Ketika Stoisisme Menjadi Tren: Salah Tafsir yang Mengancam Kesehatan Mental Generasi Z

 

Photo by Malcolm Broström on Unsplash

"People will take your kindness for granted."

Pernyataan serupa mungkin pernah muncul di beranda TikTok atau Instagram Anda. Biasanya ditampilkan dengan iringan musik yang tenang, memperlihatkan seseorang yang berjalan sendiri, diakhiri dengan tagar #stoicism, #marcusaurelius, atau #selfimprovement. Tak jarang, muncul juga kalimat lain seperti "Never show your emotions", "Detach from everyone", atau "Your silence is your power".

Seiring waktu, pesan yang diterima mulai terlihat jelas: jika ingin menjadi kuat, bersikaplah dingin. Jangan terlalu peduli kepada orang lain. Hindari menunjukkan perasaan.

Permasalahannya, banyak dari pesan tersebut bukanlah inti dari Stoisisme.

Dalam beberapa tahun terakhir, Stoisisme memang telah menjadi salah satu filsafat yang paling diminati di platform media sosial. Kutipan dari Marcus Aurelius, Seneca, dan Epictetus telah dibagikan dalam jumlah yang luar biasa dan disajikan dalam format konten pendek yang mudah dicerna. Di tengah meningkatnya perhatian terhadap kesehatan mental, fenomena ini sebenarnya patut untuk diapresiasi. Setidaknya, filsafat kembali menjadi bagian dari diskusi publik.

Namun, popularitas sering kali datang bersama penyederhanaan. Media sosial beroperasi dengan logika yang menekankan konten singkat, emosional, dan mudah untuk dibagikan. Sebagai akibatnya, pemikiran yang muncul dari refleksi mendalam pada akhirnya dipotong menjadi slogan-slogan motivasi yang terdengar bijaksana, tetapi kehilangan makna. Stoisisme pun perlahan-lahan bertransformasi dari sebuah cara hidup menjadi sekadar estetika konten.

Ironisnya, yang paling banyak menjadi viral justru bukan ajaran Stoik itu sendiri, melainkan tafsiran modern yang mencampur Stoisisme dengan budaya self-help, grind culture, hingga narasi alpha atau sigma male. Ketenangan dipahami sebagai sikap tidak acuh. Mengendalikan emosi dipahami sebagai menahan perasaan. Mempertahankan ketahanan berubah menjadi menarik diri dari orang lain.

Padahal, ajaran Stoisisme tidak pernah mengajarkan manusia untuk berhenti merasakan sesuatu.

Salah satu konsep inti dari Stoisisme adalah membedakan antara apa yang dapat kita kontrol dan apa yang tidak. Pikiran, keputusan, dan tindakan adalah tanggung jawab kita sendiri. Sebaliknya, opini orang lain, hasil akhir, dan keadaan yang berada di luar diri kita bukanlah hal-hal yang sepenuhnya ada dalam kendali kita. Tujuan Stoisisme bukanlah untuk membuat individu menjadi kebal terhadap perasaan, melainkan untuk membantu mereka bereaksi terhadap hidup dengan cara yang lebih bijaksana.

Bahkan, Marcus Aurelius sering mengingatkan bahwa manusia sebenarnya diciptakan untuk saling bekerja sama dan membantu satu sama lain. Ini berarti, Stoisisme tidak pernah mengajak orang untuk bersikap acuh tak acuh atau memutus hubungan emosional dengan sesama. Yang diajarkan adalah bagaimana menjaga nilai-nilai moral dan ketenangan dalam batin tanpa kehilangan rasa kemanusiaan.

Sayangnya, ketika pesan di platform sosial media hanya mengedepankan aspek "jangan peduli" atau "jadilah kebal", makna dari Stoisisme mulai bergeser. Mengelola emosi sering disalahartikan sebagai menekan emosi. Kesedihan dipandang sebagai kelemahan. Meminta pertolongan dianggap menurunkan gengsi. Banyak orang merasa harus selalu menunjukkan kekuatan, meskipun di dalam diri mereka tersimpan emosi yang belum sepenuhnya diproses.

Di sinilah masalahnya muncul. 

Generasi Z hidup di tengah berbagai tekanan yang cukup berat. Persaingan di sekolah, ketidakpastian tentang masa depan, tuntutan untuk selalu produktif, dan budaya perbandingan diri di media sosial membuat banyak anak muda mencari pegangan hidup. Ketika konsep Stoisisme menawarkan solusi yang tampak sederhana seperti "jangan peduli", maka tidak mengherankan jika banyak yang merasa itu adalah jalan keluarnya.

Padahal, kesehatan mental tidak bisa dibangun dengan cara mengabaikan emosi yang ada.

Kedewasaan tidak identik dengan kemampuan untuk menghadapi segala sesuatu sendirian. Sebaliknya, memahami perasaan yang kita alami, mengakui hal tersebut, dan memilih cara untuk merespons adalah bagian dari ketahanan mental yang sehat.

Oleh karena itu, isu yang kita hadapi saat ini bukanlah tentang Stoisisme. Isunya lebih kepada bagaimana media sosial mengubah filsafat menjadi kutipan-kutipan motivasi yang kehilangan makna yang mendalam. Ketika refleksi diganti dengan slogan-slogan, filsafat kehilangan esensinya sebagai praktik hidup dan bertransformasi menjadi sekadar konten biasa.

Mungkin yang perlu kita lakukan bukan berhenti membaca Stoisisme, melainkan berhenti mengkonsumsinya secara instan. Sebab, filsafat tidak pernah menawarkan jalan pintas. Ia mengajak kita untuk berpikir lebih mendalam, memahami diri dengan lebih tulus, dan menerima bahwa menjadi manusia berarti tetap merasakan emosi tanpa harus terperangkap oleh emosi tersebut.

***

Penulis: Aqilah Nafisah Primadi, Mahasiswi Program Studi Psikologi, Universitas Pendidikan Indonesia

Penyunting: Merlyn Valencia Sekarwangi

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama