Kesetaraan gender masih menjadi isu krusial di tengah masyarakat modern. Meski berbagai upaya telah dilakukan, perempuan masih menghadapi beragam bentuk ketimpangan, mulai dari akses di lingkungan sosial, pendidikan, hingga perlakuan di lingkungan pekerjaan. Kondisi ini menunjukkan bahwa perjuangan menuju kesetaraan belum sepenuhnya tercapai.
Saat ini, semakin marak isu kesetaraan antara laki-laki dan perempuan yang kini lebih populer disebut dengan kesetaraan gender atau gender equality. Permasalahan ini terjadi ketika adanya ketimpangan keadaan antara kedudukan antara laki-laki dan perempuan. Misalnya dengan adanya perbedaan peran, atribut, sifat, sikap dan perilaku yang tumbuh dan berkembang dalam kelompok sosial masyarakat.
Disadari atau tidak, realitanya masih banyak ketidaksetaraan gender yang terjadi dan dialami di lingkungan kerja. Bentuk ketidaksetaraan gender ini bisa ditemui dalam hal-hal yang terkesan “sepele” di tempat kerja.
Padahal, pemenuhan hak, kesempatan dan perlakuan adalah hak yang setara diterima oleh setiap perempuan dan laki-laki. Oleh karenanya, setiap individu bebas mengembangkan kemampuan pribadi dan memilih, tanpa dibatasi stereotip dan prasangka tentang peran gender.
Contohnya terjadi pembatasan pilihan pekerjaan dan jabatan untuk laki-laki dan perempuan. Hal ini biasa ditemukan dalam beberapa bidang atau level yang hanya menyudutkan satu gender tertentu saja, sehingga kesempatan berkembang di lingkungan kerja bagi laki-laki dan perempuan tidak sama. Tidak hanya mengacu pada level jabatan, Perempuan seringkali dirugikan karena besarnya kasus sexual harassement yang ditujukan kepadanya baik itu secara verbal maupun non verbal. Hal ini dapat menyebabkan perempuan memiliki tingkat stress yang lebih tinggi dari pada laki laki. Perempuan juga cenderung mengalami beberapa gangguan kesehatan mental secara bersamaan, misalnya depresi yang disertai dengan kecemasan, agorafobia (perasaan tidak aman), gangguan panik, gangguan somatoform (gejala penyakit fisik atau nyeri yang tidak dapat didiagnosis sepenuhnya), dan gangguan stres pasca trauma (PTSD).
Berbagai gerakan dan kampanye kesetaraan gender kini mulai menunjukkan dampak positif. Semakin banyak perempuan yang berani menyuarakan haknya dan terlibat dalam pengambilan keputusan. Namun demikian, perubahan pola pikir masyarakat tetap menjadi kunci utama dalam mewujudkan kesetaraan yang sesungguhnya.
Kesetaraan gender bukan hanya tentang perempuan, melainkan tentang menciptakan keadilan bagi semua. Dengan memberikan kesempatan yang sama, perempuan dapat berkontribusi secara maksimal dalam pembangunan, sehingga tercipta masyarakat yang lebih inklusif dan berkeadilan.
Penulis: Fana Manora