Perempuan hari ini semakin banyak hadir di berbagai bidang pekerjaan yang sebelumnya dianggap sebagai ranah laki-laki. Mulai dari pengemudi ojek online hingga montir bengkel, mereka menunjukkan bahwa kemampuan tidak ditentukan oleh jenis kelamin, melainkan oleh kemauan dan keterampilan. Kehadiran mereka bukan hanya soal bekerja, tetapi juga tentang membuktikan bahwa batas-batas sosial yang selama ini ada dapat ditembus.
Namun, realitas di lapangan tidak selalu berjalan mulus. Banyak perempuan masih harus menghadapi pandangan meragukan dari masyarakat. Hal ini dialami oleh Rika, seorang driver ojek online perempuan. Meskipun ia memiliki target kerja yang jelas dan semangat untuk mandiri, ia sering mengalami penolakan dari penumpang.“Satu jam itu bisa lima di-cancel. Itu sudah benar-benar kesal, mau nangis, campur aduk, semuanya lah,” kata Rika. (mojok.co/liputan/ragam/tantangan-jadi-driver-ojol-perempuan-di-jakarta/)
Penolakan tersebut sering kali bukan karena kualitas pelayanan, tetapi karena identitasnya sebagai perempuan. Ia bahkan pernah mendapatkan pelanggan laki-laki yang mengeluh karena tidak terbiasa dibonceng oleh perempuan.
“Misalnya ada yang berpandangan kalau driver cewek itu nggak bisa ngebut, nggak bisa cepat, pokoknya mereka sudah underestimate driver cewek duluan,” ujarnya.
Pandangan seperti ini menunjukkan bahwa perempuan masih sering dihadapkan pada stereotip, terutama dalam pekerjaan yang membutuhkan keberanian, kecepatan, atau keterampilan teknis. Perempuan tidak hanya dituntut untuk bekerja, tetapi juga harus menghadapi keraguan yang tidak dialami oleh sebagian laki-laki dalam posisi yang sama.
Namun di sisi lain, realitas yang berbeda justru terlihat di berbagai daerah. Dalam budaya misalnya, perempuan dikenal sebagai sosok yang kuat dan memiliki peran penting dalam mengelola harta serta kehidupan keluarga. Di banyak wilayah pedesaan Indonesia, perempuan juga terbiasa menjalankan pekerjaan berat seperti bertani, berdagang, hingga menjadi tulang punggung ekonomi keluarga.
Fenomena ini menunjukkan adanya kontradiksi sosial: di satu sisi perempuan dianggap lemah dalam pekerjaan tertentu, tetapi di sisi lain mereka justru telah lama membuktikan kekuatan dan ketangguhannya. Artinya, persoalan utama bukan terletak pada kemampuan, melainkan pada cara pandang yang belum sepenuhnya berubah.
Hal yang sama juga terlihat dari munculnya bengkel “Srikandi” (Sumber tik tok), di mana para montirnya adalah perempuan. Kehadiran mereka menjadi bukti nyata bahwa pekerjaan teknis seperti memperbaiki kendaraan bukanlah milik satu gender saja. Dengan ketelitian dan keterampilan yang mereka miliki, para perempuan ini mampu menjalankan pekerjaan yang selama ini didominasi laki-laki.Kondisi ini memperlihatkan bahwa perubahan peran perempuan sebenarnya sudah terjadi, tetapi belum sepenuhnya diikuti oleh perubahan cara pandang masyarakat. Banyak perempuan masih harus bekerja lebih keras untuk mendapatkan kepercayaan yang sama. Mereka tidak hanya dituntut untuk mampu, tetapi juga harus terus membuktikan diri di tengah keraguan yang sudah terlanjur melekat.
Pada akhirnya, ketika perempuan diberi ruang dan kesempatan yang setara, mereka tidak hanya mampu menjalankan pekerjaan, tetapi juga mampu mengubah cara masyarakat memahami arti kekuatan, ketangguhan, dan profesionalitas dalam dunia kerja.
Penulis: Dewi Kumala Sari

