sedikit tambahan saus, sambal, atau kecap menciptakan rasa yang sangat unik yang menjadikan sebuah kecanduan dalam semangkuk mie ayam.

Mengitip dari Kumparan, mie pertama kali dibuat di daratan Cina sekitar tahun 25-200 M pada masa pemerintahan Dinasti Han. Lalu, mie pertama masuk ke Indonesia melalui jalur perdagangan, disebutkan mie yang pertama kali masuk Indonesia berbahan daging babi. Namun karena banyaknya kerajaan Islam saat masuk Nusantara, bahan awalnya babi diganti dengan daging ayam. Lalu terciptalah makanan untuk semua kalangan, perpaduan antara mie, daging ayam, rempah-rempah, dan sedikit sawi rebus.

Proses pembuatan mie juga menjadi salah satu hal yang membuat orang yang menciumnya akan menelan ludah. Karena keharumanya, mie yang direbus dengan bumbu akan membut orang penasaran ketika melewati warung-warung mie ayam di pinggir jalan. Kaldu ayam dalam semangkuknya mengeluarkan bau yang khas. Namun, ada sedikit keunikan tersendiri. Meskipun bernama sama, mie ayam di setiap daerah di Indonesia memiliki khas tersendiri menyesuaikan dengan lidah masyarakat setempat.

Tanpa Sayur Apakah Masih Sama?

Saat itu, setelah selesai kelas pembelajaran micro saya menembus panasnya terik matahari Jogja, untuk kembali ke kontrakan sederhana dengan pintu yang di tengahnya ada sedikit kaca untuk melihat keluar. Rasa lapar mulai terasa, saya mengajak teman untuk mencicipi sebuah kemewahan dalam semangkuk mie ayam.

Sadewa (21) seorang mahasiswa dari Boyolali mempunyai kebiasaan yang sedikit unik dibandingkan orang lain sebayanya, semangkuk mie ayam yang biasanya komplit dengan sawi, mie, dan daging ayam. Dia memilih jalan berbeda untuk menghilangkan sawi dalam mangkuknya. Apakah ini melangar resep mie ayam atau tidak saya tidak mengetahuinya. Namun, dengan hal unik ini menjadikan saya penasaran.

Sebuah perbedaan namun bisa menyatukan sebuah rasa, tidak kehilangan kenikmatanya dalam setiap suapnya
Dokumentasi: Haris (21/04/2026)

“Saya sendiri tidak menyukai sayuran karena sebuah trauma makan sayur, dulu saya menyukai mie dengan ada sawinya, namun semenjak pernah mencicipi ada sawi yang pahit semenjak itu saya memesan mie ayam tanpa sawi,” ucap Sadewa dalam ceritanya.

Meskipun terlihat aneh bagi orang lain, tetapi hal ini membuktikan tidak menyukai sayuran tetap bisa menyukai mie ayam. Kenikmatan mie ayam sulit untuk ditolak oleh setiap orang bahkan orang yang tidak menyukai sayur, dia bisa menghilangkan sayurnya, namun tidak bisa menghilangkan kenikmatanya.

“Saya sendiri kalau tidak masak biasanya sih membeli mie ayam, kadang langsung ke warungnya, kadang lewat shopeefood, saya cenderung memakai sedikit saus dan kecap saat makan mie ayamnya,” tuturnya.

Tanpa Ayam Apakah disebut Mie Ayam?

Sedikit berbeda dengan Sadewa, Andri (26) lebih unik lagi dalam menikmati seporsi mie ayamnya. Alih-alih makan mie ayam komplit dengan sayur, ayam, pangsit, ataupun bakso. Beliau memilih untuk tidak memakai ayam dalam seporsi mie ayamnya. Mie ayam tanpa ayam bagaimana bisa, apakah ini masih bisa disebut dengan mie ayam atau hanya sekelas mie biasa yang dikasih sawi.

Tampak aneh bagi sebagian orang, namun ini nyata adanya menikmati mie ayam tanpa ayam
Dokumentasi: Haris (20/04/2026)

“Jujur sih aku sebebenarnya tidak bisa menelan daging yang keras, jadi kadang kalau aku makan soto, mie ayam, atau yang dikasih toping danging kadang aku memesanya tanpa daging,” ucap Andri dalam wawancara.

“Ya kadang kalau mie ayam tanpa ayam sih lebih murah, tapi bukan hal itu, sih, yang membuat aku suka mie ayam, rasanya yang enak, ada kuahnya, dan sedikit bumbu membuat aku tertarik, kadang juga kalau ayamnya aku berikan ke teman yang mengajak aku makan,” lanjut Andri dalam ucapanya.

Meskipun memiliki perbedan dalam menikmatinya kedua orang ini sulit untuk menolak saat diajak makan mie ayam. Sensasi mie dengan bumbu bawang yang memiliki aroma khas membuat orang yang tidak menyukai daging bisa menikmatinya tanpa ada masalah, mereka lebih memilih untuk menghilangkan ayam atau sawinya daripada menghilangkan mie ayamnya.

Pada dasarnya, kelezatan mie ayam bukan terletak pada toping daging, atau sawinya. Namun, terletak pada rasa yang dihadirkan dan pengalaman dalam setiap suapnya. Perpaduan antara proses budaya Cina dan Nusantara menyatu dalam satu mangkuk. Mie ayam dapat mengajarkan kita sesuatu, bahwa perbedaan yang ada tidak menjadi batasan untuk menikmatinya, walaupun harus meninggalkan sawi, ayam, atau yang lainnya. Dalam setiap suapan terlahir kebersamaan, cerita, dan kreativitas setiap penikmatnya.

***

Penulis: Abdul Haris Al Ansori, mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Yogyakarta.

Memiliki ketertarikan di bidang politik, pendidikan dan lingkungan. Selain itu juga aktif bermedia sosial di Instagram @abdulharial354 dan Facebook Haris. Email alansoriharis@gmail.com

Editor: M. Khoirul Rosyad



Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama