Budaya Patriarki dalam Rumah Tangga Masih Mengakar, Beban Domestik Perempuan Tidak Setara


Di tengah perubahan sosial yang semakin berkembang, praktik pembagian kerja dalam rumah tangga masih menunjukkan ketimpangan. Perempuan tetap memikul beban domestik lebih besar, dipengaruhi oleh budaya patriarki yang diwariskan secara turun-temurun dan sulit dipertanyakan.

Dalam banyak keluarga, pekerjaan rumah tangga seperti memasak, membersihkan rumah, hingga mengurus anak masih dianggap sebagai tanggung jawab utama perempuan. Sementara itu, laki-laki cenderung diposisikan sebagai pihak yang tidak memiliki kewajiban yang sama dalam urusan domestik.

Pola ini tidak terbentuk secara instan, melainkan merupakan hasil dari doktrin sosial yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Sejak kecil, perempuan sering diajarkan untuk terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah, sementara laki-laki tidak mendapatkan tuntutan yang setara.

Seorang Ibu Rumah Tangga, S ( 52 ), mengaku mengalami langsung perbedaan perlakuan tersebut di lingkungan keluarganya.

“Dari kecil saya sudah diajarkan bantu pekerjaan rumah, pergi jualan cari uang, sementara saudara laki-laki saya tidak pernah dituntut hal yang sama,” ujarnya.

Kondisi ini memperlihatkan adanya ketimpangan peran yang dianggap wajar oleh masyarakat. Bahkan, perempuan yang tidak memenuhi ekspektasi tersebut sering kali mendapat penilaian negatif.

Menurut Gender Studies, pembagian kerja berbasis gender dalam rumah tangga merupakan bentuk konstruksi sosial yang terus direproduksi melalui kebiasaan dan nilai budaya.

Selain itu, pemikiran dari Sylvia Walby menjelaskan bahwa patriarki bekerja melalui struktur sosial, termasuk dalam institusi keluarga, yang menempatkan perempuan pada posisi subordinat.

Dampaknya tidak hanya pada beban fisik, tetapi juga pada kondisi psikologis perempuan yang harus menjalankan peran ganda tanpa pengakuan yang setara. Banyak perempuan merasa tidak memiliki ruang untuk menolak karena tekanan norma yang sudah mengakar kuat.

Meskipun kesadaran akan kesetaraan mulai berkembang, praktik di lapangan menunjukkan bahwa perubahan berjalan lambat. Hal ini disebabkan oleh kuatnya legitimasi budaya yang membuat ketimpangan tersebut dianggap sebagai sesuatu yang normal.

Ketimpangan dalam pembagian kerja rumah tangga menunjukkan bahwa patriarki masih hidup dalam kehidupan sehari-hari. Selama nilai-nilai tersebut terus diwariskan tanpa kritik, kesetaraan antara laki-laki dan perempuan akan sulit terwujud, bahkan di ruang paling dekat sekalipun, yaitu keluarga.

Penulis: Vitroh Muqti Masitoh

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama